Lupa Sandi?

Mencicip Kuliner Akulturasi Jawa-Tionghoa di Kota Pahlawan

Bawono Yadika
Bawono Yadika
0 Komentar
Mencicip Kuliner Akulturasi Jawa-Tionghoa di Kota Pahlawan

Hari ini adalah hari yang spesial bagi Kota Surabaya. Yap, 724 tahun yang lalu kota ini lahir dan sampai kini kita mengenalnya sebagai Kota Pahlawan. Dalam kurun waktu sepanjang itu, tentu kita tidak akan kehabisan cerita-cerita seru tentang kota yang menjadi ibukota Jawa Timur ini. Apalagi kisah sejarah, Surabaya selalu punya cerita di setiap sudutnya.

Berbicara mengenai sejarah rasanya tak seru jika hanya berfokus pada unsur hiburanya. Kuliner merupakan satu dari sekian banyak elemen penting sebagai pembangun dan saksi dari proses kesejarahan itu sendiri. Pun Surabaya tak pernah kehilangan cerita-cerita kuliner khasnya. Dan tentu saja, salah satu momok kuliner ternama di Kota Pahlawan ini adalah kuliner Tionghoa yang sudah berbaur damai dengan kuliner Jawa Timur-an di sini.

Sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, kota Surabaya hadir sebagai rumah perdagangan yang sibuk dan juga ramai bagi etnis Tionghoa sekitar pada awal abad ke-20. Dari situlah kemudian Surabaya juga memiliki suatu kawasan yang dihuni oleh masyarakat etnis Tionghoa di ‘Kawasan Pecinan’.

Berpusat di Kembang Jepun, kawasan ini dulunya merupakan pusat kebudayaan, perdagangan, hingga pertemuan para warga keturunan Tionghoa di Surabaya. Pembangunan yang pesat di Surabaya pada akhirnya menggerus eksistensi kampung ini. Tak perlu sedih, faktanya kuliner Tionghoa masih bisa dinikmati di tempat yang masih ramai akan pengunjungnya, yakni Pasar Atum.

Baca Juga
Pasar Atum (ayorek.org)
Pasar Atum (ayorek.org)

Kami, tim GNFI berkesempatan untuk keliling di dalam Pasar Atum menjelajahi kuliner-kuliner etnis Tionghoa. Terletak di kawasan Surabaya utara, Pasar Atum berdiri di atas lahan seluas 6 hektar dengan jumlah standnya saat ini mencapai kurang lebih 600. Lokasinya yang strategis, menjadikan pasar yang berdiri sejak 1972 ini mudah untuk diakses dari empat arah jalan yaitu Jl. Bunguran, Waspada, Siaga, dan juga Stasiun Kota.

Bangunanya yang tua pun menjadi bukti yang sarat akan sejarah dan budaya. Selain itu pasar yang dijuluki sebagai pasar legendaris di Surabaya ini juga merupakan sentral kunjungan wisata maupun kunjungan dengan rata-rata kunjunganya sekitar kurang lebih 50.000 orang per hari.

Di dalam Pasar Atum ini, kita akan sering menjumpai makanan-makanan keturunan peranakan nusantara. Ya, di sinilah kita bisa menyaksikan bagaimana dua budaya melebur menjadi satu dalam kenikmatan kuliner, yakni budaya Tionghoa dan budaya Jawa. Mumpung di sini, kami akan megajak Kawan untuk mencicipi beberapa panganan unik di Pasar Atum yang merupakan hasil akulturasi tersebut.

Kue Tok

Kue Tok (dok. pribadi)
Kue Tok (dok. pribadi)

Bentuknya yang seperti kura-kura, kue tok ini melambangkan usia yang panjang dan juga kemakmuran dalam tradisi Tiongkok. Selain itu, dalam beberapa acara, kue ini juga digunakan sebagai sesaji. Kue yang beralaskan daun pisang ini mirip dengan stempel yang dalam bahasa jawa artinya ialah “tok”. Berisikan dengan kacang hijau yang ditumbuk, kue ini sangatlah unik dan popular di Indonesia, khususnya Jawa. Rasanya yang kenyal, sedikit lengket, dan manis dari kacang hijau yang ditumbuk, kue tok juga cocok sekali sebagai teman untuk takjil pada bulan Ramadhan ini.

Salah satu tempat terbaik untuk menyantap kue tok di Pasar Atum ada di Warung Kartiko, sebuah warung bernuansa kafe yang menjajakan makanan-makanan tradisional. Dengan harga Rp8.000,- kita bisa mendapat satu biji kue tok besar, hampir seukuran telapak tangan anak kecil.

Lumpia Rebung

Lumpia Rebung (dok.pribadi)
Lumpia Rebung (dok.pribadi)

Kata lumpia berasal dari dialek Hokkian yang berbunyi ‘Lun Pia’ yang berarti kue bulat. Rasanya yang manis dan kaya akan rebung merupakan pernikahan rasa antara Tionghoa dan Jawa. Tjoa Thay Joe, pria kelahiran Tiongkok, memutuskan untuk tinggal dan menetap di Semarang. Ia pun memutuskan menikah dengan seorang perempuan asli Jawa bernama Wasih. Pernikahan merekapun pada akhirnya menciptakan makanan lintas budaya yakni Tionghoa dan Jawa. Bagi penikmat rebung, tentu lumpia ini jelas tak boleh dibolehkan. Rasanya yang manis, dengan potongan wortel didalamnya, lumpia ini menyimpan rasa yang khas bagi pecinta kuliner nusantara.

Nah, di Warung Kartiko juga menyediakan lumpia rebung ini dan menjadi salah satu jajanan yang paling dicari.

Cakue Peneleh

Cakue Peneleh (twitter.com/sparklingSBY)
Cakue Peneleh (twitter.com/sparklingSBY)

Gurih, lembut, serta mengembang ketika dimasukan kedalam penggorengan, cakwe ini sangatlah cocok dan ringan sebagai pendamping diwaktu senggang dirumah pun untuk dinikmati bersama teman-teman. Di Tiongkok sendiri, cakue umumnya dinikmati sebagai pengganti sarapan. Berdiri sejak 1988, pemilik cakue peneleh, Tjio le Loe dan Khoe Sioe Yan, pada awalnya menjual makanan ini dalam bentuk cakue polos di pinggir Jl. Peneleh, Surabaya.

Namun pada tahun 1994, mereka berinovasi dengan menambahkan cincangan udang dan juga ayam ke dalam cakue mereka. Cakue spesial inilah yang kemudian disebut sebagai cakue peneleh. Kini cakue peneleh punya gerai sendiri di Pasar Atum Surabaya. Selain itu, kudapan sederhana ini menjadi semakin lezat ketika dicocol bersama saus asam manis yang dicampur dengan daun bawang.

Tauwa

Tauwa (log.viva.co.id)
Tauwa (log.viva.co.id)

Berwarna putih susu, tekstur yang lembut, serta penampilanya yang mirip dengan pudding, tauwa adalah kuliner peranakan tionghoa nusantara yang patut dicoba. Kuliner ini biasa dimakan oleh masyarakat Tionghoa peranakan di Surabaya. Tak hanya itu, rasanya bahkan semakin komplit dengan paduan wedang jahe yang hadir sebagai kuah tauwa ini. Dengan penggabungan bahan masakan antara jahe dan gula merah, tauwa menjadi kuliner hasil akulturasi antara Tionghoa dan Jawa. Di kawasan Pasar Atum, pedagang tauwa bisa kita temukan di gerai Tahu & Ronde Kitty, tepatnya di lantai 2.


*

GNFI

Pilih BanggaBangga56%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang11%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi11%
Pilih TerpukauTerpukau22%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG BAWONO YADIKA

Saya adalah mahasiswa Sastra Inggris 2013 Universitas Brawijaya. Sekarang saya berada di tahun terakhir dalam masa perkuliahan. Saya sangat menyukai menulis, membaca, dan juga traveling. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara