Indonesia Hadiri Pameran Buku Internasional

Indonesia Hadiri Pameran Buku Internasional
info gambar utama

Indonesia kembali hadir di Beijing International Book Fair (BIBF) 2017. Pameran buku terbesar di Asia ini berlangsung di China International Exhibition Center (NCIEC) Beijing-Tiongkok, pada 23-27 Agustus 2017. BIBF sendiri masuk ke dalam pameran buku tiga teratas di dunia, setelah Frankfurt Book Fair dan London Book Fair.

Perbedaan budaya dan bahasa tak menghalangi Indonesia-China untuk bekerja sama. Pasalnya, melalui dunia penerbit akan menjadi tantangan untuk mempererat hubungan kedua negara. Selain itu, ikutnya Indonesia di ajang Beijing International Book Fair untuk yang kedua kalinya ini bertujuan untuk mempromosikan Indonesia di kancah internasional. Selain itu, melalui ajang internasional seperti ini, harapannya tak ada lagi pembajakan buku.

Priyanto Wibowo sedang berkunjung ke stan buku Indonesia di BIBF 2017 | kompas
info gambar

“China sedang membuat image jadi pusat dunia. Kalau kita tidak ikut acara seperti ini maka akan ketinggalan arus dunia. Tujuannya untuk memperkenalkan Indonesia dan meningkatkan penjualan copyright,” ujar Priyanto Wibowo selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI di China pada Kompas.com.

Priyanto Wibowo juga mengatakan bahwa pemerintah Indonesia berperan penuh mendukung acara BIBF melalui pembiayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta KBRI di Beijing pun memfasilitasi penyediaan stan dan pengurusan kontrak Indonesia sebagai peserta.

Laura Prinsloo, Ketua Komite Buku Nasional berbicara tentang keragaman budaya di antara Indonesia dan Tiongkok dalam sambutannya yang berjudul Seeing Diversity and the Common Roots of Culture of Indonesia and China di Beijing International Publishing Forum.

Laura Prinsloo selaku Ketua Komite Buku Nasional menyampaikan pidato dalam acara Beijing International Publishing Forum di Beijing | kompas
info gambar

“Keragaman budaya merupakan peluang untuk menciptakan kerjasama termasuk di dalamnya kerjasama penerbitan. Salah satu cara untuk memperluas peluang kerjasama melalui penerjemahan buku Indonesia ke dalam bahasa Mandarin,” ujar Laura Prinsloo.

Beijing International Publishing Forum merupakan rangkaian kegiatan Beijing International Book Fair 2017. Ajang Beijing International Publishing Forum digelar di Beijing International Hotel pada 22 Agustus 2017 yang mengambil tema The Belt and Road Initiative and International Publishing Cooperation.

Indonesia juga mengikuti speed dating dengan penerbit dari Tiongkok dan negara lainnya. Istilah speed dating sendiri digunakan oleh para penerbit untuk bertemu, kenalan, menjalin relasi, dan berlanjut ke tahap berikutnya yaitu jual-beli rights. Ada empat penerbit dari Indonesia yang ikut serta dalam ajang pertemuan speed dating penerbit buku anak-anak yang bernama 10:10 Match and Making ini yaitu Gramedia, Mizan Publishing, Kesaint Blanc, dan Borobudur Agency.

Indonesia yang menempati area stan E1-C20 dalam ajang BIBF 2017 ini memang sengaja menampilkan stand kolektif ASEAN yang berisi buku anak dan remaja, fiksi dan nonfiksi, biografi, dan novel.

stan Indonesia di BIBF 2017 | detiknews
stan Indonesia di BIBF 2017 | detiknews

Selain pameran buku, pengunjung akan disuguhkan dengan aktivitas lain, seperti di area Made in Creative—tempat pertunjukan barang-barang dari industri kreatif. Terdapat benda seni dan budaya, serta kerajinan tangan berbentuk rajutan, gerabah, dan budidaya bunga. Di area lainnya, ada juga demonstrasi memasak oleh koki yang berpengalaman dalam dunia internasional, kursus membuat kue, serta aktivitas mencoba minuman anggur. Anak-anak dan remaja juga yang berminat dengan sains pun memiliki fasilitas laboratorium interaktif, serta pengetahuan tentang dinosaurus dan binatang laut. Serta ada juga pelatihan dari tim National Football League (NFL) Amerika Serikat yang akan berbagi pengalaman mereka secara interaktif.

Stand untuk anak | kompas
info gambar

Dalam BIBF 2017 dilaksanakan pula kesepakatan di antara para pelaku industri penerbitan buku. Beijing Publishing Group pun menandatangani kerjasama dengan sejumlah negara, termasuk Indonesia. Hal ini menandakan bahwa Indonesia bisa menerbitkan buku-bukunya ke negara China. Sedangkan, lima negara yang hadir dalam penandatanganan kerjasama tersebut yaitu Indonesia, Jepang, Malaysia, Rusia, dan Lebanon.

Laura Prinsloo selaku Ketua Komite Buku Nasional berdiri bersama perwakilan dari negara lain seusai penandatanganan kerja sama dengan Beijing Publishing Group | kompas
info gambar

“Kami berkomitmen untuk sama-sama menerbitkan buku China ke Indonesia dan sebaliknya. Begitu juga untuk membuat program marketing di negara masing-masing,” tambah Laura Prinsloo.

Di sisi lain, Rights Manager Beijing Publishing Company, Maple Mao mengatakan bahwa ia ingin juga mengetahui tentang industri penerbitan buku di Tanah Air.

“Kami bisa memperkenalkan buku-buku terbaik kami dan bisa bekerja sama dengan para penerbit dari negara lain,” ujar Maple Mao.

Laura Prinsloo bersama perwakilan dari negara lain menandatangani kerja sama dengan Beijing Publishing Group | kompas
info gambar

Terdapat 2.400 peserta yang berpartisipasi dari 89 negara dan wilayah dalam Beijing International Book, di antaranya Jerman, Perancis, Korea, Singapura, Malaysia, dan beberapa negara dari Timur Tengah.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini