Muda, berkarya, lestarikan budaya. Tiga hal ini bisa menjadi representasi yang cocok untuk menggambarkan sosok Adien Gunarta, pemuda asal Probolinggo kelahiran 15 Januari 1995 ini. Betapa tidak, diusianya yang masih cukup muda dengan kecintaan yang begitu besar terhadap budaya, khususnya Aksara Jawa, ia telah berhasil menerbitkan sebuah buku kumpulan cerpen berbahasa Indonesia yang ditulis dengan menggunakan aksara Jawa. Buku berjudul “Kiambang” ia dedikasikan sebagai salah satu bentuk kepeduliannya terhadap buku – buku beraksara Jawa yang mulai jarang keberadaannya.

Lahir dan besar di Pulau Jawa, Adien jatuh cinta dengan dengan Aksara Jawa. Baginya, aksara Jawa memiliki bentuk yang sangat indah dan asli, serta terasa begitu lekat dengan bentang alam Indonesia. “Sangat timur. Ketika saya melihat aksara Jawa, saya serasa melihat sulur – sulur, bunga, dan buah – buahan,”cerita mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya ini.

Selain itu, ia juga tertarik dengan aksara Thailand yang ia temukan dalam buku dan koran pemberian kakaknya. Seiring dengan kekagumannya membuat ia berpikir, mengapa Indonesia tidak bisa seperti itu? Negeri ini memiliki begitu banyak suku bangsa dengan beragam bahasa daerah, termasuk aksara – aksaranya. “Kemana buku – buku beraksara Jawa atau aksara – aksara daerah lainnya?” tuturnya.  Sebuah kutipan dari Austin Kleon kemudian menjadi pengingat untuk dirinya: Write the book you want to read.

Adien Gunarta
Adien Gunarta

Dari sanalah, Adien mulai tergerak untuk membuat sebuah buku yang menjadi wadah baginya untuk melestarikan eksistensi aksara Jawa di tengah – tengah masyarakat. 13 cerita pendek yang ia tulis sejak SMA kemudian ia alihbahasakan kedalam aksara Jawa yang tertuang dalam buku berjudul “Kiambang.”  Bisa dikatakan bahwa.  Karya ini adalah sesuatu yang menarik dan berbeda dari karya – karya umumnya, sebab Adien menawarkan kebaruan dan pembauran, dimana cerita yang dimuat adalah cerita dalam Bahasa Indonesia yang ditulis dalam aksara Jawa.

“Banyak yang agak keberatan dengan karya saya ini, namun kalau melihat sejarah, aksara Jawa memang pernah digunakan untuk menulis bahasa – bahasa  selain Bahasa Jawa, termasuk Bahasa Melayu,”jelasnya. Selain itu, Adien juga mengungkapkan bahwa sejatinya ia ingin menulis ceritanya dalam Bahasa Jawa, namun terkendala karena dirinya masih belum mahir berbahasa Jawa tulis, terutama bahasa tulis yang bersifat sastrawi.

Selain itu, konsep kebaruan dan pembauran yang dibawa Adien dalam “Kiambang” adalah dalam kaitannya dengan tatacara penulisan. Ortografi atau aturan ejaan yang ada di dalam karyanya adalah ejaan yang tidak lazim, berbeda dengan penulisan aksara Jawa untuk Bahasa Jawa.

Proses pembuatan “Kiambang” sendiri tidak semudah yang dibayangkan. Huruf – huruf Adjisaka yang ia olah sendiri lewat software komputer seringkali membutuhkan waktu yang cukup lama dalam pengerjaannya. 13 cerita pendek yang seluruhnya harus dialihhurufkan ke dalam aksara Jawa tentunya membutuhkan usaha yang cukup keras dengan konsistensi yang luar biasa. “waktu itu, sistem operasi Windows belum mendukung penulisan aksara Jawa. Jadi keseluruhan naskah diselesaikan dengan menggunakan mouse bukan keyboard. Bisa dibayangkan berapa ribu klik yang harus saya lakukan untuk membuat karakter huruf tersebut,” kenangnya.

Salah satu cerpen dalam
Salah satu cerpen dalam "Kiambang" (issuu.com)

Digagas seorang diri, Adien pun menerbitkan bukunya secara independen dengan dibantu beberapa temannya. Dibawah naungan sebuah penerbit independen yang berbasis di Yogyakarta, ia pun mencetak “Kiambang” sebanyak 120 eksemplar untuk diperjualbelikan. Biayanya pun ia rogoh dari koceknya sendiri. Mengenai alasan pemilihan nama “Kiambang” sebagai judul utama bukunya, pria yang hobi menulis dan menggambar tulisan ini menceritakan bahwa kata tersebut berasal dari salah satu judul cerpen yang ada di dalam bukunya, yang sangat ia sukai. “Kiambang saya ambil dari pepatah Melayu : biduk lalu, kiambang bertaut yang artinya perseteruan dua orang saudara bagaimana pun juga akan terselesaikan dan bersatu kembali,” tuturnya.

Bagai gayung bersambut, “Kiambang” cukup banyak menarik perhatian publik, terutama orang – orang yang meminati aksara dan budaya jawa serta aksara – aksara daerah lainnya. Adien semakin memperluas jaringannya dengan sesama pemerhati aksara daerah. Selain itu, ia pun mempublikasikan karyanya tersebut secara digital melalui situs penerbitan issuu.com.

Saat ini, tidak banyak orang yang memiliki perhatian khusus terhadap eksistensi aksara – aksara asli daerah sebagai bagian dari warisan kekayaan budaya bangsa ini. menerbitkan “Kiambang” adalah salah satu bentuk dari upaya Adien untuk mengajak orang – orang untuk ikut melestarikan aksara daerah sebagai bukti bahwa bangsa ini memiliki peradaban agung yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja.

“Saya harap, buku dengan aksara daerah semakin melimpah dan tersedia di pasaran. Orang bugis silahkan menulis dengan aksara Bugis. Orang Sunda silahkan menulis dengan aksara Sunda. Orang Batak silahkan menulis dengan aksara Batak. Sayang sekali kalau aksara – aksara daerah di Nusantara tidak lestari,” tutupnya.

*GNFI

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu