Lupa Sandi?

Wajah Baru Armada Transjakarta yang Makin Keren Tanpa Rokok

Adriani Zulivan
Adriani Zulivan
0 Komentar
Wajah Baru Armada Transjakarta yang Makin Keren Tanpa Rokok

"Jangan sampai ada uang dipakai untuk beli rokok dan tidak dipakai untuk menambah gizi anaknya.”
-- Presiden Joko Widodo dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional 2017

Dalam rangka peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh pada 31 Mei, PT Transjakarta meluncurkan wajah baru pada armada busnya. Bertempat di Balai Kota DKI Jakarta (06/06), PT Transjakarta memperlihatkan desain baru iklan bus bertema "Ngerokok Cuma Bakar Uang".

Iklan layanan masyarakat ini merupakan kerjasama PT Transjakarta dengan Komite Nasional Pengendalian Tembakau (Komnas PT). Tujuan dari pemasangan iklan ini adalah untuk kembali mengingatkan masyarakat akan bahaya rokok, termasuk kerugian ekonomi yang menjadi dampak dari konsumsi rokok.

Jumlah konsumsi rokok di Indonesia,  terutama bagi penduduk miskin sangat tinggi. Jumlah penduduk miskin Indonesia berada di angka 11,13 persen (Badan Pusat Statistik, 2015). Mereka menjadikan rokok sebagai salah satu pengeluaran terbesar disamping kebutuhan pokok. Rokok menjadi komoditi tertinggi kedua masyarakat miskin kota dan desa, yang mempengaruhi tingkat kemiskinan setelah harga beras. 

Baca Juga

Data Lembaga Demografi Universitas Indonesia (LDUI) menunjukkan bahwa konsumsi rokok pada keluarga miskin di Indonesia sangat besar, yaitu sebanyak 14 kali biaya konsumsi daging, 11 kali biaya kesehatan dan tujuh kali biaya pendidikan yang dikeluarkan oleh sebuah keluarga di tiap bulannya. Hal ini sangat disayangkan, sebab semestinya pengeluaran ditujukan bagi peningkatan kualitas gizi dan pendidikan keluarga.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Tampak belakang, bus Transjakarta dengan desain ILM bahaya rokok. © Komnas PT

Selain mempengaruhi perokonomian keluarga, konsumsi rokok turut bebani keuangan negara. Badan Pelayanan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan mencatat, beban biaya pelayanan kesehatan penyakit tidak menular (PTM) terbesar pada 2015 adalah penyakit utama penyebab kematian. PTM tersebut adalah penyakit jantung, gagal ginjal kronik, kanker dan stroke yang utamanya disebabkan rokok. Beban biaya akibat konsumsi rokok mencapai 23,9 persen atau Rp 13, 6 triliun dari total biaya layanan kesehatan. 

Kerugian ekonomi yang besar akibat konsumsi rokok ini, menjadi alasan pemuatan iklan bahaya rokok pada armada Transjakarta. Pemerintah ingin kembali mengingatkan masyarakat, bahwa konsumsi rokok bukan hanya merugikan kesehatan, namun juga perekonomian.

"Masyarakat Indonesia harus pandai memilih prioritas dalam membelanjakan uang," jelas Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau Prijo Sidipratomo. Pesan ini sejalan dengan himbauan Presiden Jokowi dalam Rakernas Kesehatan beberapa waktu lalu.

"Masyarakat Indonesia, utamanya Jakarta, harus bebas dari kemiskinan. Jika konsumsi rokok hanya membuat kita bertambah miskin, mengapa harus merokok?" tanya Direktur Utama Transjakarta Budi Kaliwono yang mendukung pemuatan kampanye pengendalian rokok ini.

Dalam agenda ini, Komnas PT juga memberikan penghargaan pada PT Transjakarta yang menunjukkan komitmen akan upaya pengendalian tembakau. Sejak 2012, PT Tranjakarta secara konsisten terus memberikan ruang bagi pemuatan iklan tentang bahaya merokok. Hal ini dapat menjadi penyeimbang informasi bagi masyarakat Jakarta, di tengah gencarnya iklan rokok yang beredar.

Dua bus Transjakarta kini miliki pesan akan bahaya merokok yang akan membuat ekonomi terpuruk, di bagian badannya. Menyusul 10 bus Transjakarta lainnya yang akan ditempeli pesan serupa di bagian kaca belakang. Dengan pesan #KerenTanpaRokok yang menjadi jargon Komnas PT, wajah bus Transjakarta kini menjadi makin keren.

Pilih BanggaBangga40%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang40%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi10%
Pilih TerpukauTerpukau10%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADRIANI ZULIVAN

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster m ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Ki Hajar Dewantara

Anak-anak hidup dan tumbuh sesuai kodratnya sendiri. Pendidik hanya dapat merawat dan menuntun tumbuhnya kodrat itu.

— Ki Hajar Dewantara