Lupa Sandi?

Indonesia Raya Akan Dinyanyikan Lebih Panjang di Sekolah?

Agatha Olivia Victoria
Agatha Olivia Victoria
0 Komentar
Indonesia Raya Akan Dinyanyikan Lebih Panjang di Sekolah?

Kementerian pendidikan berencana mengenalkan versi utuh lagu Indonesia Raya. Mengapa?

Dilansir dari tirto.id, ide mempopulerkan lagu Indonesia Raya versi tiga stanza atau bait sudah datang setahun lalu. Hilmar mengatakan saat itu Kementerian Pendidikan memiliki apa yang disebut program pendidikan karakter. Masing-masing direktorat diminta untuk memberi dukungan terhadap program tersebut. Hilmar mengusulkan sebuah program yang sederhana tetapi berdampak.

Dari diskusi bersama, Hilmar berpikir untuk menggunakan musik sebagai media pendidikan karakter. Setelah itu tercetus ide untuk memopulerkan kembali Indonesia Raya dalam tiga stanza dengan beberapa pertimbangan. Pertimbangan itu di antaranya, sudah hilangnya upacara bendera di beberapa sekolah, sudah dilupakannya Indonesia Raya tiga stanza yang di dalamnya tersirat perjuangan bangsa Indonesia. Sebagai langkah awal, Direktorat Kebudayaan menggelar acara bertajuk “Merayakan Indonesia Raya” yang di dalamnya berisi acara menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza.

Lagu Indonesia Raya  pertama kali dikumandangkan oleh W. R. Supratman pada Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Dengan memainkan biola, W.R Supratman memperkenalkan lagu Indonesia Raya bersamaan dengan lahirnya Sumpah Pemuda. 

Lirik lagu 'Indonesia Raya' ketika itu:

Indonesia, tanah airkoe,
Tanah toempah darahkoe,
Disanalah akoe berdiri,
Mendjaga Pandoe Iboekoe.

Indonesia kebangsaankoe,
Kebangsaan tanah airkoe,
Marilah kita berseroe:
"Indonesia Bersatoe".

Hidoeplah tanahkoe,
Hidoeplah neg'rikoe,
Bangsakoe, djiwakoe, semoea,
Bangoenlah rajatnja,
Bangoenlah badannja,
Oentoek Indonesia Raja.

II

Indonesia, tanah jang moelia,
Tanah kita jang kaja,
Disanalah akoe hidoep,
Oentoek s'lama-lamanja.

Indonesia, tanah poesaka,
Poesaka kita semoea,
Marilah kita mendoa:
"Indonesia Bahagia".

Soeboerlah tanahnja,
Soeboerlah djiwanja,
Bangsanja, rajatnja, semoeanja,
Sedarlah hatinja,
Sedarlah boedinja,
Oentoek Indonesia Raja.

III

Indonesia, tanah jang soetji,
Bagi kita disini,
Disanalah kita berdiri,
Mendjaga Iboe sedjati.

Indonesia, tanah berseri,
Tanah jang terkoetjintai,
Marilah kita berdjandji:
"Indonesia Bersatoe"

S'lamatlah rajatnja,
S'lamatlah poet'ranja,
Poelaoenja, laoetnja, semoea,
Madjoelah neg'rinja,
Madjoelah Pandoenja,
Oentoek Indonesia Raja.

Refrain

Indones', Indones',
Moelia, Moelia,
Tanahkoe, neg'rikoe jang koetjinta.
Indones', Indones',
Moelia, Moelia,
Hidoeplah Indonesia Raja.

Lirik dan notasi lagu ini dimuat di surat kabar Sin Po edisi 10 November 1928. Semula lagu ini judulnya 'Indonesia', bukan 'Indonesia Raja' atau 'Indonesia Raya'. Menurut Benny Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2003), 5.000 eksemplar teks lirik dan notasi itu dicetak. Sin Po adalah tempat Supratman bekerja cari makan sebagai jurnalis.

Tetapi pada tahun 1930, lagu ini dilarang untuk dinyanyikan oleh pemerintah Belanda karena dianggap menganggu ketertiban dan keamanan. Ketika Balatentara Jepang baru datang dan merebut Hindia Belanda, lagu ini sempat berkumandang bebas untuk sementara waktu. Setelah Maret 1942, lagu ini jadi lagu terlarang. Setelah armada perang Jepang makin loyo di front Pasifik, ada usaha untuk memperbarui liriknya. Jelang akhir 1944, Panitia Lagu Kebangsaan pun bekerja.

“Tidak ada keseragaman dalam cara orang memperdengarkan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam berbagai upacara. Oleh karenanya, Pemerintah Republik Indonesia dengan Penetapan Presiden No. 28 tahun 1948, tanggal 16 November 1948, membentuk Panitia Negara yang disebut Panitia Indonesia Raya,” tulis Bambang Sularto. 

Tugas panitia ini mengusulkan tata cara menyanyikan 'Indonesia Raya' dalam upacara resmi maupun tidak. Sepuluh tahun setelahnya, ketika Menteri Kehakiman dipegang GE Maengkom dan Perdana Menteri dijabat Ir. Djuanda, 26 Juni 1958, keluarlah Peraturan Pemerintah No. 44 tahun 1958 tentang Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan Lembaran Negara No. 72 tahun 1958 tentang Lagu KebangsaanIndonesia Raya. Liriknya pun sama seperti yang dinyanyikan sekarang.

Sampai sekarang, lagu Indonesia Raya selalu berkumandang di tiap upacara. Tetapi hanya stanza/bait pertama saja yang dinyanyikan. Tetapi rencananya pada tahun ajaran baru  Juli 2017, pemerintah akan menerapkan untuk menyanyikan stanza kedua dan ketiga Indonesia Raya pada upacara tertentu.

"Bisa bulanan, misalnya setiap tanggal 17, atau di hari-hari yang penting," tambah Hilmar kepada Tirto, 20 Juni lalu.

Berikut lagu Indonesia Raya tiga stanza yang dikumandangkan oleh paduan suara Gita Bahana Nusantara


Sumber: Tirto.id

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau100%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AGATHA OLIVIA VICTORIA

Started as a Communication Student in Universitas Sriwijaya, Palembang. As a girl I’m a courageous one and I love challenge. I love travelling. My soul craves for new experiences and adventures. I w ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Andrea Hirata

Berhenti bercita-cita adalah tragedi terbesar dalam hidup manusia.

— Andrea Hirata