Lupa Sandi?

Syafriel, Ahli Sol Sepatu Asal Medan yang Ngetop di Melaka

Adriani Zulivan
Adriani Zulivan
0 Komentar
Syafriel, Ahli Sol Sepatu Asal Medan yang Ngetop di Melaka

"Apalah arti sebuah nama?" tulis pujangga dunia William Shakespeare dalam naskah drama populer "The Tragical History of Romeus and Juliet". Kisah yang ditulis New Sunday Times ini, mungkin dapat menjawab pertanyaan Shakespeare tersebut.

31 tahun lalu Syafriel Sikumbang tinggalkan kampung halamannya di Medan, Sumatra Utara. Ia pergi untuk mencari peruntungan di Melaka, Malaysia dengan membuka jasa sol sepatu. Keahlian memperbaiki sepatu ia pelajari sejak muda di tanah kelahirannya.

WNI berusia 60 tahun ini, kini miliki sebuah lapak di Jalan Parames-wara, Banda Hilir, Melaka. Lapaknya diberi nama “Mender of Lost Soles”, Bahasa Inggris yang bermakna "memperbaiki sol yang hilang". Orang sering menyebutnya dengan "Mender of Lost Souls" atau "memperbaiki jiwa yang hilang".

Nama unik itu merupakan pemberian. Ketika ia sedang membuka lapak, seseorang menghampiri dan memberi dua buah papan iklan dengan tulisan tersebut. "Ini dari bos saya," katanya yang memberinya secara gratis. Ia adalah pekerja dari sebuah perusahaan percetakan iklan luar ruang.

Baca Juga

Saat itu, Syafriel yang tak dapat berbahasa Inggris, tidak mengetahui makna dari nama tersebut. Ia hanya memasangnya, sebagai penanda bagi lapaknya. Tak dinyana, papan itu mampu membantu usahanya menjadi begitu dikenal publik Melaka. Pelanggan yang menggunakan jasanya cukup beragam. Mulai dari warga setempat, hingga turis asing.

Nama lapaknya yang populer, tak membuat ia dapat menjelaskan makna dari nama tersebut. Hingga suatu hari, bos yang memberikan papan tersebut datang dan menjelaskan artinya. Syafrie hanya dapat tersenyum senang dan berterimakasih kepada si pemberi.

"Nama itu seperti saya menawarkan bantuan kepada mereka yang mencari kekuatan emosional, membantu pelanggan agar bangkit kembali," jelas Syafriel bangga. Usaha Syafriel yang awalnya sangat sepi, berubah drastis setelah papan nama tersebut ia pasang.

Biaya yang dikenakan kepada pelanggan yang memperbaiki sepatunya sebesar RM 2-5 (sekitar Rp 6.200 - 15.500) untuk pengeleman, RM 15 (Rp 46.700) untuk penjahitan, dan sekitar RM 40 - 45 untuk (Rp 125.000 -  140.000) untuk penggantian sol sepatu. "Terkadang tidak saya pungut bayaran, jika hanya memperbaiki lubang kecil," tambahnya.

Dia usia 20-an, ia menjadi salah satu dari 20 pekerja di bengkel perbaikan sepatu di Medan. Dia sana, selain memperbaiki ia juga belajar membuat sepatu. "Jika saya memiliki bahan bakunya, saya dapat membuat sepatu perempuan dan laki-laki sesuai keinginan," kata Syafriel.

"Ketika datang ke sini untuk memulai usahanya, ia tidak memiliki papan nama yang sesuai, hanya ada kardus bekas dengan tulisan tangan 'Klinik Kasut' (Klinik Sepatu--Red)," kisah Winston Chan, pemilik Sign World Advertising yang memberi papan nama kepada Syafriel.

Nama "Klinik Kazut" memang sangat populer digunakan oleh banyak usaha sol sepatu di Melaka. "Namun saya tahu bahwa Syafriel sulit mendapat pelanggan, maka saya bantu dengan memberi nama yang sesuai," tambahnya.

Chan berlatar belakang pendidikan sastra. Ia terinspirasi kalimat Shakespeare dalam karyanya yang berjudul "Julius Caesar", yaitu mender of bad soles yang bermakna "memperbaiki sol yang jelek". Ia pun mengganti kata "jelek"dalam kalimat itu, dengan kata "hilang", yang membuat jasa sol sepatu Syarief menjadi begitu ngetop di Melaka.

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi60%
Pilih TerpukauTerpukau20%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADRIANI ZULIVAN

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster m ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara