Lupa Sandi?

Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Tetap Berkarya, Sebuah Kisah Inspirasi dari KoleksiKikie

Bagus Ramadhan
Bagus Ramadhan
0 Komentar
Menjadi Ibu Rumah Tangga yang Tetap Berkarya, Sebuah Kisah Inspirasi dari KoleksiKikie

Dipercaya menjadi seorang ibu adalah dambaan hampir semua perempuan. Terlebih lagi bila dapat mengurus dan melihat perkembangan anak setiap hari secara langsung. Tugas seorang ibu begitu besar di rumah hingga terkadang si ibu rela melepaskan pekerjaannya demi peran total sebagai ibu. Namun menjadi seorang ibu rumah tangga tak membuat Riski Hapsari berhenti berkarya. Lewat kreasi jari jemarinya, sebuah brand aksesoris, KoleksiKikie pun lahir.  

Riski atau yang kerap disapa Kikie sebelum memulai usaha, dirinya adalah pekerja kantoran. Namun akhirnya memutuskan untuk resign setelah kondisi tubuhnya yang kurang fit setelah operasi melahirkan anak pertamanya. Menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak tidak membuat semangat Kikie untuk berkarya padam. Dirinya kemudian merintis Koleksikikie dan hingga kini, sepuluh tahun sudah Koleksikikie berjalan.

Jika dirunut ke belakang, cikal bakal Kikie berbisnis aksesoris berupa kalung, gelang, dan lain-lain, sebenarnya mulai tumbuh di bangku Sekolah Menengah Pertama. Saat itu, Kikie yang menjabat sebagai ketua OSIS menggalang dana untuk kegiatan sekolah bersama teman-temannya. Setelah berembuk, akhirnya mereka sepakat untuk menjual aksesoris dari rangkaian manik-manik yang dikreasikan sendiri. Tak disangka, aksesoris yang dibuatnya ternyata cukup laku dan banyak peminatnya.

Seiring dengan banyaknya kegiatan, usaha ini pun tak dilanjutkan. Namun kecintaannya pada aksesoris memang tidak padam. Baru pada 2006, dirinya mulai lagi berkreasi usai mengikuti kelas membuat aksesoris dari sebuah tabloid di Surabaya. Berbekal skill yang didapat dari pelatihan tersebut, ditambah kreatifitas dan rasa ingin tahu yang tinggi, Kikie pun merintis usahanya dengan nama Koleksikikie pada 2007. Saat itu hanya mulai menawarkan hasil karyanya pada teman-teman dan orang terdekat. Setelah 3 bulan berlalu, akhirnya Kikie marasa penjualannya menurun lantaran hampir semua temannya sudah membeli aksesoris yang dia jual.

Baca Juga

Dengan kondisi masih memiliki seorang bayi, Kikie sadar betul kalau kemampuannya terbatas. Akhirnya dirinya melihat peluang untuk memasarkan produknya secara online.

“Saat itu masih jarang penjual produk handmade dan cara ini juga memudahkan saya yang baru punya baby. Secara online, saya bisa memasarkan produk aksesoris tanpa harus keluar rumah,” cerita alumnus akuntansi Universitas Airlangga ini.

Pada bulan Agustus 2007, dirinya mulai menjual produknya secara online lewat Multiply. Namun saat itu melakukan jual beli secara online juga belum terlalu populer di Indonesia. Dia merasakan betul bagaimana para konsumen cenderung tidak percaya dengan transaksi online. Lucunya, suatu kali pelanggannya pernah meminta dikirimkan foto rumah Kikie, lantaran tidak percaya. Ada-ada saja!

Kerajinan produk Koleksikikie (Foto: koleksikikie / instagram.com)
Kerajinan produk Koleksikikie (Foto: koleksikikie / instagram.com)

Namun berkat usaha yang konsisten dan terus mengasah kreatifitas, Koleksikikie kini terus berkembang besar. Dengan ciri khas berupa aksesoris seperti kalung, gelang, yang dimodifikasi dengan kain khas Indonesia, brand ini siap memanjakan para pecinta aksesoris Tanah Air.

Empowering Women Through Crafts

Sukses membangun bisnis tak membuat ibu tiga anak jadi lupa diri. Dirinya ingin pengetahuannya juga bisa berguna bagi orang banyak. Kikie akhirnya jadi membuka peluang usaha baru berupa workshop dan tutorial di berbagai tempat. Kikie juga pernah memberikan workshop dan tutorial bagi korban tsunami di Aceh untuk belajar dan menghasilkan produk yang kemudian bisa dijual.

Uniknya, Kikie justru mengandalkan orang-orang sekitarnya seperti tetangga sekitar, hingga pelanggan yang pernah mengikuti tutorial dan workshopnya, untuk mengerjakan produksi tokonya.

“Untuk langkah pengerjaan yang relatif sama, terus menerus, dan pola sederhana kami serahkan ke orang lain untuk menghemat waktu,” ujarnya.

Kikie menyediakan desain dan bahan yang digunakan untuk produksi. Produk yang dihasilkan dari kelompok-kelompok kecil tersebut, kemudian dikumpulkan untuk dilakukan finishing yang dilakukan di workshopnya. Dengan sistem upah untuk setiap barang atau aksesoris yang dihasilkan, Kikie berusaha memberdayakan para ibu rumah tangga untuk tetap dapat mendapat penghasilan tanpa perlu ke luar rumah.

Mimpi Besar, Maju Bersama

Membangun bisnis yang lebih besar memang menjadi salah satu impian, dan Kikie sadar betul apa yang dibutuhkan untuk mencapainya.

“Mimpi besar saya sebagai pribadi pengen bisa mengajak lebih banyak perempuan untuk membuat craft dan memasarkannya dari rumah. Karena saya melihat, pada akhirnya kalau kita mau lebih maju, kita harus punya kelompok-kelompok kecil, rumah-rumah produksi yang mendukung bisnis craft ini,” jelasnya.

Dengan pengalaman selama 10 tahun ini, Kikie melihat produk handmade memang tak bisa bersaing dari segi kuantitas. Padahal untuk bisa memperluas jaringan bisnis menuju eksport, dibutuhkan kuantitas tertentu.

Riski Hapsari saat dipercaya menjadi pembicara di ajang WIEF 2016 (Foto: Qlapa.com)
Riski Hapsari saat dipercaya menjadi pembicara di ajang WIEF 2016 (Foto: Qlapa.com)

“Seringkali kita ikut event pameran, pas dapet orderan banyak malah dilepas karena ketidak sanggupan dalam proses pengerjaannya. Misalnya tidak ada bahan baku yang serupa dalam jumlah banyak, tenaga kerja yang terampil dan terlatih kurang, ataupun waktu pengerjaan yang terbatas sementara untuk pembuatan dalam jumnlah besar butuh waktu lama,” urai Kikie.

Solusinya menurut adalah pengadaan rumah produksi bisa fokus mengerjakan satu kegiatan craft tertentu. Dengan begitu akan lebih mudah untuk mencari supply barang ketika permintaan tinggi.  Lewat jaringan kelompok-kelompok kecil yang semakin banyak dan terlatih, Kikie optimis produk handmade bisa jadi primadona, sekaligus cara untuk memberdayakan wanita. Sebab menjadi seorang ibu bukanlah alasan untuk berhenti berkarya. Dengan anugerah berupa kemampuan multitasking, seorang ibu bisa mengurus rumah tangga sekaligus membuat bisnis yang tak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga orang banyak.

Artikel ini merupakan hasil kolaborasi GNFI dengan Qlapa.com

Pilih BanggaBangga63%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi38%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAGUS RAMADHAN

Seorang copywriter dan penulis konten yang bermimpi mampu menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

Kopi dan Sawit Indonesia Seharga Pesawat Tempur Rusia

Indah Gilang Pusparanisatu minggu yang lalu

Indonesia, Negara Eksportir Kopi Terbesar Dunia?

Agatha Olivia Victoriasatu minggu yang lalu

Menteri Susi: Laut Natuna Penting bagi Indonesia

Adriani Zulivan2 minggu yang lalu
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas