Sudah lama aku ingin menyerah dari kegilaan sastra, lalu keluar dari kubangan teks-teks menjijikkan ini. Tapi realitas selalu menarikku kembali ke dalamnya. Kewajibanku pada Semesta –termasuk di dalamnya manusia yang berhasrat kotor, dingin, dan kering – selalu membuatku berpikir keras untuk kembali menyusun diri dalam kerumitan sastra. – dikutip dari buku #FriksiBenangMerah, 2017.

Di atas adalah satu paragraph berupa surat Niskala yang ditujukan kepada Ruhlelana, yang bernama sama dengan penulisnya.  Sedangkan Niskala adalah tokoh yang acap ditemukan dalam buku tetralogi Kitab Metafiksi.

Dalam buku pertama dari Kitab Metakfiksi berjudul “Friksi Benang Merah” [FBM], kita tidak hanya menemukan ketiga tokoh tersebut, tapi juga akan mengenal Samantha, Chartreuse, Shifra, Bang Sony, Gateauxlotjo, Atisha, dan tokoh lainnya, sampai si Cepot dan penyair, Chairil Anwar [yang berperan sebagai penjagal maut], Jim, dan Borges.

Banyaknya tokoh dan kisah memang bisa bikin bingung jika kita tidak benar-benar membacanya. Bisa jadi kita bakal membacanya berulang-ulang. Namun, inilah tujuan si penulis, Ervin Ruhlelana. Dia juga bilang bahwa buku yang ditulisnya ini bisa dibaca dari halaman mana saja - sesuka hati pembaca. Ervin tidak salah dan juga belum tentu benar, Sebab saya pernah mencobanya secara tidak berurutan, hasilnya buku FBM masih bisa dinikmati. Entah pembaca lain, Barangkali mereka bisa menjadi payah membaca benang-benang merah yang meloncat-loncat dibacanya. Bisa juga pembaca malah kegirangan ketika membacanya dengan gaya meloncat. Kadang, benang-benang merah kehidupan sendiri pun tidak mudah dirangkai secara berurutan.

Sebelum FBM yang terbit 2017, saya pernah membaca Fiksi-Fiksi Benang Merah [Dalam 4 Genre], Niskala dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV, dan draft FBM [Mixtape] yang masih disusun berulang-ulang oleh penulisnya. Ada perbedaan dari segi susunan cerita antara FBM dan draft-draft yang sebelumnya. Setelah melalui tahap “penyaringan” dan “pengemasan”, FBM  menjadi terasa lebih lezat dan segar seolah-olah ia seekor ikan yang baru saja ditangkap dari laut dan langsung diolah, lalu dhidangkan di meja panjang.

FBM adalah buku pertama dari tetralogi Kitab Metafiksi [sebelumnya Kronik Metafiksi], buku keduanya bertajuk Metafiksi Niskala, ketiga, Labirin Ingatan, dan keempat Taman Rahasia. Metafiksi Niskala telah diluncurkan pada saat Hari Idul Fitri, 25 Juni 2017. Selanjutnya, Labirin Ingatan dan Taman Rahasia yang konsep peluncurannya masih rahasia. Peluncuran FBM cukup unik, penulis dan teman-temanya asal Cianjur melarung buku ini di sungai Cianjur. Buku kedua, Metafiksi Niskala diluncurkan secara prosesi penguburan buku Niskala dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV di pemakaman Cianjur. Mengapa malah buku Niskala dan…yang dikubur bukan #MetafiksiNiskala? Sebab, draft Niskala dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV yang “dijarah” penulis ke dalam Metafiksi Niskala. Karena hari raya Idul Fitri, Metafiksi Niskala terlahir kembali melalui buku kedua ini dan buku sebelumya [Niskala dan…] dikubur. “Prosesi ini menandakan kuasa saya terhadap buku yang saya tulis telah hilang, menjadi kuasa Semesta dan pembaca,” begitu kira-kira penulis berujar saat pelarungan FBM dan penguburan buku Niskala  dan Sebuah Novel Berjudul Episode IV.

Tetralogi Kitab Metafiksi ditulis selama 20 tahun, sebuah angka yang mengalami perubahan zaman dan penambahan peristiwa. Namun, #KitabMetafiksi tetap orisinil.  Dan, Ervin menyarankan pembaca untuk membaca secara berurutan jika ingin membaca keseluruhan Kitab Metafiksi.

Rangkuman Friksi Benang Merah

“The Lovers”, jika kamu penggemar kartu tarot pasti tahu maksudnya secara luas.  Simbol ini memang tepat dipersembahkan untuk Friksi Benang Merah. Halaman pertama dibuka dengan prelude yang memperkenalkan tokoh Cepot, Shifra, Bang Sony dan Eloprogo-nya, Chairil yang penasaran dengan lelaki Cina botak, Pak Haji, Pak Bisu, Atisha, kisah Chartreuse dan Cyan, dan Ruhlelana.

Bagian pertama dibuka dengan pilihan-pilihan metode bunuh diri sekalian tingkat kesakitannya. Suka me-review restoran dan hotel atau film? Kira-kira mirip seperti itu. Selanjutnya, kisah beralih pada Chartreuse yang menyaksikan pelemparan dadu Ruhlelana. Pada bagian inilah angka yang keluar dari dadu menjadi langkah awal sebuah kisah panjang seorang manusia. Seorang pria yang kemudian bertemu Samantha dan Niskala, seorang rock star. Perjalanan Niskala penuh lika-liku ditambah persoalan cinta, tidak berbeda dengan tokoh Ruhlelana. Setiap kejadian percintaan dibangun dengan keindahan dan uraian-uraian yang mengemaskan. Jatuh cinta, hasrat seksual,  rindu, kehilangan, dan seorang wanita, dan bertambah lagi wanita lain. Membuat kehidupan semakin kompleks.

Antara Chartreuse dan Ruhlelana saling bergantian lakon dengan Samantha dan Niskala. Sebab, mereka saling berkaitan dan tak berujung. Kisah Chartreuse dan Ruhlelana terus berjalan walaupun berada pada jarak yang memisahkan. Tetap saling terhubung meski Ruhlelana menemukan cinta baru. Begitu pula Niskala.

Chartreuse adalah wanita cantik dan cerdas yang awalnya perjalanan hidupnya tidak berbeda dengan gadis-gadis muda lainnya. Lalu, setelah kematian Cyan, dia menjadi gelap, dan muram. Chartreuse adalah wanita muda dengan banyak penggagum, hampir semua teman Niskala menyukainya termasuk Ruhlelana.

Niskala dan keenam temannya bertekad menuliskan naskah Kitab Metafiksi dan mereka ingin melibatkan Chartreuse. Keinginan mereka disambut baik oleh Chartreuse. Jadilah draft berjudul: “Episode IV”. Pada pertemuan terakhir, Niskala menyerahkan draft tersebut kepada Ruhlelana [Aku]. Setelah masa berkabungnya Chartreuse atas kematian Cyan, selama setahun dia dan Aku bertemu, saling mengurai hasrat labirin, saling berciuman, berkekasihan, saling mendengarkan, bercinta, dan saling menyembuhkan skizofrenia yang mereka alami. Setelah itu, Ruhlelana [Aku meramu] Episode IV dan draft lainnya menjadi Kitab Metafiksi.

Cerita belum berakhir, masih ada Niskala dan petualangannya. Sampai suatu ketika Niskala bertemu Gateuauxlotjo. Pada bagian terakhir, Efek Kupu-kupu [the butterfly effect] kedua tokoh tersebut memperbincangkan tanda-tanda dan menerjemahkan peristiwa yang terjadi pada diri masing-masing. Benang-benang merah ditutup Niskala yang menantikan Cepot. Dan, misteri tetap menjadi misteri, sebab itulah keindahan perjalanan. Sebuah buku tentang fiksi yang merawikan fiksi. Yang diselipkan petualangan-petualangan dan sungai Eloprogo.

Ulasan Friksi Benang Merah

Sejak pertama kali sampai terakhir, dari draft sampai FBM diterbitkan pada tahun ini, saya selalu menikmati gaya penulisan adegan atau episode yang silih berganti.

Banyaknya tokohtokoh membuat saya membaca mereka secara perlahan, satu per satu, lantas membayangkan mereka berbicara dengan saya. Saya meraba rangkaian peristiwanya, kadang saya tak paham, lalu menyentuhnya kembali. Membaca yang ada dalam buku ini saya serasa berada dan menyaksikan kumpulan peristiwa yang disebut penulis, FIKSI.

Chartreuse, fiksi memang bukan fakta

Tapi bukan berarti tidak nyata

Fiksi memang bukan fakta

Tapi bukan berarti aku bohong padamu.”

~ [Di Sudut Heritage, halaman 120].

Fiksi memang fiksi, seperti bait di atas, saya tak perlu lagi menjelaskannya secara bertele-tele. Pastinya, bagi saya fiksi itu obat penyembuh, kebebasan, dan kebahagiaan, apalagi bila menuliskannya. Perihal ketiganya saya temukan dalam FBM. Buku ini bagai panggung seni yang menyusun keindahannya. Seni itu indah, dipandang, disentuh, dibaca, didengarkan, dan dirasakan. Bagi saya, seni itu kebahagiaan. Ada beberapa poin yang membuat saya berkesimpulan bahwa buku ini sebagai karya seni. Kalau sastra jelas itu bagian dari seni. Tapi di sini tidak sekadar bicara sastra.

Pertama, prelude FBM merupakan kisah-kisah yang dipilih Ervin dari buku Fiksi-Fiksi Benang Merah [Dalam 4 Genre]. Yang selanjutnya di-mixed up seperti mixtape pada sebuah album -  kumpulan lagu yang dikurasi. Jadi, jelas FBM dan Fiksi-Fiksi Benang Merah [Dalam 4 Genre] berbeda, meski konsepnya sama: berbentuk musik.

Tubuh  FBM terdiri dari prelude, Side A, Side B, Side C, dan epilog. Lirik-lirik lagu dan perangkat musik cukup kental bersenandung pada buku ini. Begitu pula perihal skizofrenia. Pembaca pasti akan mengira satu dan satu tokoh mengalami gangguan kesehatan mental ini. Mengutip apa yang diucapkan Ervin saat soft launching FBM, “pada zaman itu dan saat ini, orang-orang sedang mengalami skizofrenia, kemudian di-metafor-kan pada kisah tokoh yang kerap mendengarkan suara-suara.

Suara-suara itu muncul satu-satu, satu persatu. Suara-suara yang ditafsirkannya berasal dari memori-memori audio di otaknya yang secara kreatif membuat komposisi denging, desis, dan detak dalam sebuah aransemen frekuensi yang dituangkan secara akurat dan matematis. Hasilnya adalah serbuan hiruk-pikuk audio yang bisa kau atur sendiri playlist dan komposisi equalizernya: mantramantra–doadoa–rintihanrintihan–suarajilatan–mencekik– sabdasinis–hantuhantu–melingkarkansenjapadaterbenamnyamataharipucat–hentakankakipadasepatuyangtengahberlari–airwudhumeluncurderasdarikerantoiletmasjid–beribumalaikatmendekat–berkelebatan–mencabutnyawa–suarakepakribuansayap- gemuruhangin

~ [halaman 74]

Elemen musik dan skizofrenia dilibatkan penulis secara eskperimental yang bergerak tak terikat, tanpa meninggalkan pedoman. Kisah-kisah laksana  mempunyai pesona masing-masing dengan penampilan gaya penulisan yang berbeda dan unik.

Kedua.

Suatu hari Niskala menangis.

“ ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, “

Dia ingin menjadi dirinya sendiri.

Setelah sekian lama menjadi apa saja.

Peran apa saja yang ditugaskan untuknya.

Tuhan menjawab tangisan Niskala:

                             NISKALA ANAKKU

                             SEPERTI JUGA AKU

                             TAK PERNAH MENJADI DIRI SENDIRI

                             AKU ADALAH SEGALANYA

                            DAN BUKAN APA-APA

~ [halaman 153]

Di atas adalah karya Jorge Luis Borges yang diadaptasi oleh penulis. Semoga saya tidak salah, struktur penulisan di atas disebut tipografi yang kerap diaplikasikan oleh penulis puisi kontemporer. Selain huruf dan diksi, tipografi juga menonjolkan keindahan fisiknya. Tipografi atau bukan, saya rasa penulis suka menulis dengan gaya seperti itu, tidak menghiraukan apakah itu tipografi atau entah. Terpenting baginya ialah menciptakan karya dengan gaya yang tidak hanya berbeda atau unik tapi juga menyertakan isi dan rima selayaknya puisi.

Ketiga. Bagi saya bicara FBM berarti menyangkut soal RASA. Karya yang berisi puisi, naskah, surat, lirik lagu, musik dan perangkatnya, dan resensi, semuanya disajikan mengunakan bahasa yang cantik, mengalir, dan enak dibaca. Seolah-olah kata demi kata bernafas: dihirup baunya, dilekatkan ke dalam benak, diserap pikiran, lalu dialirkan ke seluruh sel darah tubuh, terakhir, berdetak dengan harmonis. Kemarahan, jatuh cinta, protes, teriakan, kekesalan, rindu, ketiadaan, duka, dan lainya berbunyi seperti denting gamelan pada malam hari yang memuncak di stupa teratas candi Borobudur.

Sebagai pembaca, saya seperti melihat langsung  keindahan alam yang dilihat penulis, seolah-olah rasa yang diukirnya menarik-narik saya.

Keempat. Saya selalu suka seni pertunjukan sejak kecil. Kisah Mahabrata bukan hal asing bagi saya dan kita semua. Namun, penulis memarodikan kisah Mahabrata dengan bahasa sesukanya malah nyeleneh. Lalu, kisah diakhiri Ruhlelana yang membayangkan Chartreuse sedang berendam di kamar mandi hotel. Di sini saya tertawa keras dan mengelengkan kepala, dasar!

Kelima. Pun, saya beberapa kali menemukan kalimat, “berpisah untuk kembali,” yang barangkali kisahnya akan berlanjut di buku-buku selanjutnya. Entah, saya suka model penegasan yang mengandung arti seperti ini, yang tidak pasrah, ada gairah, dan  manis seperti gulali.

Keenam. FBM banyak menyuguhkan puisi beragam bentuk dan bahasa yang cantik. Di antaranya, saya menemukan puisi yang tiap akhir kata diakhiri huruf M.

alam malam kelam buram gumam suam selam

padam geram karam hantam

~ [halaman silahkan temukan sendiri]

Dan ini puisi favorite saya:

Saat jutaan tetes embun

Bergeser pada daun

Menyeruakkan riuh suara

Gesekan air menjadi gemuruh

Lalu kulihat tubuhmu meliukkan jutaan adrenalin

Pada mataku

Pada jantungku

Oh, Ratuku!

 

Gravitasi mati

Mati tadi pagi

~ [Lagi, silahkan temukan berada di halaman mana bagian ini]

 “Poetry springs from something deeper; it’s beyond intelligence.”  Saya tersenyum mendengar ucapan ini, lalu menangis. Seperti yang saya tulis di atas, puisi-puisi Ruhlena membawa bahkan mampu melibatkan saya ke dalam kisahnya. Pada bagian puisi “Di Sudut Heritage” yang tidak ingin saya katakan bagian yang mana, ada kalimat yang membuat saya menangis. Selanjutnya, Jorge Luis Borges berbisik,”this has happened and will happen again.”

Pada karya ini pembaca dipersilahkan untuk mencium bau apa saja yang penulis cium selama menulis karya ini. Belum tentu bau yang sama, namun yang lebih  utama ialah apa yang kita rasakan saat membacanya, apakah dibawa ke jalan lika-liku yang membuat nalar bekerja, atau terbawa arus kisah yang bisa saja pernah terjadi pada pembaca. Mengapa banyak puisi? Ervin Ruhlena menjawab,” Sebab, puisi dapat membuat orang lebih merasa. Melalui puisi, pembaca bisa lebih merasakan emosi ceritanya.”

FBM memuat fiksi petualangan yang fiksi tersebut membuat petualangannya sendiri. Perjalanan yang berkisah perjalanan. Selama perjalanan kita akan menemukan ribuan bahkan jutaan pohon, yang memiliki sisilah dan riwayat, juga rasa-rasa emosional yang berbeda.Seperti halnya ratusan manusia yang kita jumpai selama setahun, cerita kita sendiri beraneka ragam saat bersama setiap persona atau kelompok yang kita temui. Dan itulah apa yang ada dalam Friksi Benang Merah. Baik itu berbentuk naskah, lirik lagu, prosa, maupun puisi.

Secara keseluruhan, FBM ialah sebuah karya psikedelik sastra yang cerdas… yang melukis petualangan…

Paintings is literature in colors. Literature is painting in language.” ~ Pramoedya Ananta Toer.

Tentang …Ruhlelana

Dia adalah penggemar Jorge Luis Borges garis keras. Baginya Borges adalah nabinya. Borges tidak sendirian karena ada sahabat-sahabat [nabinya] seperti Milan Kundera, Italo Calvino, Chairil Anwar, Saut Sitompul, Afrizal Malna, dan lainnya. Jika dilihat dari koleksi buku [dari buku klasik, fantasi, kontemporer, sejarah, agama, dan peradaban] di rumah Ruhelana, tidak heran tulisan-tulisannya menjadi padat berisi. Buku-buku fiksi dan non-fiksi berdiri rapi di rak bukunya. Penataan ruang yang rapi dan kerap berganti-ganti posisi, ditambah layar-layar yang menyala di meja kerjanya dan berbagai musik yang terus hidup, tidak heran karyanya begitu  kaya. Ditambah pengalaman hidup yang berpindah-pindah kota: Bandung, Jakarta, Solo, Yogya, dan Bali. Ruhlelana memang senang berkelana, sebab di sanalah kehidupan dan pemikirannya terbentuk, malah menjadi karya.

Ruhlenana juga seorang pendongeng, menurut teman-temannya, di setiap kota yang dihampirinya, dia pasti mendongeng. Sayangnya saya tidak pernah melihat dia mendongeng, tapi saya pernah menyaksikan dirinya membaca puisi langsung tepat di hadapan saya. Saat itulah “Sudut Heritage” mengalirkan air mata di pipi saya. Bisa jadi saya lebay tapi itulah yang saya rasakan selain tersenyum melihat keindahan. Sedikit sekali yang dapat membuat saya tersenyum sekaligus menangis.

Bakat Ruhlelananya lainnya adalah bermusik dan bernyanyi, maka hadir band musik bernama “Samantha School”. O, ya, saya ketinggalan, Ruhlelana juga suka melukis dan mengambar graphic poetry yang ada di web personalnya ruhlelana.com/works

Kembalinya ke kota kelahirannya, dia melanjutkan membuka perpustakaan [Perpus Ambu]. Sampai kini, perpustakaannya tetap berjalan dan terus aktif menjalankan kegiatan kreatif untuk anak-anak.

Ruhlelana adalah persona yang unik dan berbeda dari banyaknya manusia yang saya jumpa. Bakat dan kemampuannya terlihat menyembul dari tubuh dan pikirannya.  Apa yang membuatnya penasaran, di-ulik sampai dia mendapatkan jawabannya dan bisa mengaplikasikannya. Soal penulisan juga serupa. Setiap kosakata dan peristiwa direnung, diserap, diolah sampai ke jantungnya. Bahkan proses “bengong” lebih lama dibanding proses menulisnya.

Kitab Metafiksi adalah cita-citanya, perjuangannya dari kegilaan Niskala dan Samantha yang diciptakan menjadi karya sastra. Kegilaan sastra Ruhlelana melahirkan tetralogi dengan suguhan karya seni yang sangat layak dibaca. Apalagi  yang senang membaca karya yang berbeda dari karya popular lainnya, karyanya ini bisa menambah penjelajahan kita....a must read

Peradaban Eropa sampai maju sampai sekarang ini diawali dengan membangkitkan kembali sastra, puisi, drama, bahasa, tradisi, dan pendidikan. Lalu, kebangkitan tersebut dilanjutkan pada fase kedua yang ditandai, di antaranya: kesusastraan klasik, berkembangnya kesenian, dan kesusastraan baru. Sepertinya negeri ini perlu kembali membangkitkan gairah membaca dan menulis. Maka, menulislah dan membacalah…

Tulislah apapun yang ingin kita baca, bukan yang ingin kita tulis, lalu bayangkan bahwa tulisan itu mungkin dibaca hingga ribuan tahun ke depan,” ~ Saut Sitompul.

BUku FriksiBenangMerah Karya Ruhlelana
BUku FriksiBenangMerah Karya Ruhlelana

Judul Buku                    : Friksi Benang Merah

Cetakan                         : I (pertama) – Mei 2017

Halaman                         : 340 Halaman

Penulis                            : Ervin Ruhlelana

Tata Letak & Desain Sampul ; Yogi Margana

Pemerhati Aksara             : Dzikra I. Ulya



Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu