Indonesia telah menandatangani skema imbal dagang berupa pertukaran hasil perkebunan kopi, karet, dan kelapa sawit Indonesia dengan 11 pesawat tempur jenis Sukhoi-35 yang diproduksi Rusia.

kesepakatan tersebut tertuang dalam penandatangan nota kesepahaman (Memorandum of Understandings/MoU) antara Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia, yaitu PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero) atau PII dengan BUMN Rusia, Rostec pada lawatan Indonesia ke Rusia pada awal bulan Agustus.

"Diharapkan dapat segera direalisasikan melalui pertukaran 11 Sukhoi SU-35 dengan sejumlah produk ekspor Indonesia, mulai dari kopi, teh, minyak kelapa sawit, dan produk industri strategis pertahanan," ucap Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dalam keterangan resminya.

Presiden Jokowi berbincang dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna di Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (6/10). Latihan Tempur ini digelar untuk menunjukkan kedaulatan Indonesia. Foto: REUTERS/Beawiharta
Presiden Jokowi berbincang dengan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kasau Marsekal TNI Agus Supriatna di Natuna, Kepulauan Riau, Kamis (6/10). Latihan Tempur ini digelar untuk menunjukkan kedaulatan Indonesia. Foto: REUTERS/Beawiharta

Keberadaan alutsista strategis ini diharapkan dapat meningkatkan daya gentar di kawasan. Kehadiran Sukhoi SU-35 sangat dinantikan TNI. Panglima TNI Gatot Nurmantyo pernah menegaskan pada Antara bahwa Sukhoi SU-35 adalah jet tempur terbaik untuk menjaga perairan Indonesia.

Saat ini ekspor minyak kelapa sawit di Rusia menduduki peringkat kedua. "Sejak zaman pemerintahan Presiden Sukarno, Indonesia pengekspor minyak kelapa sawit terbesar di Rusia," kata Menteri Enggar pada TEMPO. "Indonesia menjamin sustainability, kesehatan dan kebersihan produk kelapa sawit."

Indonesia juga telah secara konsisten menerapkan standar kelestarian dalam Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO). "Saya menghargai dengan telah berdirinya Aliansi Minyak Kelapa Sawit Indonesia Rusia yang bisa menjembatani berbagai kepentingan bisnis dan kesephaman terhadap produk minyak kelapa sawit," kata Enggar.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito dan Duta Besar Indonesia, Wahid Supriyadi, (ketiga dan keempat dari kanan) dalam acara Business Forum Indonesia-Rusia on Palm Oil di Moskow, Kamis, 3 Agustus 2017. Foto: Istimewa/TEMPO
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito dan Duta Besar Indonesia, Wahid Supriyadi, (ketiga dan keempat dari kanan) dalam acara Business Forum Indonesia-Rusia on Palm Oil di Moskow, Kamis, 3 Agustus 2017. Foto: Istimewa/TEMPO

Bersamaan dengan kesepakatan ini, Enggar berharap Indonesia-Rusia mampu memperluas kerja sama perdagangan ke hasil produksi sektor lain, sehingga lebih banyak produk Indonesia yang dapat dikenalkan ke Rusia dan sebaliknya.

Indonesia kini menikmati surplus perdagangan dengan Rusia sebesar USD411 juta pada tahun 2016, dengan berharap dapat memperluas kerjsama bilateral ke bidang pariwisata, pendidikan, energy, teknologi, dan kedirgantaraan.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu