Kabar baik lagi-lagi datang dari anak negeri. Jika beberapa waktu yang lalu inovasi anak negeri sempat menyapa dunia internasional, sekarang ini bidang seni kontenporer Indonesialah yang menyapa dunia internasional. Seniman Indonesia Titin Wulia, menempati venue Arsenale pada Indonesia Pavilion Venice Art Biennale 2017. Pameran Art Biennale merupakan pameran seni rupa tertua di dunia, yakni pertama kali diselenggarakan pada 1895.

Menempati ruangan seluas 60 x 70 meter persegi, selama enam bulan ke depan akan ditampilkan karya anak bangsa satu ini berjudul ‘1001 Martian Homes’. Karyanya ini terispirasi dari sejarah lisan yang hampir punah. Titin menggrap narasi-narasi yang dikisahkan di masa depan, dimana ruang dan waktu hari ini adalah masa lalu.

Memeriahkan pameran seni rupa tertua di dunia, Indonesia menyajikan pameran ini secara bebarengan real time di dua negara, yakni Indonesia dan Italia. Jika di Italia pameran ini dihelat di pavilion kembar Arsenal Venisia, di Indonesia, pameran dihelat di Senayan City Jakarta. Namun tetap, exhibitor utamanya adalah Titin Wulia.

Salah satu karya Titin Wulia di Pameran Art Biennale 2017
Salah satu karya Titin Wulia di Pameran Art Biennale 2017

Pada Art Biennale kali ini, Titin menampilkan tiga karya, yakni Under the Sun, Not Alone, dan One Thousand and One Martian Homes. Seperti yang diungkapkan oleh Enin Supriyanto, salah satu pengarah seni pameran. “Seluruhnya – ketiga karya Titin – berwujud instalasi yang terhubung dengan pasangan kembar masing-masing di kedua kota di Indonesia dan Italia.

“Sebenarnya saya pernah membuat yang serupa di tahun 2011, mesin yang dibuat di dua tempat. Mesin kembar yang dihubungkan oleh internet dan bersifat interaktif. Jadi interaksi yang ada di mesin kontrol akan berefek pada mesin remot,” jelas Titin.

Namanya terpilih karena kiprah internasional yang tak perlu diragukan lagi. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) menunjuk perempuan lulusan jurusan Arsitektur Universitas Parahyangan ini untuk menampilkan seni instalasinya di acara Art Binnale 2017. Selain itu, namanya juga tak asing lagi di pameran Art Biennale pada tahun-tahun sebelumnya. Tercatat tahun 2005 karya Titin mulai ikut memeriahkan Istanbul Biennale, kemudian Jakarta Biennale 2009, Moscow Biennale 2013, dan kali ini Venice Biennale 2017.

salah satu karya Titin Wulia
salah satu karya Titin Wulia

Triawan Munaf selaku Kepala Bekraf RI mengungkapkan bahwa pameran tersebut tidak bersifat statis, namun berlangsung secara interaktif setiap hari mulai 10 Mei sampai 26 November 2017. Pada momen tersebut, dilakukan komunikasi interaktif antara kedua negara di masing-masing lokasi. Sepanjang enam bulan pameran pun, pengunjung Indonesia bisa melihat apa yang dilakukan pengunjung pameran Venesia, begitu juga sebaliknya.

Triawan juga mengungkapkan, perwakilan Indonesia di Venisia kali ini menghadirkan karya-karya yang berbau teknologi dan internet. “Karya-karya Titin menyampaikan pesan relevan mengenai perubahan kebudayaan global, ketika internet dan teknologi efektif mempengaruhi ruang dan batas fisik geografis,” jelasnya pada pembukaan pameran di Senayan City, Jakarta, Rabu, 10 Mei kemarin.

Pernah menekuni dunia videografi

Titin Wulia
Titin Wulia

Perempuan kelahiran Bali 23 November 1972 ini menempuh pendidikan jurusan Arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan, bukan hanya itu, masih dalam periode yang sama perkuliahannya di Bandung, ia juga mendapat pendidikan Berklee College of Music, Amerika. Tak berhenti sampai di situ, ia melanjutkan menempuh gelar PhD-nya di RMIT University, Australia pada 2007-2014. Kemudian selama dua tahun ia menerima Australia Council for the Arts Creative Australia Fellowship pada 2014-2016.

Menilik jejak pendidikan perempuan berprestasi satu ini, jelas saja bahwa kemampuan Titin tidak hanya terpaku pada dunia seni rupa, melainkan seni music dan juga videografi. Sebelum dikenal public melalui pameran kolektif, sejak awal 2000-an, aktif di dunia videografi. Ia juga mendirikan ruang alternative khusus film pendek yang diberi nama MiniKino. Banyak diantaranya karya Titin yang merupakan refleksi dari berbagai ragam isu perbatasan dengan sentuhan pendekatan critical geopolitics. Ia juga rajin menggunakan berbagai media untuk menyertakan permaianan dan interaktivitas dalam karyanya. Hingga kini, namanya menjadi salah satu seniman lokal yang mendunia.


Sumber: Diolah dari berbagai sumber

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu