Pentolan antaragama Indonesia dan Singapura berkumpul dalam agenda pertukaran pemimpin antaragama.

Agenda yang berlangsung di Singapura tersebut diselenggarakan oleh komunitas antaragama Singapura dan Kedutaan Besar Indonesia di Singapura. Program ini merupakan bagian dari rangkaian acara untuk menandai 50 tahun hubungan antara Singapura dan Indonesia.

Para pemimpin agama yang terlibat dijadwalkan mengunjungi rumah ibadah, organisasi keagamaan, mengikuti upacara keagamaan hingga berbicara di forum dialog lintas agama. Para peserta kunjungi Dewan Wakaf Hindu, Dewan Agama Islam Singapura (Muis), Komunitas Buddha Mahakaruna dan Gereja St Mary of the Angels.

Menteri kedua negara telah pula memberi pidato yang menjelaskan banyaknya kesamaan yang dimiliki masing-masing agama. Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa di luar perbedaan ritual, agama memiliki prinsip dasar yang sama dalam menegakkan keadilan dan kesetaraan semua umat manusia.

Menteri Sosial dan Keluarga Singapura Tan Chuan-Jin mengatakan bahwa perdamaian dan toleransi sangat penting bagi semua agama. Tapi dialog dibutuhkan bagi penganut agama untuk menemukan kesamaan seperti ini, katanya.

Bagi peserta, dialog antar agama harus sering diadakan agar mendorong semangat kebersamaan. Pemimpin juga menekankan pentingnya keinginan untuk mempelajari agama lain.

Kuncinya adalah menghormati perbedaan dan menerima keberadaan agama lain, kata Dr Abdul Mu'ti, seorang dosen senior di Universitas Umum Islam Walisongo di Indonesia. Pendeta Martin Lukito dari Gereja Protestan Simalungun di Jakarta meminta dukungan masyarakat untuk mengembangkan toleransi dan harmoni.

"Jika kita berdiam diri, maka diskusi tentang agama mungkin didominasi oleh ucapan kebencian," serunya.

Garis pertahanan pertama melawan konflik agama adalah hubungan yang erat antar pemimpin agama, jelas Sosiolog National University of Singapore Syed Farid Alatas. Dengan persahabatan, ketika terjadi kesalahpahaman antaragama, dialog dapat dilakukan untuk temukan jalan keluar.

Selanjutnya di Straits Times.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu