Diaspora Indonesia Raih Penghargaan Integrator Terbaik di Jerman

Diaspora Indonesia Raih Penghargaan Integrator Terbaik di Jerman
info gambar utama

Jerman menerima lebih dari satu juta pengungsi dari daerah konflik di Timur Tengah dan Afrika sejak tahun 2014 lalu. Banyaknya pengungsi yang masuk ke Jerman inipun membuat pemerintah Jerman kalang kabut, karenaadanya perbedaan bahasa, budaya, dan juga agama antara pengungsi dan masyarakat Jerman. Untuk itu, diperlukannya edukasi para pengungsi untuk dapat terintegrasi dalam keseharian di Jerman. Mereka harus belajar bahasa Jerman serta budaya masyarakat Jerman untuk dapat menetap dan nantinya dapat mencari pekerjaan.

Untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan edukasi dan integrasi banyak sukarelawan yang membantu untuk memberikan kebutuhan sehari-hari, seperti baju bekas, selimut, dan jaket musim dingin. Beberapa sukarelawan juga menawarkan tandem belajar bahasa jerman. Namun, agar para pengungsi dapat sepenuhnya terintegrasi dengan budaya di Jerman, diperlukan bantuan yang lebih dari sekedar donasi pakaian dan belajar bahasa.

Pocut Manyana Husein, seorang diaspora Indonesia yang telah pensiun dari lembaga kesehatan di Hessen, Jerman, ikut serta membantu dalam program integrasi pengungsi Jerman bersama dengan pemerintah lokal di Werra-Meissner, Jerman. Setiap dua kali dalam seminggu ia mengajar bahasa jerman kepada para pengungsi yang berbahasa arab. Ibu Pocut Manyana bersaksi bahwa hal tersebut tidaklah mudah. Para Pengungsi tersebut sebagian besar tidak bisa berbahasa inggris, mereka hanya bisa berbahasa arab dan beliau mengaku awam akan bahasa arab, walaupun mengenal huruf-huruf arab dari Al-Qur'an. Dirinya harus kreatif dalam mengajarkan bahasa jerman dengan menuliskan huruf arab sebagai ganti huruf latin.

Selain dari kesehariannya dalam mengajarkan bahasa jerman, Ibu Manyana, Warga negara Indonesia yang telah tinggal di Jerman sejak tahun 1975, juga mengajak para pengungsi-pengungsinya untuk mengenal jerman lebih jauh. Beliau mengajak para muridnya tersebut untuk bersama-sama belanja ke pasar agar mereka dapat berinteraksi dengan orang-orang jerman untuk dapat melatih bahasanya. Dirinya juga sering mendonasikan bahan makanan untuk kehidupan sehari-hari para muridnya. Seringkali Ibu Manyana datang ke rumah para pengungsi untuk masak bersama, yang tentunya mendekatnya dirinya kepada para pengungsi-pengungsi yang mengalami trauma akibat perang. Pada bulan Ramadhan, beliau juga bersama para pengungsi tersebut melaksanakan buka puasa bersama setelah berpuasa selama lebih dari 19 jam per hari. Dan masih banyak kontribusinya yang lain. Hal-hal inilah yang membuat kedekatan beliau dengan para pengungsi tersebut. Dirinya memberikan banyak waktu luangnya untuk dapat berkontribusi untuk orang-orang yang membutuhkan disekitarnya tanpa pamrih.

Tanpa ia ketahui, Pemerintah Jerman menyadari kontribusinya dalam mengintegrasi para pengungsi di daerah tersebut. Dan pada bulan Juni lalu, ia diberikan penghargaan sebagai integrator terbaik oleh Pemerintah Jerman atas jasanya dalam membantu pengungsi tersebut lebih dari sekedar tanggung jawabnya sebagai guru bahasa jerman, namun juga demi kemanusiaan.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini