Masih ingatkah kita tentang ajakan untuk mendukung anak bangsa memperoleh penghargaan Schweighofer Prize 2017 beberapa waktu yang lalu?

https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/06/04/yuk-dukung-anak-bangsa-menangkan-scweighofer-prize-2017

Setelah secara ketat terpilih menjadi 6 besar mengalahkan 36 peserta lainnya dari seluruh dunia, pada tanggal 20 Juni 2017 yang lalu, atas dukungan masyarakat Indonesia, Achmad Solikhin berhasil meraih Student Award Schweighofer Prize 2017! Lewat akun instagram-nya pula, Achmad menyatakan rasa syukur dan terima kasihnya terhadap seluruh elemen masyarakat Indonesia atas dukungan yang telah diberikan.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Penghargaan Scweighofer Prize 2017 yang dianugerahkan di Vienna City Hall, Austria ini adalah sebuah ajang penghargaan bagi para ahli, akademisi, arsitek, pebisnis, dan profesional di sektor kehutanan dunia khususnya Eropa dan Amerika. Tahun ini adalah pertama kalinya ajang tersebut mengikutsertakan mahasiswa sebagai peneliti muda untuk mengaktualisasikan idenya pada industri kehutanan dunia khususnya Eropa dan Amerika. Di Asia sendiri, hanya Tokyo University dan Shizuoka University yang terdaftar dalam ajang tersebut, dan Achmad mewakili Shizuoka University dalam ajang tersebut atas rekomendasi Prof. Suzuki Shigehiko.

Berawal dari permasalahan deforestasi dan penebangan liar yang marak di Indonesia, Achmad dan rekan-rekannya mencetuskan sebuah upaya untuk memperpanjang umur kayu dari agen perusak seperti rayap jamur, dan cuaca. Dengan upaya tersebut, diharapkan kayu tidak cepat rusak sehingga kebutuhan untuk menebang pohon baru bisa dikurangi. Idenya adalah membuat kayu tropis cepat tumbuh dari Indonesia memiliki sifat mekanik yang tinggi dan sifat superhidrofobik dengan menggunakan teknologi nanohibrid sehingga organisme seperti bakteri, jamur, dan rayap enggan berkembang biak di dalam kayu tersebut.

Ide yang dibawa oleh Achmad ini dinilai unik oleh para juri karena ide tersebut belum pernah diaplikasikan di sektor kehutanan dunia. Selain itu, ide ini juga dinilai memiliiki nilai saintifik yang tinggi yaitu sesuai dengan perkembangan jaman dan punya nilai kebaruan atau belum pernah ada sebelumnya. Namun begitu, Achmad mengaku untuk mengimplementasikan hasil penelitiannya di dunia industri, masih banyak penelitian yang harus dilakukan untuk memastikan hasilnya memiliki tingkat reproduksibilitas dan aplikatif yang tinggi. Untuk mencapai hal tersebut, Achmad pun berharap agar dapat bekerjasama dengan institusi penelitan di Indonesia seperti LIPI, BATAN, Menristekdikti, serta institusi akademik yang lain.

Achmad Solikhin bersama Prof. Yusuf Sudo Hadi, salah satu pembimbing penelitannya dan rekan-rekannya yang ikut membantu melakukan penelitian tersebut
Achmad Solikhin bersama Prof. Yusuf Sudo Hadi, salah satu pembimbing penelitannya serta rekan-rekannya yang ikut berperan dalam pengembangan kayu superhidrofobik. © Achmad Solikhin

“Saya berharap ide ini tidak hanya dapat diaplikasikan di Indonesia, tetapi di dunia, dan bermanfaat bagi umat,” ujar Achmad Solikhin ketika diwawancarai oleh Kawan GNFI.

Pemuda yang bercita-cita ingin menjadi ilmuwan ini juga berharap dapat menuntut ilmu lebih dalam tentang teknologi tersebut di jenjang pendidikan S2 dan S3 di bidang keilmuan material sains walaupun saat ini ia sedang dalam tahap menyelesaikan S3 nya di bidang Kehutanan di Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Shizuoka University dalam Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang dicanangkan oleh Kemristekdikti.

Selain sibuk menggeluti bidang sains, dan telah menebitkan 11 jurnal internasional di usianya yang masih muda, Achmad juga adalah seorang pendiri dari Indonesian Green Action Forum (IGAF). IGAF sendiri adalah sebuah wadah gerakan anak muda yang memiliki cita-cita untuk membantu terbentuknya lingkungan yang berkelanjutan (sustainable development). Sudah lebih dari 1000 orang yang tergabung dalam platform ini dengan kisaran umur 9-25 tahun. Tidak hanya telah diakui secara nasional, platform ini juga telah diakui secara internasional dan didukung oleh organisasi dunia seperti UNESCO, UNDP, YUNGA UN FAO, UNEP TUNZA SEAYEN, TUNZA Eco-generation, Eubios Ethics Institute, Flagship UNESCO Sandwatch Project, YPARD, dan World Youth Foundation.


Sumber:
Wawancara Pribadi
https://www.schweighofer-prize.org/

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu