Angklung Persatukan Mahasiswa Internasional di Australia

Angklung Persatukan Mahasiswa Internasional di Australia
info gambar utama

Townsville Cultural Festival atau TC Fest kembali digelar pada 9-13 Agustus 2017 di Townsville, North Queensland, Australia.

TC Fest merupakan acara tahunan yang dilaksanakan selama 5 hari di bulan Agustus. Selain untuk memamerkan keragaman budaya yang ada di Australia, festival yang diselenggarakan Townsville Intercultural Centre ini bertujuan untuk menyatukan ragam komunitas di Australia, khususnya Townsville.

Uniknya, komunitas warga Indonesia di Australia turut andil dalam festival tersebut. Diantara mereka adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia James Cook University (PPIA JCU), serta warga Indonesia yang menetap di Townsville.

Di sana, warga Indonesia memperkenalkan alat musik angklung, lewat kolaborasi dengan grup musik lokal Townsville Multicultural Supports Group (TMSG) – Strum and Giggle Group. Selain Australia dan Indonesia, grup ini juga terdiri atas warga Burma, Congo, Filipina, Korea Selatan, Malaysia dan Welsh.

komunitas ini kenalkan angklung ke warga Australia | republika
info gambar

Penampilan grup ini diawali dengan menyanyikan lagu "Pearly Shells" diiringi dengan tarian dan alunan gitar, ukulele dan bass. Selanjutnya, Harmony in Diversity menampilkan lagu daerah, seperti "Rek Ayo Rek" dari Jawa Timur, "Ayo Mama" dan "Goro Goronya" dari Maluku. Lagu "Song of Peace" yang menjadi penutup pertunjukan, mampu membuat penonton berdecak kagum.

Menurut koordinator grup Johanna Kodoatie, tujuan menampilkan kebudayaan Indonesia adalah untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia, agar makin dikenal luas di Australia.

Dibentuk sejak 2016, grup yang terdiri atas warga Indonesia ini, menamai diri Harmony in Diversity. Penamaan tersebut untuk mengingatkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika, meskipun para warga Indonesia ini jauh dari Tanah Air.

Ketika dikaitkan dengan musik yang mereka mainkan, menurut Johanna, hal tersebut menunjukkan pentingnya hidup rukun dan bersatu dalam harmoni. Sebab meski lagu dan budaya berbeda, musik mampu ciptakan semangat damai dalam keberagaman.

Bagi Presiden PPIA JCU Firman, partisipasi ini menjadi usaha membangun hubungan komunikasi, agar PPIA JCU dan komunitas warga Indonesia turut berperan aktif dalam kegiatan di Townsville dan Australia pada umumnya.

"Selain mengenalkan kebudayaa, ajang ini penting bagi mahasiswa Indonesia agar turut serta menjaga kebudayaan kita. Jika bukan kita, siapa lagi? Semoga kita selalu dapat menjaga kebersamaan dalam keberagaman di sekeliling kita," ujar Firman pada DetikNews.

Warga dari berbagai negara berkolaborasi di TC fest 2017 | detiknews.com
info gambar

Festival yang lebih tepatnya digelar di kampus James Cook University ini menghadirkan lebih dari 100 penampil yang terdiri atas berbagai komunitas seperti komunitas musik, tari, sirkus dan teater. Pada tahun 2017, sebanyak lebih dari 20 orang ikut tampil dalam TC fest yang sudah rutin digelar sejak tahun 1995.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini