Kecantikan alam Indonesia tak pernah diperdebatkan. Siapapun yang menyaksikannya, pasti sepakat akan keindahannya.

Terkadang kita tak perlu menempuh perjalanan khusus, untuk dapat menyaksikan kecantikan tersebut. Salah satu cara termudah menikmatinya adalah dengan mengamati alam yang ada di sekitar kita, termasuk ketika melakukan perjalanan mudik.

Mumpung masih dalam suasana arus balik mudik Lebaran, mari pasang mata dan temukan kecantikan panorama alam Indonesia di sekitar jalur mudik berikut.

Jembatan Kelok Sambilan

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Kelok Sambilan di Payukumbuh, Sumatra Barat. © pecintaalam.org

Jalan dengan sembilan (dalam bahasa lokal: sambilan) kelok ini, terdapat di  Kota Payakumbuh, Sumatra Barat. Jalan membentang 300 meter ini menghubungkan Lintas Tengah Sumatra dan Pantai Timur Sumatra, di perbatasan Provinsi Sumatra Barat dan Riau. Jembatan layang sepanjang 2,5 kilometer yang dibangun di kawasan ini, menambah kecantikan Kelok Sambilan yang diapit perbukitan dan cagar alam tersebut.

Jalur tol Cipali

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Kawasan persawahan di sekitar tol Cipali. © beritadaerah.co.id

Tol Cikopo - Palimanan (Cipali) menghubungkan Cikopo, Purwakarta dengan Palimanan, Cirebon, Jawa Barat. Dengan panjang 116 kilometer, tol ini merupakan kelanjutan dari tol Jakarta - Cikampek. Ini merupakan bagian dari Jalan Tol Trans Jawa yang menghubungkan Merak, Banten hingga Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim).

Jalur tol Brebes Timur

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Pemandangan sekitar jalur Brexit di Jawa Tengah. © kompas.com

Jalur ini menghubungkan jalur tol di sejumlah kota di Jawa Barat, dan berakhir di Brebes, Jawa Tengah (Jateng). Jalur yang dibuka pada 2016 ini, dikenal dengan sebutan Brexit atau Brebes Exit. Di masa mudik Lebaran tahun lalu, jalur ini menjadi pilihan favorit masyarakat Jakarta yang mudik ke kota-kota di Jawa, sebab tol ini dapat memperpendek perjalanan dari Jakarta ke Brebes hingga hanya 4,5 jam saja--meski tidak demikian di masa mudik Lebaran.

Jalur tol Bawen - Salatiga

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Jalur yang terletak di Jateng ini disebut-sebut sebagai jalan tercantik di Pulau Jawa, menyaingi kecantikan panorama di sekitar jalan raya di Swiss. Jalan tol Bawen - Salatiga sepanjang 17,5 kilometer ini mulai beroperasi pada 15 Juni 2017, juga merupakan bagian dari proyek jalan tol Trans Jawa untuk ruas Semarang - Solo.

Jalur tol Pejagan - Sragen

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Jalur tol Pejagan - Sragen yang dikelilingi persawahan hijau. © kompas.com

Jalur ini menjadi penerus bagi pengguna tol yang ingin melakukan perjalanan ke Jatim. Hamparan jalan sepanjang 25 kilometer ini merupakan ruas tol Solo - Sragen yang merupakan bagian dari tol Solo - Ngawi dengan total panjang sejauh 90 kilometer.

Jalur tol Solo - Ngawi

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Tol yang menghubungkan Solo dan Ngawi. © aps18.com

Tol sepanjang 90 kilometer ini menghubungkan Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi bagian dari jaringan Jalur To Trans Jawa.  Tol ini melewati empat kabupaten yang miliki pemandangan indah, yaitu Boyolali, Karanganyar, Sragen dan Ngawi. Jalur ini juga disebut Tol Solo - Kertosono.

Jalur tol Ngawi - Kertosono

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Keindahan pemandangan di sekitar tol Ngawi - Kertosono, Jawa Timur. © kompas.com

Jalur sepanjang 70 kilometer ini, membentang dari Ngawi hingga Kertosono, Jawa Timur. Selain pemandangan sekitar dan bentuk fisik yang artistik, tol ini dipercantik dengan keberadaan Jembatan Klodran. Jembatan ini terbuat dari kabel-kabel yang saling menyangga, atau disebut cable stayed. Konstruksinya disebut-sebut mirip dengan Jembatan Erasmus di Rotterdam, Belanda.

 Jalur tol Mojokerto - Kertosono

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
Jalur tol yang menghubungkan Ngawi dan Kertosono. © kompas.com

Pembangunan jalan yang berlangsung sejak 2007 ini, mulai beroperasi penuh pada 2017. Tol sepanjang 40,50 kilometer ini terletak di Jatim dan menghubungkan Mojokerto dan Kertosono. Jalur ini menjadi perpanjangan dari tol Ngawi - Kertosono.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu