Meneladani 5 Sikap Berpolitik Tokoh Afrika Selatan yang Gemar Berbaju Batik

Meneladani 5 Sikap Berpolitik Tokoh Afrika Selatan yang Gemar Berbaju Batik

Batik adalah pakaian favoritnya © npr.org

18 Juli adalah hari lahirnya di Mvezo, sebuah desa kecil di sebelah timur Afrika Selatan. Lahir dari klan terhormat dirinya tumbuh dewasa menjadi seorang pengacara di Johannesburg. Namun klan dan profesinya saat itu tidaklah berarti apa-apa sebab di masa itu terjadi politik apartheid yang mendiskriminasi etnis berkulit hitam dengan etnis berkulit putih yang ada di negara bekas koloni kerajaan Inggris itu.

Konflik antara etnis kulit hitam dengan etnis kulit putih kerap kali terjadi. Konflik juga dialami oleh sosok yang nantinya menjadi presiden pertama Afrika Selatan dari etnis kulis hitam. Akibat konflik dan diskriminasi inilah kemudian dirinya mulai terjun ke dunia pergerakan. Mengumpulkan masa dan menggalang dukungan untuk mengubah situasi. Tujuannya satu, menghapuskan politik apartheid.

Perjuangannya tidak mudah, teror dan intimidasi terjadi pada dirinya dan keluarganya. Harus berkorban meninggalkan anak dan istrinya untuk membela rekan-rekan perjuangannya. Bahkan dirinya juga harus rela untuk dipenjara selama 27 tahun di sebuah pulau terpencil akibat dianggap terlibat dalam upaya teror pengeboman pembangkit listrik. Hingga akhirnya bebas pada 1 Februari 1990 dan terpilih secara demokratis sebagai presiden pada tahun 1994 setahun setelah politik apartheid dihapuskan. Sosok pejuang kebebasan itu adalah Nelson Rolihlahla Mandela atau yang terkenal dengan nama Nelson Mandela.

Menariknya, perjuangan Nelson Mandela untuk menghapuskan apartheid sedikit banyak dipengaruhi oleh Indonesia. Mandela diceritakan mengetahui tentang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pertama Asia-Afrika yang digagas oleh lima negara yakni Indonesia, Pakistan, India, Burma (sekarang Myanmar) dan Sri Lanka. Sejak mendengar pidato Soekarno di konferensi yang digelar di Bandung pada tahun 1955 tersebut, Mandela konon menjadi lebih berani untuk memperjuangkan hak-hak kesetaraan di tanah airnya. Hingga akhirnya dipenjara pada tahun 1962.

Nelson Mandela (Foto: huffpost.com)
Nelson Mandela (Foto: huffpost.com)

Mandela usai dibebaskan hampir tiga dekade kemudian terbang ke Indonesia untuk melihat jejak-jejak sejarah KTT Asia-Afrika di Bandung. Tepatnya pada 21 Oktober 1990 (delapan bulan setelah dibebaskan dari penjara) Mandela menjejakkan kaki di Gedung Asia Afrika di ibukota Parahyangan. Di momen kunjungannya ini pulalah, Mandela dikenalkan dengan pakaian batik yang akhirnya menjadi pakaian favoritnya disetiap acara resmi. Karena sangat sering digunakan batik yang digunakannya bahkan dikenal sebagai Madiba Shirt.

Satu tahun sepuluh hari setelah dibebaskan dari penjara, perjuangan Mandela dan rekan-rekannya akhirnya berbuah manis. Pada 21 Februari 1991, politik apartheid akhirnya dihapuskan setelah presiden Afrika Selatan saat itu, Frederik Willem de Kerk menghapus undang-undang apartheid. Tiga tahun kemudian Mandela terpilih sebagai presiden pertama sejak apartheid dihapus.

Sejak saat itu Nelson Mandela dipandang sebagai sosok teladan dalam perjuangan kemanusiaan dan politik. Kisah hidupnya menginspirasi banyak orang untuk percaya bahwa tidak ada yang mustahil untuk mengubah situasi menjadi lebih baik.

Nelson Mandela wafat dalam usia 95 tahun pada 5 Desember 2013. Namun kini setiap tanggal 18 Juli diperingatilah hari Nelson Mandela di seluruh dunia. Kita sebagai masyarakat Indonesia mungkin bisa meneladani gaya berpolitik Mandela sebagai contoh memperjuangkan perubahan yang mulia.

Berikut adalah kira-kira teladan yang bisa kita ambil dari gaya berpolitik Nelson Mandela.

1. Berkompromi

Nelson Mandela yang lahir dari klan terhormat terkenal sebagai sosok yang tanpa kompromi dan cenderung keras kepala. Namun untuk mewujudkan tujuan bersama: untuk menghapuskan diskriminasi warna kulit, dirinya rela untuk melakukan dialog, negosiasi dan berkompromi dengan musuh.

“You mustn’t compromise your principles, but you mustn’t humiliate the opposition. No one is more dangerous than one who is humiliated.” – Nelson Mandela

Kamu tidak boleh mengkompromikan prinsipmu, namun kamu tidak boleh merendahkan lawan. Tidak ada orang yang lebih berbahaya kecuali orang yang telah terhina.

“If you want to make peace with your enemy, you have to work with your enemy. Then he becomes your partner.” – Nelson Mandela

Jika kamu ingin berdamai dengan musuhmu, kamu harus bekerja sama dengan musuhmu. Maka dia kemudian akan menjadi kawanmu.

2. Kekerasan bukan solusi

Mandela juga sempat dikenal sebagai sosok yang melakukan kekerasan di keluarganya. Namun dirinya bahkan tidak sedikitpun menginginkan terjadinya kekerasan dalam mencapai tujuannya menghapuskan apartheid. Meski dirinya sempat terlibat dalam aksi teror dan dipenjara. Sejak dibebaskan dari penjara, upaya damai adalah satu-satunya metode yang digunakan Mandela.

“We can’t win a war, but we can win an election.” – Nelson Mandela

"Kita tidak bisa memenangkan sebuah perang, namun kita bisa memenangkan sebuah pemilu."

3. Belajar untuk Bisa Memaafkan

Dalam dunia politik sikap memaafkan kerap dilihat sebagai sikap yang lemah dan lembek. Namun Mandela memandang bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih indah bagi Afrika Selatan tanpa kebaikan dan memaafkan. Salah satu upayanya memaafkan musuh adalah dengan belajar bahasa penindasnya, bahasa Afrikaans. Kemudian menolak untuk membalas dendam atas opresi-opresi yang telah dilakukan pemerintah pada dirinya.

“If there are dreams of a beautiful South Africa, there are also roads that lead to that goal. Two of these roads could be named Goodness and Forgiveness.” – Nelson Mandela

"Jika memimpikan Afrika Selatan yang indah, maka ada berbagai jalan yang bisa menuju tujuan itu. Dua dari jalan-jalan itu adalah kebaikan dan memaafkan."

4. Tidak ada ruang untuk diskriminasi

Diskriminasi bagi Mandela adalah sesuatu yang tidak bisa diterima. Baik itu terjadi pada kulit hitam maupun bagi kulit putih. Itu sebabnya Mandela kerap kali bermimpi untuk bisa bergandeng tangan dengan berbagai jenis masyarakat.

"I detest racialism because I regard it as a barbaric thing, whether it comes from a black man or a white man.” – Nelson Mandela

"Saya membenci rasialisme karena saya memandangnya sebagai sesuatu yang barbar. Tidak peduli apakah itu dilakukan oleh orang berkulit hitam ataupun orang berkulit putih."

5. Meninggalkan masa lalu dan menatap masa depan

Memahami kisah perjuangan Mandela, kita pasti mengamini bahwa Mandela punya segala alasan untuk menganggapnya sebagai masa lalu yang kelam. Namun dirinya menolak untuk menerima masa lalu itu sebagai alasan untuk tidak mengubah situasi. Sebab dirinya memiliki visi masa depan berupa kedamaian dan persatuan untuk Tanah Airnya.

“We don’t have to be victims of our past, that we can let go of our bitterness, and that all of us can achieve greatness.” – Nelson Mandela

"Kita tidak boleh menjadi korban dari masa lalu kita. Kita bisa melupakan kepahitan dan kita semua bisa meraih kejayaan."

Sumber: Wikipedia, Mandela: long way to freedom,

Pilih BanggaBangga32%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang3%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi61%
Pilih TerpukauTerpukau3%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Dengarlah. Announcement di Bandara ini Gunakan Bahasa Jawa Halus Sebelummnya

Dengarlah. Announcement di Bandara ini Gunakan Bahasa Jawa Halus

Tokoh Muda Indonesia Ini Masuk Daftar "Next100" Majalah Time Selanjutnya

Tokoh Muda Indonesia Ini Masuk Daftar "Next100" Majalah Time

Bagus Ramadhan
@bagusdr

Bagus Ramadhan

http://bagusramadhan.id

Seorang copywriter dan penulis konten yang berusaha menebar inspirasi dan semangat lewat konten-konten berkualitas untuk kehidupan yang lebih baik.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.