Lupa Sandi?

Festival Film Papua: Wujud Nyata Dukungan Negara atas Kebebasan Berekspresi Warga

Adriani Zulivan
Adriani Zulivan
0 Komentar
Festival Film Papua: Wujud Nyata Dukungan Negara atas Kebebasan Berekspresi Warga

Untuk pertama kalinya, Papua menyelenggarakan festival film independen. Festival yang berlangsung pada 7-9 Agustus 2017 ini diharap mampu menjadi perspektif baru dalam memandang Papua.

Sebagai wilayah yang kaya akan sumber daya alam, Papua masih menjadi salah satu wilayah termiskin di Indonesia. Penayangan dokumenter di festival ini ingin menempatkan Papaua sebagai subyek dalam melihat dan menentukan masa depannya sendiri. Hal ini untuk mendukung kontribusi warga dalam mengakhiri ketidakadilan di tanahnya sendiri.

Suara Papua adalah penyelenggara festival yang bertempat di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua ini. Agenda bertajuk Festival Film Papua (FFP) itu hadirkan 600 penonton dan menyajikan 25 film dokumenter.  Dipilih pula 10 film terbaik yang diikutkan dalam kompetisi. Dokumenter yang ditayangkan mengambil isu sosial, seperti hak atas tanah. 

Pada Reuters, panitia penyelenggara Urbanus Kiaf menjelaskan bahwa kemiskinan yang ditunjukkan dalam film merupakan simbol penindasan ekonomi dan intelektual. Menurutnya, tiap dokumenter mampu menunjukkan gambaran warga Papua yang kehilangan hak atas tanah setelah menjual murah kepada investor.

Film "For Novalinda and Andreas" merupakan salah satu judul yang menggambarkan hal itu. Film karya sutradara Elisabet Apyaka ini menceritakan tentang kehidupan seorang ibu yang menjadi orangtua tunggal. Ia menjual talas, pisang dan sirih yang ia tanam di sebidang tanah yang ia sewa untuk menghidupi dua anak.

"Film ini menunjukkan peran perempuan Papua sebagai kepala keluarga, yang bangun pagi untuk melakukan pekerjaan rumah tangga lalu berkebun untuk memberi makan anak-anaknya," terang Elisabeth tentang filmnya yang menraih juara ketiga tersebut.

Terselenggaranya festival ini menunjukkan kemajuan dalam hal dukungan negara terhadap pemenuhan hak asasi manusia di Papua. Menurut Andreas Harsono dari Human Rights Watch, hal ini tak akan mungkin dilakukan di masa lalu. Presiden Joko Widodo memang sedang berupaya membuka Papua, untuk memenuhi hak warga atas kebebasan berekspresi.

Pilih BanggaBangga83%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ADRIANI ZULIVAN

A big fan of Indonesian heritage--from culture to nature, tangible to intangible. Reading and writing as hobby, as well as dedicated work. Interested in urban discussion, disability rights, disaster m ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti

ARTIKEL TERKAIT

"Indonesia is the future lho, Mas!"

Akhyari Hananto5 bulan yang lalu

Tingkatkan Literasi Baca ala Pusing Deprok

Adriani Zulivan8 bulan yang lalu
Next
BJ. Habibie

Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya. Dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup.

— BJ. Habibie