M. Asad Shahab: Sosok Dibalik Penyebaran Proklamasi Kemerdekaan Ke Dunia Arab

M. Asad Shahab: Sosok Dibalik Penyebaran Proklamasi Kemerdekaan Ke Dunia Arab
info gambar utama

Perjuangan pencapaian pengakuan kedaulatan Indonedia pada tanggal 27 Desember 1949 bukan merupakan perjuangan yang sederhana dan mudah. Ada tiga bentuk perjuangan yang harus diraih oleh bangsa Indonesia sebelum pengakuan tersebut. Pertama, perjuangan militer oleh TNI yang dipimpin oleh Jenderal Sudirman atau Tan Malaka sebagai pemimpin gerakan sosial revolusioner yang bergaya Marxis. Kedua, melalui cara diplomasi yang dilakukan oleh Hatta, Syahrir dan Mohammad Roem. Dan yang terakhir, yaitu melalui pers yang menyebarkan berita ke dunia internasional tentang proklamasi kemerdekaan Negara Idonesia.

Ketika Proklamasi Kemerdekaan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Soekarno – Hatta, berita tersebut tersebar dengan cepat di seluruh penjuru Indonesia berkat penyiaran berita melalui tiga kantor berita yang sudah berdiri sebelum kemerdekaan, yaitu Antara, Domei dan Reuter. Antara sendiri dibentuk pada tahun 1937 oleh para pejuang kemerdekaan, seperti A.M. Sipahoetar, Mr. Soemanag dan Adam Malik. Sedangkan, kantor berita Domei dibentuk oleh Jepang, tetapi para wartawannya ialah orang-orang dari Antara sendiri dan kantor berita Reuter merupakan bentukan Inggris. Tetapi ketiga kantor berita tersebut memiliki keterbatasan masing-masing. Jangkauannya hanya terbatas di dalam negeri saja, Domei dikontrol oleh Jepang dan Reuter berpihak pada kekuatan sekutu yang menjadi kendaraan bagi pendudukan Indonesia oleh Belanda.

Lalu sehari setelah diangkat sebagai Presiden, Soekarno membuat maklumat kepada segenap rakyat Indonesia. Intinya, dia sangat berharap kepada orang-orang di sekitarnya untuk bisa menjalin suatu hubungan yang luas dengan dunia internasional. Soekarno juga menyatakan pentingnya membentuk suatu kantor berita yang dapat menghubungkan Indonesia dengan negara-negara Asia dan Afrika. Hal tersebut bertujuan untuk mempengaruhi pikiran rakyat dan menentang segala usaha Belanda yang tetap ingin tinggal di Indonesia.

Asad Shahab salah seorang jurnalis yang hadir dalam pertemuan tersebut, berpikir bahwa dirinya dapat berbuat sesuatu seperti apa yang diharapkan Soekarno. Dia adalah seorang jurnalistik sejak 1936 yang sangat aktif dan membuatnya punya banyak jaringan hingga ke luar negeri, khususnya Timur Tengah. Pada 1938-1942, dia tercatat sebagai kontributor media berbahasa Arab, al-Mughatttan, di Mesir.

M. Asad Shahab muda | detik.com
info gambar

Bersama kakaknya, M. Dzya Shahab dan sahabatnya Husein Alhabsyi, dia membentuk kantor berita berbahasa Arab. Asad dan tim setuju menamai kantor berita tersebut dengan Arabian Press Board (APB) dan resmi berdiri 19 hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya tanggal 2 September 1945. Menurut wartawan senior, Solichin Salam di koran Angkatan Bersenjata terbitan 1 September 1993, kata ‘Arabian’ sendiri sengaja digunakan untuk menarik perhatian dunia Islam serta negara-negara di Timur Tengah serta untuk mengelabui pihak Sekutu dan Belanda.

Bagi cendekiawan M. Dawam Rahardjo, sosok Asad Shahab bukan sekedar wartawan biasa. Dia sekaligus berperan sebagai diplomat yang bergaul dengan tokoh-tokoh nasional Indonesia dari semua kalangan ideologi, baik nasionalis, kalangan partai Islam, sosialis, sekuler dan komunis. Di dunia Arab, Asad Shahab berkomunikasi politik dengan tokoh-tokoh seperti Presiden Tunisia Habib Bourguiba, Jamal Abdul Naseer (Mesir), Ibnu Suud dan Amir Faisal (Arab Saudi).

Tak cuma menulis artikel untuk surat kabar, Asad Shahab juga menulis puluhan buku yang semuanya diterbitkan di Lebanon sebagai pusat penerbitan buku berbahasa Arab.

“Masyarakat Timur Tengah mengenal Indonesia dan sejarah Indonesia dari buku-buku yang beliau tulis.” Jelas Jalaludin Rakhmat selaku pakar ilmu komunikasi yang juga cendekiawan muslim.

Jalaludin juga menambahkan, dari buku-buku yang ditulisnya Asad Shahab dapat disimpulkan bahwa Asad Shahab adalah seorang juru catat sejarah perjuangan Indonesia. Lelaki kelahiran Jakarta, 23 September 1910 yang pernah kuliah di bidang publisistik ini menulis soal sejarah masuknya Islam di Indonesia. Asad Shahab juga menulis soal perkembangan komunisme di Indonesia termasuk meletusnya Gerakan 30 September 1965.

Wartawan Kantor APB | detik.com
info gambar

Kantor berita APB sendiri tidak hanya menyiarkan beritanya dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan bahasa Arab dan Inggris. APB berjasa menyiarkan serta memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dibelahan negara dunia, khususnya negara-negara Arab dan Islam. Dari jasa dan perjuangan APB inilah kemudian meluas pengakuan dan dukungan atas kemerdekaan Indonesia, dari negara-negara Mesir, Saudi Arabia, Iraq, Pakistan, India, hingga Jerman, Inggris, Perancis dsb.

Asad Shahab juga dikenal sebagai salah seorang bapak pendiri bangsa Indonesia. Pasalnya, dia sangat berjasa dalam memberitakan proses perjuangan bangsa Indonesia melawan imperialisme dalam mempertahankan kemerdekaan RI dan memperoleh pengakuan kedaulatan oleh dunia internasional.


Sumber: detik.com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini