Mengembalikan DNA Indonesia, Menjadi Adidaya

Mengembalikan DNA Indonesia, Menjadi Adidaya

Ilustrasi petani © Thanh Nien News

Mungkin, salah satu yang paling membuat saya frustasi ketika jalan-jalan di sepanjang jalanan di Jawa (terutama) adalah seringnya saya melihat banyaknya alih fungsi lahan pertanian/perkebunan menjadi perumahan, industri, atau untuk peruntukan lain.

Betul, saya benar-benar frustasi, selain karena tentu saya tak bisa melakukan apapun untuk mengubahnya, juga karena alih fungsi tersebut terus terjadi setiap saat.

Namun tetap saja saya ingin menulis hal ini, setidaknya, mungkin..siapapun yang membaca ini, bisa mengerti apa yang membuat saya gelisah, dan mungkin punya power untuk mengubahnya (kalau bisa secepatnya, sebelum semuanya terlambat).

Begini.. Ke manapun saya pergi di Indonesia, terutama di kota-kota besar, saya melihat bangunan. Entah itu pertokoan, perumahan, atau bangunan-bangunan permanen lain. Saya tak melihat hal lain. Semuanya bangunan, hampir tak berasa kalau saya sedang berada di salah satu negara tropis terbesar di dunia, yang identik dengan pohon, sawah, ladang, kebun, hutan, dan pegunungan hijau.

Waktu saya SMP dulu, saya naik sepeda sepanjang Jl. Kaliurang km 9 hingga km 17 di jalan yang menanjak di pegunungan di utara Jogja, setiap pagi. Bukannya melelahkan, tapi justru suatu hal yang selalu saya nantikan setiap hari, dan kini…selalu saya rindukan. Penyebabnya satu, di sisi kiri dan kanan jalan, terhampar kehijauan padi dan sayuran, dengan lanskap tanah yang berbukit, diselingi pohon kelapa yang tinggi. Khas lanskap kawasan pegunungan di Jawa.

Waktu itu memang, everything was taken for granted, ya…alam..ya begitulah, pikir saya. Kini, semuanya telah hilang, memang belum semuanya, namun tak terlihat lagi dari jalan yang dulu biasa saya susuri memakai sepeda. Dan sepertinya sudah terlambat menyelamatkannya. Bahkan dari Jl Kaliurang saja, Gunung Merapi yang megah itu tak lagi kelihatan, karena terhalang bangunan dan baliho-baliho sepanjang jalan.

Perjalanan dari Surabaya ke Malang, adalah perjalanan 2 jam yang seharusnya menyenangkan. Dulu (konon), di sepanjang jalan itu, hamparan padi, dan tanaman pangan terpampang begitu luas, cermin nyata sebuah negara agraris, negara yang kuat di bidang penyediaan pangan. Di sisi barat dan selatan, terlihat gunung-gunung megah di Jawa Timur. Gn Arjuno, Gn Anjasmoro, Gn Welirang, dan perbukitan hijau.

Kini, lihatlah.

Kiri kanan penuh dengan bangunan, pertokoan, PKL, kantor yang ..sebenarnya mengganggu pemandangan di belakangnya. Meski begitu, siapa sangka, di belakang pemandangan yang 'menganggu' itu, ternyata masih ada lahan yang masih dipakai untuk pertanian…(entah sampai kapan). Saya khawatir, lahan inipun akan hilang dalam waktu dekat. Lahan-lahan pertanian di Jawa, pulang paling subur di Indonesia, makin habis tergantikan beton dan pabrik.

Mencukupi kebutuhan sendiri | phuket.com
Mencukupi kebutuhan sendiri | phuket.com

Saya sendiri lahir dari keluarga petani, dan…masa kecil dan remaja saya, saya habiskan membantu Bapak dan Ibu saya bersawah. Menanam padi, kacang, jagung, tebu, bahkan tembakau adalah ‘santapan’ saya di luar sekolah. Saya belajar bertani dari (alm) Bapak saya, yang belajar bertani dari kakek dan leluhurnya.

Saya menjadi tahu berbagai ilmu pertanian tradisional, misalnya cara menanam kacang yang baik, bagaimana agar ketela bisa tumbuh besar, atau bagaimana agar batang tebu menjadi manis ketika tua nanti. Saya menjadi tahu, ya karena saya melakukannya dari kecil. Karena saya sudah biasa. Dan karena keluarga saya petani, dan karena (waktu itu), Indonesia (masih) negara agraris.

Di masa saya kecil itu, saya melihat anak-anak muda yang tak sungkan berkubang lumpur, atau bermandi debu, bersawah dan berladang. Saya masih ingat, di sebuah forum di sebuah kampus di Semarang, saya bertanya kepada sekitar 300 mahasiswa yang hadir di sana di ruangan itu “berapa dari kawan-kawan semua yang orang tuanya petani?” Ada cukup banyak yang mengangkat jari. “Berapa dari kawan-kawan semua, yang bisa pernah membantu Bapak Ibu bertani?” Ada beberapa yang mengangkat jari, tapi tak lebih dari 30 orang. Pertanyaan terakhir “Berapa dari kawan semua yang bisa bertani. (Artinya, jika diberi sebidang tanah, bisa memanfaatkannya untuk bertani)?”

Tak satupun yang mengangkat jari.

Diakui atau tidak, banyak generasi muda yang menganggap bahwa bertani identik dengan..kerja berat, kesengsaraan, kemiskinan, dan kegagalan. Setidaknya, itu pandangan saya. Kita mungkin sering mendengar, ketika anak2 gagal dalam ujian, atau nilainya buruk di sekolah, di’ancam’ dengan kalimat “Sudah, kamu jadi petani saja. Nanam ketela” .

Saya rasa, mentalitas dan mindset ini sudah terbentuk kuat, dan disadari atau tidak juga ‘melukai’ sektor pertanian kita.

Sawah di Ngawi, Jatim. Ibu-ibu sepuh | beritajatim.com
Sawah di Ngawi, Jatim. Ibu-ibu sepuh | beritajatim.com

Di sepanjang sawah yang saya sering lewati dari perjalanan Surabaya – Jogja, sangat jarang saya melihat pemuda-pemuda yang terjun ke sawah. Kebanyakan para petani kita adalah mereka-mereka yang sudah berumur. Kemana para pemuda-pemudi kita? Jalan-jalanlah ke Thailand atau Vietnam, banyak pemuda-pemuda yang dengan bangga terjun ke sawah berkubang lumpur, bertani dan bercocok tanam. Dan lihatlah hasilnya..keduanya adalah pendekar-pendekar pangan di Asia Tenggara, bahkan Asia. Beras Vietnam dan buah-buahan dari Thailand merajai pasar.

Salah satu titik lemah kita di sektor pertanian adalah mungkin karena para pemudanya enggan bertani. Malu bertani. Suka tak suka, Indonesia adalah negara agraris, negeri para petani. Para petani adalah para pahlawan-pahlawan bangsa, dan pertanian adalah satu sektor yang kita kuasai. Sejak dulu kala, bertani adalah cara hidup bangsa Indonesia. Kerajaan-kerajaan besar berkembang dan makmur karena bertani, dan ilmu pertanian kita pun berkembang seiring waktu. Pun tanah kita adalah tanah yang begitu suburnya. DNA ekonomi Indonesia adalah pertanian, dan DNA itu sepertinya masih bisa kita selamatkan dan munculkan kembali. Kalau saja, ada usaha-usaha besar dan serius untuk mengembalikan ‘kehebatan’ bangsa ini bertani, insyaa Allah kita bisa menjadikan Indonesia bangsa adidaya.

Memajukan sektor pertanian, tentu tak sekedar membuka lahan-lahan pertanian baru. Hal itu sama sekali tidak cukup. Ada hal-hal lain yang harus dilakukan, misalnya riset-riset pertanian di perguruan tinggi, penegakan hukum dalam alih fungsi lahan, sentra-sentra bibit, kecukupan pupuk dan obat-obatan anti hama, logistik hasil pertanian, penghapusan makelar-makelar hasil pertanian, dan…masih banyak lagi.

Benar, bukan kerja yang ringan.

Pilih BanggaBangga20%
Pilih SedihSedih32%
Pilih SenangSenang12%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi16%
Pilih TerpukauTerpukau16%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tarian "Animal Pop" Meriahkan Grand Final Miss Jakarta Fair 2017 Sebelummnya

Tarian "Animal Pop" Meriahkan Grand Final Miss Jakarta Fair 2017

Begini Rencana Ekosistem Mobil Listrik di Bandara Soetta Selanjutnya

Begini Rencana Ekosistem Mobil Listrik di Bandara Soetta

Akhyari Hananto
@akhyari

Akhyari Hananto

http://www.goodnewsfromindonesia.org

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to understand it. My banking career continued in Yogyakarta when I joined in a program funded by the Asian Development Bank (ADB),as the coordinator for a program aimed to help improve the quality of learning and teaching process in private universities in Yogyakarta. When the earthquake stroke Yogyakarta, I chose to join an international NGO working in the area of ?disaster response and management, which allows me to help rebuild the city, as well as other disaster-stricken area in Indonesia. I went on to become the coordinator for emergency response in the Asia Pacific region. Then I was assigned for 1 year in Cambodia, as a country coordinator mostly to deliver developmental programs (water and sanitation, education, livelihood). In 2009, he continued his career as a protocol and HR officer at the U.S. Consulate General in Surabaya, and two years later I joined the Political and Economic Section until now, where i have to deal with extensive range of people and government officials, as well as private and government institution troughout eastern Indonesia. I am the founder and Editor-in-Chief in Good News From Indonesia (GNFI), a growing and influential social media movement, and was selected as one of The Most Influential Netizen 2011 by The Marketeers magazine. I also wrote a book on "Fundamentals of Disaster Management in 2007"?, "Good News From Indonesia : Beragam Prestasi Anak Bangsa di dunia"? which was luanched in August 2013, and "Indonesia Bersyukur"? which is launched in Sept 2013. In 2014, 3 books were released in which i was one of the writer; "Indonesia Pelangi Dunia"?, "Indonesia The Untold Stories"? and "Growing! Meretas Jalan Kejayaan" I give lectures to students in lectures nationwide, sharing on full range of issues, from economy, to diplomacy

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.