Segera! Seren Taun Kasepuhan Ciptagelar 2017

Segera! Seren Taun Kasepuhan Ciptagelar 2017
info gambar utama

Alunan ritmis alu beradu dengan lesung bergema mengawali pagi, menembus kabut yang menyelimuti ribuan leuit / lumbung padi di Kasepuhan Ciptagelar. Dingin udara kawasan Taman Nasional Gunung Halimun tak mengurangi kesibukan persiapan perayaan Seren Taun, upacara tahunan untuk mengucap syukur atas berhasilnya panen padi. Kasepuhan Ciptagelar merupakan bagian dari Kesatuan Adat Banten Kidul, masyarakat agraris yang tersebar meliputi Kabupaten Lebak, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Sukabumi. Secara geografis, Kasepuhan Ciptagelar berada di perbatasan antara Provinsi Banten dan Jawa Barat, tepatnya di Dusun Sukamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar konsisten menjalankan tatanan leluhur, terutama sistem pertanian. “Hanya padi titipan leluhur, 160 jenis varietas asli, yang ditanam di Kasepuhan.” ucap Yoyo Yogasmana, humas Kasepuhan Ciptagelar, saat kami mengobrol sambil minum kopi gula aren di Imah Gede, rumah tempat menerima tamu. Wangi masakan tercium dari dapur, tempat Baris Bikang -barisan para ibu- mengalirkan suplai makanan sepanjang hari. Hasil panen padi Kasepuhan Ciptagelar tidak boleh diperjualbelikan. Termasuk semua turunan beras seperti nasi dan kue berbahan dasar tepung beras. Acara Seren Taun terbuka untuk pengunjung dari luar wilayah Kasepuhan Ciptagelar. Perlu diingat bagi para laki-laki disarankan menggunakan iket (penutup kepala khas Jawa Barat / Banten) dan para perempuan disarankan menggunakan kain sarung atau penutup bawahan.

Menyambut Seren Taun, tujuh panggung disekitar Imah Gede menyajikan berbagai hiburan dari yang buhun / lama mulai dari seni jipeng / tanji dan topeng, ujungan, pantun buhun, dogdog lojor / alat musik pukul semacam gendang panjang dan angklung, gondang, seni topeng, hingga kesenian yang umum kita lihat seperti pencak silat, debus, pertunjukan wayang golek dan berbagai tarian. Uniknya, tiap panggung dilengkapi sistem pengeras suara yang hampir sama kuat, seolah berlomba merebut perhatian pengunjung.

Letusan petasan berantai menandai awal prosesi Seren Taun. Baris Kolot / tokoh masyarakat berada di urutan awal pawai mengelilingi Kasepuhan Ciptagelar melewati deretan leuit menuju ke alun-alun. Barisan yang mengenakan ikat kepala khas Banten, baju hitam polos, tanpa alas kaki itu diikuti oleh kelompok debus, kesenian bela diri Banten yang mendemontrasikan kekebalan tubuh terhadap senjata tajam. Dibelakangnya, para penari diiringi pemain dogdog lojor, rombongan rengkong / pemikul padi yang mengayun-ayunkan pocong padi pada bambu menimbulkan bunyi-bunyian ritmis, diikuti barisan pengumpul serpihan padi yang tercecer dalam tabung anyaman. Puncak acara ini adalah ngadieuken pare, memasukkan sepocong pare indung / induk padi dalam Leuit Si Jimat, dilakukan secara simbolis oleh Pemimpin Kasepuhan Ciptagelar, Abah Ugi Sugriana Rakasiwi dan istrinya, Emak Alit.

ngadieuken pare
info gambar

Untuk menghormati alam, penanaman padi dilakukan setahun sekali tanpa pupuk dan obat kimia. Rangkaian kegiatan adat diawali dengan proses turun nyambut (menggarap lahan yang akan ditanami), tebar (menyiapkan benih padi), ngaseuk (menanam), sapangjadian, prah-prahan, mapag pare beukah, mabay, mipit (menuai padi dengan ani-ani), nyimbur, ngunjal, nutu (menumbuk padi), nganyaran (mencicipi hasil panen pertama), ponggokan (memberikan ruang batas untuk tidak mengolah lahan) dan ditutup dengan Seren Taun yang diadakan setiap bulan Hapit, bulan ke sebelas dalam penanggalan lokal.

Berkat kearifan lokal yang sudah dipertahankan selama ratusan tahun, masyarakat Kasepuhan Ciptagelar tidak pernah mengalami gagal panen, bahkan berlimpah dan menambah jumlah leuit tiap tahunnya. Tertarik untuk ikut serta dalam perayaan ini? Seren Taun ke 649 di Kasepuhan Ciptagelar akan dilaksanakan pada tanggal 15-17 September 2017.


Sumber:

Wawancara dengan narasumber Yoyo Yogasmana, Humas Kasepuhan Ciptagelar

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini