Lupa Sandi?

Tabung Beasiswa Bidikmisi, Mahasiswa Berprestasi asal UNY Ini Buka Toko Alat Bangunan Sendiri

Ilham Dary
Ilham Dary
0 Komentar
Tabung Beasiswa Bidikmisi, Mahasiswa Berprestasi asal UNY Ini Buka Toko Alat Bangunan Sendiri

BADANNYA yang relatif kecil namun kokoh dengan santai bernegosiasi dengan kuli bangunan. Mencari titik temu harga untuk sewa sebuah molen pengaduk semen di toko bangunan yang dimilikinya.

Sekilas, tak ada yang asing dari transaksi sehari-hari tersebut. Jika saja pemilik toko bangunan itu bukan Bondan Prakoso, sosok mahasiswa berprestasi yang baru lulus Februari 2017 lalu dari Universitas Negari Yogyakarta (UNY). Dan transaksi sewa molen tersebut terjadi di toko bangunan yang ia dirikan dari mengumpulkan uang beasiswa bidikmisi yang didapatnya.

Idenya membuat toko bangunan bermula dari keterdesakan ekonomi. Bondan yang lahir di Sleman, 29 Desember 1993, adalah anak keempat dari enam bersaudara. Ayahnya Riyanto (62) bekerja sebagai kuli bangunan. Sedang Sujinem (52), ibunya tak bekerja. Karena harus sibuk menjadi ibu rumah tangga mengasuh dua adiknya yang masih kecil.

"Dan waktu awal saya membuka toko bangunan itu, ayah lebih banyak di rumah karena tidak ada pekerjaan bangunan. Kondisi ekonomi sedang lesu," ungkapnya lirih.Kondisi tersebutlah yang membuatnya tergerak pada awal tahun 2015.

Bondan yang sedang menginjak semester 6 di Pendidikan Teknik Otomotif UNY, akhirnya menabung beasiswa bidikmisi yang berjumlah hanya 600 ribu sebulan. Sehingga nyaris, sehari-hari ia tak pernah jajan di kampus.

"Jika yang lain mungkin beasiswa itu dipakai beli hp, saya buat modal. Dan nyatanya kalau untuk kebutuhan juga tidak habis. Tapi kalau mengejar keinginan memang takkan pernah cukup," pesannya.

Awalnya Modal Jual Pernak-Pernik Setelah uang sedikit demi sedikit terkumpul, uang tersebut pada awalnya digunakan sebagai modal pernak-pernik. Pada saat itu, lilin elektrik dan lampu motif unik sedang laris di pasaran. Bondan yang melihat peluang kemudian turut serta berdagang hiasan tersebut.

Ia tidak membuat sendiri dagangan tersebut. Hanya kulakan dari importir yang banyak bertebaran di dunia maya, untuk dijualnya kembali di dunia maya. Motif unik yang dijualnya bermacam-macam. Salah satu motif yang paling laris, berbentuk hello kitty.

Hanya dari dagangan tersebut, Bondan bisa mengantongi untung sebesar 12 juta dalam waktu delapan bulan. Padahal, keuntungan tiap satu unit lampu hanya sekitar tiga ribu rupiah.

"Tapi karena saya iklankan di toko online dan saya juga sudah recommended seller, saya bisa patok orang pesan minimal 100 biji. Pembayaran juga ada Down Paynment. Jadi nyaris saya hanya memutar uang," ungkapnya bangga.

Walau demikian, tak selamanya bisnis Bondan berjalan lancar. Ada kalanya jumlah pembeli surut ketika ia sudah mengimpor beragam lampu unik tersebut. Lampu yang kemudian hanya tergeletak di Basecamp Garuda UNY, dititipkan untuk beberapa saat. "Disitulah kadang uang bidikmisi saya pakai. Buat nambahin, nombokin. Karena ada seretnya juga," kenangnya sedih.

Kelesuan tersebut kemudian berakhir dengan gulung tikarnya bisnis tersebut pada pertengahan 2015. Dimana kurs dollar melesat hampir 14.000. Bondan yang merasa margin keuntungan begitu tipis dan bahkan dalam beberapa saat merugi, kemudian menutup bisnis tersebut untuk selamanya. Mengalihkan semua modalnya untuk membeli alat toko bangunan.

Gagal Bisnis Lampu, Bondan Sukses Buka Toko Bangunan

Bondan bersama kawan-kawannya di toko bangunannya.
Bondan bersama kawan-kawannya di toko bangunannya.

GAGAL berbisnis pernak-pernik lampu, Bonda akhirnya memutuskan fokus di bisnisnya yang lain, membuka toko bangunan. Untungnya orangntuanya tidak keberatan ketika ia menyekat rumah keluarga untuk usahanya tersebut.

Hunian sederhana yang berada di Wedomartani tersebut kemudian dipisahkannya menjadi dua dengan kayu triplek tipis. Membuat beberapa ruang di bagian tepi jalan menjadi toko peralatan bangunan yang begitu sederhana.

Toko itu kemudian diberinama Pokoh Jaya Teknik. Dimana nama Pokoh, diambil dari nama desa tempatnya tinggal. Toko itu pertama kali dikelolanya seorang diri. Bermodal molen, alat pengaduk semen bekas yang dibelinya dari uang hasil berjualan lampu.

Saat Bondan membuka toko ini pertama kalinya pada awal tahun 2015, bisnis lampu unik masih berjalan lancar."Jadi biasanya uang ini yang terus berputar. Kadang uang hasil sewa molen saya pakai buat bakulan lampu, karena sedang laris-larisnya," ungkap Bondan.

Molen tersebut kemudian disewa oleh pekerja konstruksi di sekitaran desanya. Tanpa disangka, bisnis itu menggeliat pelan tapi pasti hingga ia mampu membeli berbagai peralatan baru yang lebih besar. Mulai dari pemadat tanah, pemadatan paving, alat cor, hingga penghancur tembok.

Termasuk, mobil pick-up yang digunakan untuk mengantar Alat alat tersebut kemudian disewakan maupun dijualnya kembali dengan margin untung yang cukup baik. Semua pembelian alat tersebut dilakukan Bondan dengan memutarkan pendapatannya.

Dimana uang yang diterimanya meningkat pesat seiring gencarnya konstruksi yang ada di Kabupaten Sleman. "Permintaan melesat karena Sleman lagi banyak pembangunan," ungkapnya dengan raut muka gembira.

Kemampuannya membuka toko bangunan karena tidak sepeserpun laba digunakannya untuk berfoya-foya. Sebagian uang keuntungan yang diambilnya hanya digunakan untuk membantu kehidupan orang tua dan kedua adiknya.

Ia bersama dengan ketiga kakaknya yang sudah bekerja kemudian memikul kewajiban tersebut bersama. "Jadi fantastic four beraksi. Jadi berempat menghidupi keluarga dan dua adik. Kewajiban bagi rata dan tidak ada yang merasa terbebani," ungkapnya.

Dari kesuksesan tersebut, ia kini memiliki lima pegawai yang salah satunya sarjana. Kebanyakan dari pegawai tersebut, ialah teman-temannya satu jurusan semasa bersekolah di SMK 2 Yogyakarta. Rekrutmen tersebut dilakukannya karena selain ia membutuhkan pegawai, dirinya juga merasa sedih melihat kawannya yang terkena PHK dari perusahaan produsen traktor di daerah Jalan Magelang.

"Disitulah saya merasa ada panggilan hati. Saya ajak ikut disini," kenangnya.Ketika bisnisnya meluas dan ia butuh ruang untuk menyimpan berbagai peralatan bangunan yang dimilikinya, seorang guru TK masa kecilnya justru meminjamkan gudang secara gratis.

Kisah itu bermula ketika ia hendak menyewa rumah untuk gudang. Seberang rumahnya, ada sebuah rumah tak berpenghuni yang menurutnya cocok menjadi gudang. Datanglah Bondan kemudian untuk menghadap guru TK yang berstatus sebagai pemilik rumah. Tanpa disangka, Bondan akhirnya dibiarkan menggunakan rumah tersebut secara gratis.

Sang guru membiarkan Bondan memanfaatkan rumah tersebut selama dua tahun secara cuma-cuma. "Karena beliau tahu dan senang melihat kondisi saya. Digratiskan dua tahun. Kalau bisnis sudah oke saja baru bayar," ungkapnya.

Walau Bondan banyak menghabiskan waktunya berdagang dan mencari nafkah, bukan berarti prestasinya di bangku kuliah menurun. Dengan semangat kerja keras yang ditempa sulitnya ekonomi, Bondan menjadi cendekia sejati yang tak kenal lelah belajar.

Perjuangan itu  kemudian mengantarkannya lulus cumlaude lengkap dengan prestasi sebagai Juara 2 Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional 2016 yang tak jarang berkeliling dunia.

Simak kisah Kapten Mobil Garuda UNY ini selanjutnya disini:  Bermula dari 'Ngeyelan', Bondan Prakoso Jadi Kapten dan Bawa Tim Mobil Garuda UNY Juara Dunia

(Ilham Dary Athalah/Maylatul Aspiya)


Sumber: http://krjogja.com/web/news/read/32691/Tabung_Beasiswa_Bidikmisi_Mahasiswa_UNY_Ini_Buka_Toko_Alat_Bangunan

http://krjogja.com/web/news/read/32692/Gagal_Bisnis_Lampu_Bondan_Sukses_Buka_Toko_Bangunan

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli33%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ILHAM DARY

Baik hati, suka menolong, rajin menabung about.me/ilhamdatha ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas