Mengenalkan sains sejak dini akan banyak membuka pintu kesempatan lebih luas, apalagi saat ini bidang STEM (Sains, Teknologi, Enjinering dan Matematika) menjadi bidang yang sangat dibutuhkan dunia. Namun di Indonesia kesadaran tentang pentingnya mengenalkan sains pada anak-anak terbilang kurang. Hal ini terbukti dengan hasil survey PISA tahun 2015 yang menyebutkan bahwa masih 1 dari 7 pelajar Indonesia yang berminat untuk berkarir dibidang sains. Melihat tren tersebut, beberapa pemuda yang tergabung dalam Ilmuwan Muda Indonesia (IMI) berusaha untuk meningkatkan minat anak-anak pada sains lewat cara yang unik.

Salah satu cara unik yang digunakan oleh IMI adalah dengan mengajak anak-anak mengenal alam semesta di planetarium. Namun planetarium yang ini tidak biasa, planetarium ini adalah planetarium portabel yang bisa berpindah-pindah sehingga mampu menjangkau lebih banyak anak-anak. Berbeda dengan planetarium konvensional yang hanya ada di beberapa tempat di Indonesia.

Anak-anak diajak berperan sebagai astronot di planetarium (Foto: Bagus DR / GNFI)
Anak-anak diajak berperan sebagai astronot di planetarium (Foto: Bagus DR / GNFI)

Co-founder dari IMI, Firly Savitri mengungkapkan bahwa cara ini ditempuh untuk menumbuhkan minat anak untuk menekumi sains. "Berdasarkan riset internasional, anak-anak jatuh cinta dengan sains itu karena dua hal: astonomi dan dinosaurus. Namun topik dinosaurus tidak relevan dengan budaya di Indonesia, akhirnya kami memilih topik astronomi untuk disampaikan pada anak-anak. Lalu kami bertanya, pakai apa? Jika astronomi pasti menggunakan planetarium, namun planetarium konvensional sangat mahal biayanya. Akhirnya kami menggunakan mobile planetarium yang lebih murah harganya," jelas Firly pada GNFI akhir Mei lalu.

Menurut Firly, planetarium portabel ini akan membuat dirinya dan tim IMI untuk bisa mengenalkan astronomi keliling Indonesia untuk anak-anak. "Planetarium portabel seperti ini selain murah, bisa dibawah kemana-mana. Maintenancenya juga gampang. Proyektor juga cukup satu, berbeda dengan planetarium konvensional yang mencapai empat sampai delapan proyektor sehingga mudah untuk diperbaiki dan mudah dioperasikan. Tidak memerlukan ahli planetarium untuk menggunakannya setiap. Dengan training simpel, setiap orang bisa jadi operator. Bayangkan bila setiap provinsi di Indonesia memiliki planetarium seperti ini." kata perempuan lulusan pasca Sarjana Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Saat ditanya mengapa lebih memilih astronomi untuk anak-anak? Perempuan yang telah mendirikan IMI sejak tahun 2014 ini menjelaskan bahwa saat anak masih berusia 0 sampai 8 tahun, mereka berada di fase paling menentukan untuk jatuh cinta dengan sains. Sebab jika terlewat, maka anak akan lebih sulit menyukai sains karena setelah masa itu, pelajaran sains akan semakin sulit.

"Berdasarkan riset juga, anak-anak yang dulunya waktu masih kecil pernah terinspirasi, mereka lebih punya kegigihan untuk terus menekuni sains. Sains itu makin lama makin susah di pendidikan. Anak-anak yang terinspirasi saat kecil, adalah anak-anak yang jauh lebih gigih untuk terus menekuni sains," kata Firly.

Planetarium portabel berbentuk menyerupai kubah (Foto: Bagus DR / GNFI)
Planetarium portabel berbentuk menyerupai kubah (Foto: Bagus DR / GNFI)

Langkah IMI untuk membawa planetarium lebih dekat dengan anak-anak terbilang adalah hal baru yang ada di Indonesia. Sebab selama ini planetarium yang diperbolehkan untuk kunjungan di Indonesia hanya ada di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Sedangkan di Surabaya, planetarium yang tersedia adalah milik angkatan laut dan kunjungan bersifat terbatas. Sehingga berkat kepeloporan ini, IMI kemudian dikenal sebagai konsultan planetarium portabel di Indonesia.

IMI sendiri rupanya tidak hanya menggunakan planetarium portabel untuk mengajak anak-anak bisa mengenal sains dengan lebih seru. Organisasi yang merupakan social enterprise ini juga menggunakan berusaha menarik perhatian anak-anak lewat Space Academy dan Akademi Sains Anak Indonesia keduanya ditujuakan untuk untuk mengembangkan sikap ilmiah si kecil. "Misi kami adalah melayani, membuka akses sains untuk semua anak di Indonesia," pungkas Firly.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu