Lupa Sandi?

Potret 'Indonesia Banget' dalam Tren Liwetan

Arifina Budi
Arifina Budi
0 Komentar
Potret 'Indonesia Banget' dalam Tren Liwetan

Bulan Ramadan tahun ini ada yang lagi nge-tren. Bukan hal baru, tren kali ini justru adalah sebuah tradisi masa lampau yang entah sejak kapan dan oleh siapa tradisi ini kemudian menjadi hal yang kembali 'kekinian'. Di lini masa media sosial kita, pasti ada beberapa teman yang mengunggah pos tren ini ketika sedang buka bersama.

Berlembar-lembar daun pisang digelar memanjang di atas lantai atau meja makan, kemudian di atasnya ditumpahkan nasi beserta lauk-pauknya yang disusun berjajar memanjang sampai bermeter-meter. Ketika waktu santap tiba, orang-orang memakan hidangan tersebut bersama-sama langsung dari atas daun pisang tersebut. Cara makan seperti ini oleh sebagian besar orang disebut dengan 'liwetan'.

Nah, di bulan suci Ramadan tahun ini liwetan banyak dilakukan oleh orang-orang, tak terkecuali anak-anak muda. Bertepatan dengan bulan besarnya umat Muslim ini, tradisi liwetan merunut sejarahnya memang sudah menjadi tradisi agama Islam di pesantren dulu. Dosen Sastra Jawa Universitas Indonesia, Prapto Yuono menjelaskan bahwa kebiasaan makan seperti ini merupakan variasi selametan.

"Soal kebiasaan makannya yang disusun memanjang ini, kan varian atau variasinya selametan. Cara ini dimulai dari tradisi pengaruh agama Islam. Kelihatannya dimulai dari hampir semua pesantren di Jawa sejak dulu," jelas Prapto dilansir KompasTravel.

Tradisi liwetan sudah ada sejak zaman kerajaan dan menjadi tradisi selametan dalam ajaran Islam di Jawa (foto: menulisindonesia.com)
Tradisi liwetan sudah ada sejak zaman kerajaan dan menjadi tradisi selametan dalam ajaran Islam di Jawa (foto: menulisindonesia.com)

Menurut pakar kuliner Indonesia Linda Farida Rahmat, tradisi liwetan muasalnya dari Solo. Ia menduga tradisi ini sudah berlangsung lebih dari satu abad silam di zaman raja-raja Solo. "Itu (usianya) sudah pasti lebih dari 100 atau bahkan 200 tahun karena itu dipakai buat raja-raja kalau lagi ada upacara, jamuan," tutur Linda.

Dalam tradisi Jawa, tradisi ini sejak dulu dikenal sebagai simbol rasa syukur kepada nenek moyang. Kemudian pada masa ajaran Agama Islam di Nusantara, tradisi ini dimodifikasi. Konsep yang awalnya adalah sajen kemudian diubah oleh para wali menjadi konsep selametan.

Nasi liwet atau nasi wuduk yang sering disebut orang Jawa ini kerap hadir dalam selametan seperti "dhahar rasulan" saat peringaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Nasi liwetan juga sering hadir dalam upacara adat Jawa seperti malam midodareni yang menjadi malam syukuran sebelum upacara pernikahan.

Liwet sesungguhnya adalah cara memasak

 

Jangan dulu salah kaprah dengan sebutan 'liwetan' sebagai cara makan. Sebenarnya 'liwetan' atau liwet sendiri merupakan proses memasak nasi yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Menurut ahli gastronomi dan peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito, memasak nasi dengan cara liwet merupakan salah satu cara memasak yang dilakukan oleh orang Indonesia sejak dulu.

"Proses memasak liwet itu tertulis di Serat Centhini pada tahun 1819. Kalau produknya tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera, tergantung kearifan lokal masing-masing, beda-beda lauknya," jelas Murdjiati.

Ngliwet, Murdijati melanjutkan, bagi masyarakat Jawa merupakan kebiasaan mengolah atau memasak beras yang cukup 'tua' usianya. Prosesnya adalah dengan cara mencampir beras dan air dalam satu wadah khusus. Jauh sebelum ada magic jar, ngliwet dimasak menggunakan ketel, kastrol, atau dandang. Bedanya dengan memasak nasi pada umumnya, dalam ngliwet bumbu-bumbu seperti daun salam, bawang, dan garam turut dimasukkan dan dicampur bersama beras untuk dimasak bersama-sama.

"Proses memasak khas Indonesia ini sudah tersebar di Pulau Sumatera dan Jawa mulai nenek moyang dan saat ini lahirlah nama-nama ragam kuliner di berbagai daerah dari proses liwet itu," kata Murdijati.

Di Bali, tradisi makan nasi liwet bersama-sama ini disebut dengan Megibung
Di Bali, tradisi makan nasi liwet bersama-sama ini disebut dengan Megibung

Sedangkan untuk cara makan dengan 'bergumul' seperti ini ada sebutan yang bervariasi di setiap daerah. Dalam bahasa Sunda, cara makan seperti ini disebut dengan 'botram'. Sedangkan dalam bahasa Jawa disebut dengan 'kembulan'. Kita semua tentu sudah tahu bahwa cara makan seperti ini sebenarnya merupakan tradisi makan yang sudah ada sejak lama. Di beberapa daerah tradisi ini punya nama khusus, misalnya Megibung di Bali dan Bancakan di tatar Sunda.

Bagaimanapun, cara makan seperti ini di masa sekarang tentu sangat terasa kehangatannya. Bila biasanya kita makan dari piring sendiri-sendiri, dengan botram atau kembulan kita bisa lebih banyak berbagi dengan teman-teman. Lewat daun pisang, kita juga semakin dekat dengan para kerabat. Kembulan atau botram mengajarkan pada kita tentang persahabatan, kerukunan, dan kesabaran.


Sumber: diolah dari berbagai sumber

Pilih BanggaBangga75%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau25%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ARIFINA BUDI

Pencerita hal-hal baik untuk dunia. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata