Lupa Sandi?

Dago Dahulu Kala

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Dago Dahulu Kala

Jalan-jalan ke Bandung rasanya tidak lengkap kalau belum menikmati kenyamanan kawasan Dago. Daerah yang berada di kawasan Bandung Utara ini memang terkenal adem, asri, dan macet juga. Lima tahun lalu ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Bandung, kawasan Dago tidak seindah dan nyaman seperti sekarang.

Ya, baru-baru ini daerah Jalan Ir. H. Juanda bersolek terutama bagian trotoar dan lampu jalannya yang membuat kawasan Dago jadi asyik untuk tempat jalan-jalan. Lima tahun lalu, kawasan ini tampak sekali ruwetnya dengan trotoar yang tidak ketara, lampu jalan yang biasa saja, dan kadang masih tampak kotor di beberapa sudut.

Itu lima tahun lalu. Sedangkan sekitar 100 tahun lalu, kawasan Dago sebenarnya adalah kawasan hutan belantara.  Kalau sekarang Dago menjadi jantungnya Kota Bandung, justru pada akhir abad ke-19 Dago adalah kawasan terpencil. Dulu di sini ada sebuah kampung kecil bernama Kampung Banong yang mulai dikenal sejak ada seorang juragan kopi bernama Andre van der Burn yang mendirikan rumah di sana untuk beristirahat. Pun, meski terpencil, tapi sebenarnya Dago adalah jalur yang harus dilewati oleh orang-orang dari kawasan Bandung Utara jika akan pergi ke pasar, entah untuk belanja atau berdagang.

Konon, kawasan ini disebut "Dago" karena berasal dari kegiatan saling tunggu yang sering dilakukan oleh warga Bandung Utara. Kegiatan ini dalam bahasa Sunda disebut dengan "silih dagoan" atau saling tunggu sebelum pergi ke daerah utara dan selatan. Kegiatan ini dirasa perlu dilakukan karena pada saat itu kawasan Dago banyak begal dan rampoknya sehingga penduduk yang hendak pergi maupun pulang dari pasar harus melewati kawasan ini rame-rame.

Baca Juga
Ilustrasi kawasan Dago pada masa lampau
Ilustrasi kawasan Dago pada masa lampau

Kawasan yang dibangun sepenuh hati

Sejak awal, Belanda juga sudah jatuh cinta dengan Bandung sampai-sampai ingin memindahkan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung. Oleh karenanya, Bandung begitu serius dibangun oleh mereka. Pembangunan kawasan Dago, salah satunya, dibangun mengikuti sebuah perencanaan kota yang disebut dengan Uitbreidingsplan Bandoeng Noord yang dirancang oleh AIA Bureau.

Sejak Andre van der Burn membangun rumah peristirahatannya, Dago terus dibangun dan dikembangkan. Pada tahun 1910, pemerintah Gemeente Bandung memperluas wilayah administrasinya ke arah utara. Kemudian para penduduk juga mulai membuka perkebunan dan sawah, membangun jalan Dago sampai ke hutan di kawasan Dago Pakar, hingga pembangunan pengolahan air minum dan pembangkit listrik tenaga air di bukit di Dago atas. 

PLTA Bengkok menjadi PLTA tertua di Bandung (foto: mooibandung)
PLTA Bengkok menjadi PLTA tertua di Bandung (foto: mooibandung)

Nah, ketika membangun Bandung, kawasan Bandung Tengah dijadikan sebagai pusat pemerintahan, perkantoran, dan perdagangan. Sementara, kawasan Bandung Utara yang dikenal dengan sebutan Dagostraat atau Dagoweg dibangun dengan fungsi hunian, pendidikan, dan kesehatan. Maka, tak heran lagi kalau kawasan Dago sekarang banyak kita jumpai outlet-outlet busana, villa, sekolah, perguruan tinggi, dan rumah dengan konsep nan unik. Beberapa tempat tertua di kawasan Dago adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), Rumah Sakit Santo Borromeus, dan Dago Tea House.

Di kawasan ini pula ada banyak tempat rekreasi yang dibangun sejak zaman kolonial Belanda. Di antaranya adalah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Dulunya Tahura merupakan taman raya terbesar yang pernah dibangun oleh Belanda. Taman ini merupakan hutan lindung yang bernama Hutan Lindung Gunung Pulosari, dibangun pada 1912 bersamaan dengan pembangunan terowongan air aliran Sungai Cikapundung.

Hingga masa kemerdekaan Indonesia tahun 1945, kawasan Dago tetap menjadi kawasan hunian dengan kondisi keasrian yang tetap terjaga hingga akhir tahun 1960. Kemudian pada tahun 1987 dibangunlah bangunan supermarket Gelael (sekarang Superindo) yang menjadi penanda era komersil kawasan Dago.

 

Salah satu tempat yang cukup unik dan menarik dari Dago soal masa lalunya adalah Dago Tea House atau pada zaman Belanda disebut dengan Dago Thee Huis. Dulu tempat ini adalah sebuah restoran tempat para noni-noni Belanda dan meneer Preangerplanters menikmati teh dan kuliner. Dago Tea House berada di kawasan Dago pada ketinggian 600 meter di atas permukaan laut.

Dago Tea House dulu menjadi tempat favorit Belanda untuk menikmati minum teh
Dago Tea House dulu menjadi tempat favorit Belanda untuk menikmati minum teh

Konon kawasan ini dipilih karena para pengunjungnya bisa menikmati teh sembari memandang pemandangan Kota Bandung yang indah. Selain itu, para petinggi Belanda datang ke Dago Tea House juga bertujuan untuk memilih teh terbaik dari seluruh Priangan untuk dijadikan komoditas unggulan.

Sekarang kawasan Dago Tea House telah diubah fungsinya menjadi Taman Budaya Provinsi Jawa Barat. Di sini sering digelar pentas kesenian dan budaya Sunda dan dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemda Provinsi Jawa Barat. Gedung utama yang dulu menjadi restoran Dago Tea House kini digunakan sebagai Arena Panggung Terbuka yang memiliki kapasitas 1200 penonton. Selain itu dibangun pula teater taman, galeri pameran yang dikenal dengan "Roemah Teh", sanggar seni tari, dan perpustakaan di sini.


Sumber: bandungtempodulu | unikom.ac.id

Pilih BanggaBangga67%
Pilih SedihSedih7%
Pilih SenangSenang7%
Pilih Tak PeduliTak Peduli7%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau13%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas