Di sebuah gang sempit dengan lebar kurang lebih 2 meter, sepanjang 100 meter ke dalam berjajar para pedagang makanan-makanan kecil. Mereka mulai membuka lapaknya pada pukul 15.00 dan satu jam kemudian sepanjang jalan di Kampung Kauman tersebut akan mulai riuh ramai didatangi orang-orang. Namun, pemandangan ini hanya dapat kita saksikan pada bulan Ramadan dan di waktu inilah para pedagang dan masyarakat khususnya di daerah Yogyakarta selalu menanti kehadirannya.

Ini dia Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman, pasar yang selalu dinanti-nanti. Ya, pasar ini begitu spesial karena hanya digelar pada saat bulan Ramadan, tepatnya ketika sore hari menjelang waktu berbuka puasa. Di sinilah masyarakat di Kota Yogyakarta mencari kudapan atau takjil untuk berbuka puasa dan bagi para pedagangnya, pasar sore ini menjadi ladang rezeki yang melimpah.

Pasar Sore Ramadan Kauman hadir sejak lama setiap bulan Ramadan (foto: tulisan-ringan.com)
Pasar Sore Ramadan Kauman hadir sejak lama setiap bulan Ramadan (foto: tulisan-ringan.com)

Pasar sore ini merupakan salah satu pasar Ramadan tertua di Kota Yogyakarta. Mulanya, gang di Kampung Kauman ini tidak dimaksudkan dijadikan sebuah pasar. Pasar sore ini sudah berlangsung sejak tahun 1973. Dulu penjualnya hanya dua sampai tiga orang. Kemudian tahun 1994 barulah ada lagi satu pedagang takjil yang ikut membuka lapak di gang Kampung Kauman tersebut dengan berjualan jajanan yang khas, yakni Kicak.

“Awalnya warga berjalan sendiri-sendiri untuk berjualan. Ibu-ibu memasang lapaknya sendiri, kami tidak tega melihat ibu-ibu memasang tenda untuk berjualan. Maka kami berinisiatif untuk mengelolanya secara lebih baik,” ujar Muhammad Chawari, koordinator Pasar Sore Ramadan Kauman dilansir Tribunnews.

Seiring berjalannya waktu, pasar yang tadinya diisi oleh warga Kampung Kauman semakin banyak dihadiri oleh para penjaja makanan dari luar kampung. Mereka memilih membuka lapak di sana karena memang selalu ramai pembeli.

Tak hanya lauk pauk, para pedagang di Pasar Sore Ramadan Kauman juga menjajakan jajanan untuk berbuka puasa
Tak hanya lauk pauk, para pedagang di Pasar Sore Ramadan Kauman juga menjajakan jajanan untuk berbuka puasa

Pasar Sore Kauman kemudian dikelola oleh warga RW 10 Kauman. Setiap tahun kurang lebih ada 55 pedagang yang membuka lapak di sini dan karena hanya digelar pada bulan Ramadan, para pedagang tidak perlu repot-repot membangun lapak, memasang tenda dan menggelar meja karena hal-hal itu sudah dilakukan oleh panitia setempat.

Kini makanan yang dijual pun beragam, tidak hanya lauk pauk dan Kicak. Ada pula beberapa makanan khas Kauman yang memang hanya dijual ketika Ramadan tiba, seperti bubur saren, semar mendem, dan serabi kocor.

Lestarinya kudapan khas Ramadan asli Kauman: Kicak

Kicak
Kicak

 

Salah satu jajanan yang paling laris dan paling legendaris dari Pasar Sore Ramadan Kauman adalah Kicak. Ini adalah kudapan yang terbuat dari jadah atau ketan yang ditumbuk halus, gula, parutan kelapa, nangka, pandan, dan vanili. Bahan-bahan tersebut kemudian dicampur dan dikukus. Padu padan ketan yang gurih dengan gula dan nangka yang manis membuat kudapan ini begitu sempurna rasanya. Pun sangat tepat untuk mengembalikan energi setelah berpuasa selama setengah hari.

Semakin banyaknya kreasi makanan kudapan yang unik dan modern membuat kicak seringkali terlupakan. Beruntunglah dengan digelarnya pasar sore Ramadan, kicak menjelma menjadi makanan yang selalu dicari para pembeli bahkan tak jarang yang kehabisan ketika azan Magrib berkumandang. Ya, berkat pasar sore ini, panganan kicak menjadi lestari dan justru menjadi makanan khas Ramadan di Kampung Kauman.

Menurut kisahnya, kicak diciptakan pada tahun 1950 oleh Mbah Wono, nenek berusia 80 tahun yang memang merupakan warga Kampung Kauman. Seperti ditulis National Geographic, Mbah Wono yang memiliki nama asli Sujilah ini mengaku sudah membuat kicak sejak tahun 1950 tersebut. Mengenai penamaan makanan ini, Mbah Wono mengaku tidak bisa memastikannya. Namun, ketika ia menjualnya suatu hari, seorang pembeli menyebutnya 'kicak'. Ia pun menduga, kicak merupakan sebutan lain untuk jadah.

Kicak Mbah Wono selalu ramai pembeli
Kicak Mbah Wono selalu ramai pembeli

Lantas mengapa hanya dijual pada saat Ramadan?

"Lakunya hanya saat Ramadan, kalau hari biasa tidak ad ayang membeli. Karena itu, saya selalu menjualnya saat Ramadan," kata Mbah Wono.

Mungkin karena kudapan satu ini memiliki rasa yang manis-gurih, maka orang-orang mencarinya untuk kudapan berbuka puasa. Bilik kecil Mbah Wono selalu ramai didatangi pembeli saat Ramadan dan sejak itu orang-orang sekitar Mbah Wono ikut memproduksi kicak di bulan Ramadan.

Kicak Mbah Wono yang dijual seharga Rp2.000 ini ternyata memang menjadi idola pembeli. Salah satu pembeli, Andre, mengatakan, kicak Mbah Wono berbeda dengan kicak lainnya. “Kicak Mbah Wono lebih manis dan sesuai dengan lidah orang Jawa. Campuran adonannya sangat pas sehingga sangat nikmat ketika disantap,”ungkapnya seperti ditulis National Geographic.

Kicak dan Pasar Sore Ramadan Kauman di Yogyakarta menjadi dua hal yang dirindukan ketika tidak dalam bulan Ramadan. Meski hadir di tempat yang sempit, namun di sinilah semua orang berbahagia. Bagi pengunjung, mereka dapat kudapan yang khas dari Kauman, dan bagi penjual mereka mendapatkan berkah rezeki yang luar biasa.


Sumber: diolah dari berbagai sumber

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu