Lupa Sandi?

"...Saya akan bangkit dari kubur"

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
0 Komentar

Siang itu, mata Lee Kuan Yew berkaca-kaca, dan tak lama kemudian, airmatanya pun terlihat menitik. Dia akan mengumumkan suatu berita yang mungkin akan membuat patah hati seluruh rakyatnya, pun juga akan mengubah Singapura...selamanya.

Itu terjadi pada awal Agustus 1965. Lee Kuan Yew (LKY) resmi mengumumkan bahwa upaya penyatuan Singapura ke Federasi Malaysia sudah dipastikan gagal. Pagi harinya, LKY telah menandatangai perjanjian dengan pihak Malaysia yang mencantumkan secara rinci bagaimana kedua bangsa bisa hidup berdampingan secara damai.

Gagalnya negosiasi 'merger' Singapura untuk menjadi bagian dari Malaysia merupakan pukulan tersendiri bagi perdana menteri lulusan Inggris tersebut. Itulah mengapa, setelah pengumuman siang itu yang dipenuhi dengan airmatanya, LKY 'menghilang' dari publik selama 6 minggu.

Kejadian dramatis tersebut terjadi LKY memimpun Singapura untuk membentuk perserikatan dengan Malaysia. Untuk mencapai hal tersebut, dia mengadakan referendum 1962 untuk meyakinkan rakyat Singapura bahwa bergabung dengan Malaysia adalah pilihan paling baik. Konon LKY merekayasa hasil refendum dan mendapatkan hasil bahwa 70% lebih rakyat Singapura memilih bergabung dengan Malaysia.

Lee Kuan Yew pasca referendum 1962 | asiaone.com
Lee Kuan Yew pasca referendum 1962 | asiaone.com

Malaysia (waktu itu masih bernama Malaya) dan Perdana Menteri Tunku Abdul Rahman, pada tahun 1961, mengusulkan sebuah negara federasi yang akanmencakung Malaya, Singapura, Sabah dan Serawak. Salah satu alasan terbesar LKY mendukung usulan Tunku Abdul Rahman adalah untuk bersama mengakhiri kekuasaan kolonial Inggris, yang tak mampu membantu dan mempertahankan Singapura dan serangan dan penguasaan Jepang dari tahun 1941 hingga 1945.

Pada September 1963, Singapura memang menjadi bagian dari Malaysia, tapi 2 tahun kemudian, perpecahan antara keduanya hampir pasti tak terelakkan, pertama karena pecahnya kerusuhan etnis antara etnis Tionghoa dengan etnis Melayu, kedua karena PM Tunku Abdul Rahman menyebut bahwa Singapura adalah 'negara bagian yang tidak setia pada pemerintah pusat'.

Terkait dengan perpecahan tersebut, Lee yang masih dilanda kesedihan menyebutkan: "Setiap kali kita melihat ke belakang, saat kita menandatangani persetujuan yang memisahkan Singapura dengan Malaysia, itu lah saat-saat yang penuh derita, karena saya selalu percaya bahwa bersatunya kedua bangsa...adalah suatu keniscayaan. Kedua bangsa ini disatukan secara geografis, ekonomis dan ikatan kekeluargaan".

LKY dan rakyatnya | wsj.net
LKY dan rakyatnya | wsj.net

Singkat cerita, LKY kemudian menjadi perdana menteri Singapura dan memimpin negeri tersebut hingga 1990, menjadi negara kecil yang tak punya apa apa tersebut, menjadi sebuah bangsa yang punya semuanya. Tak hanya kaya raya, namun kualitas Human Development Index-nya juga masuk sebagai yang tertinggi di dunia.

Dari sebuah kawasan dengan perkampungan-perkampungan nelayan, menjadi pelabuhan tersibuk dan pusat keuangan paling dihormati di dunia.

Singapura yang tak punya apa-apa pada 60-an | Hulton Archive BBC.com
Singapura yang tak punya apa-apa pada 60-an | Hulton Archive BBC.com

Banyak pengamat sudah menyampaikan berbagai analisa mereka. Namun salah satu yang paling seringkali tak disebut adalah 2 hal penting,pertama adalah semangat kebangsaan yang terpupuk karena berbagai peristiwa penting yang menyatukan hati rakyat Singapura. Penjajahan Jepang, penyatuan dengan Malaysia, lepas dari Malaysia, menjadi negara sendiri, dan bagaimana mereka bersama-sama memperjuangkan kemakmuran Singapura. Semangat yang dirasakan dalam satu kurun generasi.

Lee Kuan Yew di masa persatuan dengan Malaysia | Getty Images
Lee Kuan Yew di masa persatuan dengan Malaysia | Getty Images

Kedua, dalam rentetan peristiwa-peristiwa itu, Singapura dipimpin oleh seorang negarawan yang sangat mencintai bangsanya, dan juga rakyatnya. Pemimpin yang menginginkan rakyatnya makmur dan sejahtera, dan ingin bangsanya selalu bergerak ke depan. LKY pernah berucap:

“Even from my sick bed, even if you are going to lower me into the grave and I feel something is going wrong with Singapore, I will get up”. – Lee Kuan Yew 1988, saat perayaan kemerdekaan.

("Meskipun saya terbaring sakit di ranjang atau saya diturunkan ke dalam kubur, tapi jika ada sesuatu yang salah terjadi pada Singapura, saya akan bangkit dari kubur")

Bercerita tentang Singapura, sekali lagi, adalah bercerita tentang keajaiban yang belum pernah terjadi dalam sejarah bangsa manapun. Singapura adalah bukti nyata dari kombinasi kerja keras, disiplin, integritas, persatuan, dan kecintaan pada negeri.

LKY bergerak cepat saat mengetahui bahwa gerak cepat adalah satu-satunya pilihan saat negeri itu 'tak mempunyai apa-apa' selain sumber daya manusia. Dia bergerak cepat mengatasi berbagai masalah rasial yang waktu itu masih panas, mendorong meritokrasi, membangun kawasan-kawasan urban, mendorong hak-hak wanita, dan membangun perumahan yang terjangkau oleh sebagian besar rakyatnya.

Project Jewel, Changi di akhir 2018 akan seperti ini | propertyinvestmentsingapore.com
Project Jewel, Changi di akhir 2018 akan seperti ini | propertyinvestmentsingapore.com

Lee Kuan Yew berhasil membentuk Singapura melalui visi besar dan cerdas yang berhasil mengubah Singapura secara sangat signifikan hanya dalam jangka kurang dari 50 tahun. LKY adalah arsitek dari semua kesuksesan Singapura saat ini.

Bagaimana dengan Indonesia? Bisakah Indonesia menyamai langkah-langkah yang ditempuh tetangga kecilnya tersebut waktu beranjak maju?

Indonesia tentu saja mempunyai modal lebih besar jika dibandingkan dengan Singapura masa itu. Indonesia memiliki berjuta hal yang tak dimiliki si negeri singa. Tentu memang membangun Indonesia tak 'semudah' membangun Singapura dengan wilayah yang hanya seluas separuh wilayah Kabupaten Gunung Kidul. Namun ingat, Singapura tak mempunyai apa-apa awalnya, sementara Indonesia dikarunia...semuanya.

Indonesia, punya semuanya | bali-indonesia.com
Indonesia, punya semuanya | bali-indonesia.com

Semangat kebangsaaan kita, kecintaan dan kebanggaan kita menjadi Indonesia adalah modal penting yang harus segera kita kumpulkan. Jika itu sudah ada, kita tentu punya alasan sempurna bermimpi menjadikan Indonesia semaju Singapura.

Seperti mimpi Lee Kuan Yew akan Singapura, saat negeri itu 'ditinggalkan' Malaysia.

Dan Lee tak pernah harus bangkit dari kuburnya..

(dari berbagai sumber)

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli17%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi67%
Pilih TerpukauTerpukau17%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata