Bidang kesehatan saat ini sedang mengalami tantangan serius dalam menangani masalah infeksi. Sebab sejak ditemukannya antibiotik, patogen menjadi resisten dan semakin kuat. Akibatnya, kasus-kasus yang melibatkan bakteri Staphylococcus aureus dan Salmonella typhi semakin sulit untuk di sembuhkan. Permasalahan inilah yang kemudian mendorong seorang mahasiswi Departemen Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), Astri Restu Pangestika untuk menemukan antibiotik alami yang mampu menangkal patogen.

Sebagaimana rilis yang diterima GNFI dari Humas IPB, Astri melakukan penelitian minyak atsiri untuk pembuatan obat herbal dengan bahan dasar daun rasamala (Altingia excelsa Noronha). Caranya adalah dengan mengekstraksi jaringan tumbuhan lewat proses penyulingan yang kemudian menghasilkan minyak. Penyulingan minyak atsiri daun rasamala dilakukan dengan metode kukus. Kemudian saat minyaknya sudah dihasilkan ditempatkan pada botol kaca dan ditutup rapat untuk menghindari adanya oksidasi.

Dijelaskan bahwa minyak atsiri daun rasamala mengandung senyawa monoterpen dan sesquiterpen yang berpotensi sebagai antibiotik alami. Selain itu minyak atsiri rasamala juga memiliki daya toksisitas rendah dan relatif ekonomis. Beberapa studi sebelumnya juga menunjukkan bahwa minyak atsiri mempunyai kemampuan melawan bakteri, virus, jamur, dan bersifat antioksidan serta mampu menjadi biopestisida.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Astri, aktivitas antibakteri pada minyak atsiri daun rasamala dapat diketahui dengan terbentuknya zona hambat. Sebagian besar (80 persen) minyak atsiri daun rasamala tersuling pada satu jam pertama penyulingan dengan rendemen total 0,29 persen pada satu jam penyulingan, kemudian setelah tiga jam penyulingan minyak tidak lagi diperoleh. Minyak atsiri yang memiliki aktivitas antibakteri terkuat terhadap Staphylococcus aureus dan cukup kuat terhadap Salmonella typhi terdapat pada minyak atsiri daun rasamala yang disuling selama 1 dan 2-3 jam.

Hasil penemuan ini semakin memperkuat kesan terhadap pohon rasamala yang memiliki banyak manfaat. Selain memiliki nilai ekonomi tinggi karena kayunya yang kuat, pohon ini juga menghasilkan damar yang berbau harum dan menjadi capuran pengharum. Daunnya yang masih mudah berwarna merah kerap digunakan dalam makanan dan juga obat batuk. Di era kolonial, kayu pohon rasamala banyak digunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti jembatan dan rel kereta.

Pohon rasamala sendiri merupakan pohon yang tumbuh di sekitar selatan dan tenggara benua Asia. Penyebarannya meliputi Kamboja, India, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Thailand dan Filipina. Di Indonesia pohon ini banyak ditemukan di Jawa Barat dan mampu tumbuh menjadi pohon raksasa dengan tinggi mencapai 40 sampai 60 meter.  Saat ini pohon rasamala cukup langka karena sudah sangat berkurang jumlahnya.


Sumber: Humas IPB

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu