Lupa Sandi?

Benarkah Indonesia Perlu Membangun Kapal Induk?

Akhyari Hananto
Akhyari Hananto
1 Komentar
Benarkah Indonesia Perlu Membangun Kapal Induk?

Setidaknya sejak seminggu terakhir ini, dunia sosial media Indonesia cukup diramaikan dengan beredarnya gambar kapal induk (aircraft carrier) yang akan dimiliki oleh TNI Angkatan Laut. Entah berita tersebut dari mana asalnya, tapi gambar-gambar design kapal induk yang konon akan bernama KRI Nusantara tersebut bersliweran di linimasa sosial media kita. Konon rancangan dari kapal induk Indonesia tersebut nantinya akan dilengkapi dengan mesin/turbin uap yang bertenaga nuklir sebagai mesin penggerak utamanya.

Tapi benarkah Indonesia sudah mempersiapkan diri untuk memiliki dan mengoperasikan kapal induk? Atau...benarkah Indonesia memerlukan kapal induk?

Sejauh ini, di Asia Tenggara, hanya Thailand yang memiliki kapal induk ukuran sedang "HTMS Chakri Naruebet" yang bahkan tidak 'dihuni' oleh pesawat tempur, dan hanya diisi dengan beberapa helikopter. Kapal ini pun teramat jarang berlayar ke lautan lepas, dan bahkan oleh AL Thailand dijuluki "An Offshore Helicopter Carrier". AL Thailand membeli bekas kapal AV-8S Matadors tersebut dari Spanyol.

Konon karena biaya maintenance-nya yang tinggi, kapal ini memang jarang dioperasikan.

HTMS Chakri Naruebet | Naval Technology
HTMS Chakri Naruebet | Naval Technology

Memang, untuk mempunyai kapal induk pesawat tempur, perlu usaha teramat ekstra. Selain harganya mahal, pengoperasiannya juga amat mahal, dan bukan hal mudah. Negara sebesar dan sekaya China pun, "hanya" memiliki satu kapal induk yang bernama "Lianoning" yang merupakan bekas kapal induk buatan Uni Sovyet kelas Kuznetsov yang mulai dibangun pada 1985, dan dihentikan pada 1991 pasca runtuhnya Sovyet.

China kemudian membeli dan membangunnya kembali dan selesai pada 2016. Kapal berbobot mati 53 ribu ton inipun bukanlah yang tercanggih dan terbesar di dunia, dan "hanya" mampu membawa 40 pesawat tempur. Bandingkan dengan kapal induk milik AL AS USS Nimitz yang mampu membawa hingga 90 pesawat.

Kapal induk "Lianoning" milik AL China | scmp.com
Kapal induk "Lianoning" milik AL China | scmp.com

Selain itu, menurut ahli militer China Li Jie yang dikutip South China Morning Post, negara tersebut setidaknya perlu 4 kapal induk. "Satu kapal induk saja takkan cukup menjadi kekuatan penggempur, karena masih perlu kehadiran kapal perang lain untuk membentuk grup penyerang, dan sekaligus memberikan perlindungan satu sama lain".

Saat ini, AL AS memiliki 10 kapal induk yang berbasis di AS dan di luar negeri. Kapal induk ke-11, yakni USS Gerald R. Ford mulai melaut. Bayangkan, biaya membangun sendiri (bukan membeli) USS Gerald R Ford mencapai $12.8 milyar, setara Rp. 166 trilyun, jumlah yang tak sedikit untuk ukuran Indonesia. Belum lagi pengoperasiannya yang mencapai $7 juta per hari, setara dengan $91 milyar per hari. Sungguh bukan jumlah yang sedikit.

USS Gerald Ford | Youtube.com
USS Gerald Ford | Youtube.com

Ini dari segi pembiayaan. Lalu dari segi kebutuhan, apakah Indonesia benar-benar membutuhkan kapal induk?

Sepengetahuan penulis, kapal induk memang tidak masuk dalam kajian pengadaan alutsista. Beberapa waktu lalu, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo juga mengatakan bahwaIndonesia butuh tambahan kapal selam sebagai alat pertahanan. Dia mengatakan, Indonesia sebagai negara maritim yang besar, idealnya memiliki enam kapal selam pada satu gugus perang yang digunakan bergantian.

Sedangkan potensi Indonesia yang kaya akan pulau-pulau maka menurut Gatot hal itulah yang bisa dimanfaatkan menjadi kapal induk, seperti dikutip dari vivanews.com

“Kita tidak butuh kapal induk, pulau-pulau kita jadikan kapal induk. Kalau di sini bisa kita letakkan pesawat tempur, pesawat transportasi, kemudian kapal-kapal dan juga logistik, terus apa bedanya pulau ini dengan kapal induk untuk menjaga wilayah,” katanya.

Namun bila yang jadi rujukan adalah kapal induk helikopter, tentu ini sangat realistis, dan secara teknologi sudah memungkinkan dibangun oleh industri strategis Dalam Negeri. Bahkan saat ini, TNI AL sudah mengoperasikan 5 kapal LPD (Landing Platform Dock) yang mampu membawa dan didarati helikopter (bisa disebut Helicopter Carrier).

LPD KRI Banjarmasin | Indomiliter.com
LPD KRI Banjarmasin | Indomiliter.com

Seperti dikutip dari Indomiliter.com,d alam konteks dukungan pada operasi tempur, helicopter carrier akan memenang peranan vital. Dengan kemampuan logistik, komunikasi dan hub transportasi, kapal ini bisa didaulat menjadi kapal markas. Sebagai kapal induk helikopter, dalam konsepnya PT PAL menyebut luas deck utama dapat didarati delapan unit helikopter ukuran sedang. Sementara masih ada delapan unit helikopter lainnya yang berada di dalam hanggar. Belum lagi peralatan tempur lain dan ratusan personel tempur.

Kita yakin, bahwa para petinggi militer Indonesia sudah mempunyai konsep pertahanan yang didalamnya termasuk kebutuhan akan sarana dan prasarananya. Pun meyakini bahwa TNI akan terus menambah kemampuan tempurnya.

Pilih BanggaBangga68%
Pilih SedihSedih10%
Pilih SenangSenang5%
Pilih Tak PeduliTak Peduli3%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi8%
Pilih TerpukauTerpukau6%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AKHYARI HANANTO

I began my career in the banking industry in 1997, and stayed approx 6 years in it. This industry boost his knowledge about the economic condition in Indonesia, both macro and micro, and how to unders ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata