Berusaha Atasi Kelangkaan Garam, Peneliti IPB Luncurkan Teknologi Pengendapan Garam

Berusaha Atasi Kelangkaan Garam, Peneliti IPB Luncurkan Teknologi Pengendapan Garam

Ilustrasi petani garam © ivoteph.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠. Rekomendasi lain dari WHO

Permasalahan langkanya garam belum lama ini mendapat perhatian dari kalangan peneliti. Seperti peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) yang hadirkan teknologi untuk pengendapan garam secara cepat. Teknologi ini menggunakan prinsip multistage precipitation yang mampu menghasilkan garam berkualitas 1 dengan kandungan NaCl mencapai 99,78 persen.

Sebagaimana dilansir humas IPB, pihak IPB telah bekerja sama dengan Universitas Trunojoyo untuk melakukan uji coba teknologi ini dalam skala tambak. Universitas Trunojoyo sendiri merupakan universitas yang ditunjuk Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI sebagai pusat unggulan Iptek garam.

Inovator teknologi pengendapan garam ini, Dr. Muhamad Khotib, mengatakan bahwa karakteristik garam rakyat yang dihasilkan petani saat ini ternyata memiliki kadar NaCl 85-97 persen (dry basis), sehingga sangat tidak memenuhi standar.

Pasar Indonesia sendiri memiliki klasifikasi persyaratan untuk garam kualitas No.1, NaCl 98 persen, kadar air maksimal 4 persen; untuk kualitas No. 2, NaCl 94 persen dan kadar air maksimum 5 persen; kualitas No.3, NaCl 94 persen dan kadar air 55.

"Umumnya garam petani di bawah standar, sehingga tidak diterima untuk industri. Pada dasarnya untuk garam konsumsi standard tersebut tidak masalah asalkan tidak mengandung logam berat," ujarnya di acara konferensi pers yang digelar Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian IPB, di Kampus IPB Baranangsiang, Bogor (4/8).

Peneliti yang berasal dari Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB tersebut mengungkapkan bahwa kelangkaan garam di Indonesia saat ini karena terkendala cuaca yang tidak mendukung, ditambah tidak ada stok dari petani, karena petani belum siap panen. Sebab menurutnya dalam memproduksi garam petani sangat mengandalkan suhu, panas matahari dan angin. Karena itu, lewat inovasi yang dibawanya, garam ketika cuaca buruk bisa disimpan di Rumah Kristalisasi yang dapat membantu mengatasi pengendapan garam menggunakan teknologi yang sederhana. Harapannya, teknologi ini dapat mengatasi permasalahan garam di Indonesia dan mampu digunakan oleh pihak swasta dan koperasi.

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah jika sakit
  5. Hindari menyentuh wajah
  6. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga40%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang20%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi20%
Pilih TerpukauTerpukau20%
Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Rampung Pada 2018, Yuk Intip Jalur Trans Papua Yang Membelah Gunung! Sebelummnya

Rampung Pada 2018, Yuk Intip Jalur Trans Papua Yang Membelah Gunung!

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya Selanjutnya

Ketika Para Seniman Ajak Masyarakat Atasi Covid-19 Lewat Pertunjukan Di Dunia Maya

Bagus Ramadhan
@bagusdr

Bagus Ramadhan

http://kulawarga.id

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.