Lupa Sandi?

Penulis Berbakat Indonesia Ini Akan Hadir di Festival Literatur ASEAN

Agatha Olivia Victoria
Agatha Olivia Victoria
0 Komentar
Penulis Berbakat Indonesia Ini Akan Hadir di Festival Literatur ASEAN

Festival Sastra ASEAN yang keempat akan digelar di Kota Tua pada tanggal 3-6 agustus 2017. Festival ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas karya sastra di ASEAN serta membangun jembatan bagi orang sastra dan masyarakat luas di kawasan ini mengenal budaya, seni dan karya sastra satu sama lain. Dalam Festival ini, karya sastra dari berbagai penulis di ASEAN akan ditampilkan.

Karya-karya sastra penulis Indonesia juga akan ditampilkan didalamnya. Terdapat 20 penulis Indonesia yang karyanya akan ditampilkan di festival ini.

1. Alanda Kariza

Baru berusia 26 tahun, 10 buku telah dipublikasikan oleh Alanda Kariza. Memulai kariernya sebagai penulis dengan mempublikasikan buku pertamanya pada umur 14 tahun,  Alanda Kariza juga turut berkontribusi di beberapa media.

2. Ahmad Fuadi

Novel pertamanya, Negeri 5 Menara terjual lebih dari 100.000 copy di tahun pertama rilis. Tidak hanya itu, Novel Negeri 5 Menara diterjemahkan kedalam bahasa inggris dan diadaptasi menjadi sebuah feature. 

3. Arswendo Atmowiloto

Atas kontribusinya terhadap sastra, Arswendo dianugrahi ASEAN Awards Culture Communication & Literary Works di Bangkok, Thailand  pada tahun 1987.  Sebagai penulis dan juga wartawan, ia telah memproduksi banyak novel dan artikel.

3. Candra Malik

 Sebagai seorang tokoh sufi, wartawan, sastrawan,  penyanyi lagu reliji, pemeran film dan juga penulis Candra Malik telah banyak berkontribusi untuk dunia sastra. 9 buku telah ia publikasikan, salah satunya tentang sosial budaya (Sekumpulan Esai Republik Ken Arok), empat buku tentang sufi (Makrifat Cinta, Menyambut Kematian, Ikhlaskanlah Allah, dan Meditasi Mengenal Diri), empat buku lainya tentang literatur (Antologi #FatwaRindu Cinta 1001 RinduMustikaMawar Hitam short stories, Asal Muasal Pelukan poetrie dan Layla novel).

4. Dwitasari

Hasil gambar untuk dwitasari penulis

Terkenal di sosial media, Dwitasari merupakan penulis dari 13 buku dimana 4 bukunya telah diadaptasi menjadi film. Buku pertamanya yang bertajuk Raksasa dari Jogja kia menjadi perbincangan khalayak muda di tahun 2012. Saat ini, Dwitasari sedang mengasah keahliannya di bidang menulis skrip film layar lebar. 

5. Ernest Prakasa

Ernest Prakasa mulai terkenal semenjak dirinya meraih juara ketiga di acara Stand Up Comedy Indonesia. Ernest juga pernah memenangkan Indonesia Box Office Movie Awards 2016 sebagai Penulis Skenario terbaik di film "Ngenest". 

6. Feby Indirani

Feby telah menulis banyak buku fiksi maupun non-fiksi, seperti Ahmadiyah: Keyakinan yang Digugat (PDAT, 2005), Alien Itu Memilihku (Gramedia Pustaka Utama, 2014); I Can (Not) Hear(Gagas Media, 2008), I Can (not) yang memenangkan Indonesian Reader's Choice Book Award 2010; Just Alvin (Gagas Media, 2012), Clara's Medal (Noura Publisher, 2011), dan masih banyak lagi. 

7. Goenawan Soesatyo Mohamad

Sastrawan Indonesia yang juga merupakan pendiri majalah di Indonesia. Goenawan Soesatyo Mohamad juga merupakan seorang penyair. Kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971), yang diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang dan Prancis. Sebagian esainya terhimpun dalam Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972), Seks, Sastra, dan Kita (1980) merupakan sebagian dari karyanya. 

8. Hikmat Darmawan

Dikenal sebagai pakar komik dan pengamat budaya pop, dan telah menulis berbagai esai dan buku dalam bidang ini. 

9. Intan Andaru

Intan Andaru, yang juga dikenal dengan nama pena nya Andaru Intan. Novel Intan yang sudah terbit yaitu, 33 Senja di Halmahera (Gramedia Pustaka Utama, 2017), Teman Hidup (Diva Press, 2017), Namamu dalam Doaku (Diva Press, 2015), dan LDR (Grasindo, 2015). Buku pertamanya yang ia terbitkan sendiri, Saat Waktu Berkejaran, cerita pendek tentang orang yang hidup dengan HIV / AIDS memenangkan penghargaan dari salah satu komunitas penulis di Indonesia pada tahun 2013.

10. Ira Lathief

Ira Lathief adalah penulis dari 17 buku, Creative Writer, Creative Traveller, dan Creative Thinker. Ia telah menerbitkan buku dari berbagai genre, mulai dari Biografi, Buku Anak-anak, hingga Buku Motivasi, yang dua di antaranya berjudul "Normal Membosankan" dan "Apa yang Anda Cinta Yang Anda Cinta" yang terdaftar sebagai Penjualan terbaik.

11. Lala Bohang

Lala Bohang saat ini berprofesi sebagai seniman dan penulis di Jakarta. Buku of the Invisible Questions (2017, Gramedia Pustaka Utama) adalah buku ketiganya setelah The Book of Forbidden Feelings (2016, Gramedia Pustaka Utama) dan Lula Lyfe (2016, Gramedia Pustaka Utama).

12. M. Aan Masyur

Seorang penyair muda yang dikenal sebagai penyair paling sukses di Indonesia saat ini. Koleksi puisinya Dilihat Api Bekerja dan Tiada New York Hari Ini (puisi di film Ada Apa Dengan Cinta) adalah buku puisi terlaris di Indonesia yang terjual lebih dari 10.000 eksemplar. Selain itu, Aan juga merupakan pustakawan dan salah satu penggagas Makassar International Writer Festival.

13. Maria Hartiningsih

Berfokus pada hak asasi manusia dan kemanusiaan, pembangunan dan demokrasi serta hubungan kekuasaan, keragaman, persamaan dan spritualitas yang tidak seimbang pada tahun 2003 Maria menerima Yap Thiam Hien Award, penghargaan paling bergengsi di Indonesia dalam hak asasi manusia.

14. Martin Aleida

Cerita pendeknya yang berjudul Tanah Air dianugerahi sebagai cerita pendek terbaik Kompas tahun 2017. Ia banyak menulis tentang masa-masa orde lama.

15. Metta Dharmasaputra

Pada tahun 2014, Metta meluncurkan bukunya "Saksi Kunci" (Key Witness, versi bahasa Inggris pada tahun 2015) yang berisi kisah lengkap penyelidikannya tentang kasus penipuan pajak terbesar di Indonesia oleh perusahaan minyak sawit raksasa Asian Agri Group yang ditulis selama enam tahun. Untuk liputan investigasinya terhadap Asian Agri, ia menerima Penghargaan Udin dari Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI) pada tahun 2008 dan dinyatakan sebagai Wartawan Tahun 2007 oleh Reformed Indonesian Journalist Association (PWI Reformasi).

16. Muhammad “Mice” Misrad

Indonesia 1998 adalah karya pertamanya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karirnya sebagai kartunis satire sosial dan politik dimulai pada tahun 1997.

17. Nasir Tamara

Satu-satunya jurnalis Indonesia dan satu dari dua wartawan Asia yang terbang dengan Ayatullah Khomeini dari Paris ke Teheran pada tahun 1979 untuk menyaksikan langsung jatuhnya Shah Iran yang kuat dan kemunculan republik Islam tersebut. Dia kemudian menulis pengalamannya selama momen bersejarah menjadi buku terlaris dan buku klasik Revolusi Iran.

18. Ni Komang Ariani

Ni Komang merupakan penulis cerpen. Cerpennya banayk dimuat di media massa. Novelnya, Nyanyi Sunyi Celah Tebing, memenangkan hadiah pertama dalam kontes cerita serial Femina tahun 2007. Pada tahun 2011, ia diundang ke Ubud Writers and Readers Festival. Karya terbitannya meliputi penyusunan cerita pendek Lidah dan Bukan Permaisuri. Dua novel: Senjakala dan Jas Putih. Kompilasi cerpen terbarunya, Ketut Rapti, diterbitkan pada bulan Juni 2017.

19. Saras Dewi

Profesor Filsafat dan mantan Kepala Studi Filsafat di Universitas Indonesia (2011-2016). Dia telah menulis di berbagai jurnal terkemuka Indonesia dan internasional mengenai literatur, feminisme, hak asasi manusia, filsafat timur dan etika lingkungan, terbitan jurnal terbarunya adalah di Brill Journal tentang Sastra Terlibat.

20. Yusri Fajar

Ia adalah dosen pengajar sastra dan penulisan kreatif di Program Studi Studi Budaya Inggris Universitas Brawijaya, Malang, sejak tahun 2003. Ia juga dewan panitia dalam bidang sastra di Dewan Kesenian Jawa Timur (2014-2019). Kumpulan esainya "Sastra yang Melintasi Batas dan Identitas (Sastra yang Melintasi Batas dan Identitas)" dan antologi puisinya "Kepada Kamu yang Ditunggu Salju (Dirikan oleh Salju)" dirilis pada 2017. Ia menghasilkan koleksi dari Cerita pendek "Surat dari Praha" (Surat dari Praha) pada tahun 2012.

Sumber: Asean Literary Festival

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG AGATHA OLIVIA VICTORIA

Started as a Communication Student in Universitas Sriwijaya, Palembang. As a girl I’m a courageous one and I love challenge. I love travelling. My soul craves for new experiences and adventures. I w ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie