Keseruan Bincang Budaya Bersama Cooltura_ID di Ajang Saturdate Edisi TheGreatBritish

Keseruan Bincang Budaya Bersama Cooltura_ID di Ajang Saturdate Edisi TheGreatBritish
info gambar utama

Pada hari Sabtu, 26 Agustus 2017 kemarin, Cooltura_ID, komunitas kepemudaan yang berfokus pada kegiatan lintas kebudayaan di Bogor, kembali mengadakan kajian rutinnya, 'A Saturdate with cooltura_ID', sebuah acara dwi bulanan dengan tema kebudayaan berbagai negara yang sedang digandrungi anak muda yang berada di kota Bogor, pada khususnya. Kebudayaan yang diangkat kali ini adalah mengenai Inggris. Tema ini dipilih sesuai dengan banyaknya permintaan dari peserta acara sebelumnya yang dituliskan di dalam feedback form yang biasa dibagikan di setiap akhir acara.

Acara diadakan di Kolaborato_ID Co-working space yang terletak pusat kota, lebih tepatnya di Jl. Bogor Baru A8 no. 4, Bogor Tengah.

Dalam acaranya kalin ini, cooltura_ID mengundang tiga orang nara sumber. Yang pertama adalah Muhammad Senoyodha Brennaf yang lebih sering dipanggil dengan sebutan Kang Yodha, seorang pendiri dari halal local, sebuah aplikasi yang bertujuan untuk mencari tempat-tempat halal di berbagai negara. Yang kedua, ada Mr. Paul Hemming, salah seorang anggota dari tim pembentuk XL, sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Kemudian Nick Cooper, seorang guru bahasa Inggris di Sekolah Bogor Raya.

Kang Yodha bercerita tentang pengalaman beliau melanjutkan program S2-nya di University of Manchester dan pengalaman berhaji langsung dari Inggris, "berbeda dari jemaah di Indonesia yang harus menunggu sampai tiga tahun atau bahkan lebih, saya hanya butuh waktu kurang lebih satu minggu dari awal pendaftaran sampai kepastian untuk berangkat haji dari Inggris, padahal saat itu saya sedang sibuk menyelesaikan thesis."

Cara mengumpulkan uang ala Kang Yodha agar dapat berhaji bersama keluarga pun terbilang cukup unik. Kang Yodha berjualan cilok dan cireng untuk warga Indonesia di Manchester dan juga menyewakan salah satu kamar di apartemennya melalui aplikasi airbnb. "Pulang dari Inggris, saya berhasil mendapatkan hijazah, alias haji dan ijazah," ujar Kang Yodha sambil tertawa.

Selain membagi tips tentang bagaimana caranya bisa mendapatkan beasiswa di Inggris, Kang Yodha juga berbagi beberapa fakta unik selama dia tinggal di Inggris, "di Manchester itu ada suatu lokasi terkenal namanya Curry Mile, tempat ini selalu diisi oleh anak-anak IPB..."

"Maksudnya lulusan Institut Pertanian Bogor Kang?" Tanya Endah, salah satu peserta acara.

Setelah dijelaskan, ternyata yang dimaksud dengan 'IPB' oleh Kang Yodha adalah India, Pakistan, dan Bangladesh. Sesuai dengan apa yang dipresentasikan oleh Nick, bahwa India, Pakistan, dan Bangladesh memiliki komunitas warga keturunan terbesar di Inggris. 'Curry Mile' ini adalah sebuah area di mana dipenuhi oleh restoran-restoran yang menjual berbagai makanan dengan kari sebagai menu utamanya. Ditambah sebuah fakta lainnya bahwa chiken tikka masala, yang selama ini penulis kira berasal dari India ternyata adalah 'national dish'-nya Inggris.

Sedangkan Paul, yang sekarang menjabati posisi direktur di sebuah perusahaan konsultasi keuangan di Jakarta, dia menceritakan bagaimana dia sangat senang mengkoleksi seluruh kain batik dari Indonesia, dia sangat tertarik motif batik dengan ciri khas berbeda-beda namun tetap menjaga kecantikan dan nilai sejarahnya dari setiap daerah di Indonesia.

Ketika ditanya tentang kota yang paling ia sukai, "Aceh is my favorite," jawab Paul tanpa ragu. Walaupun pertama kali mengetahui Aceh melalui tragedi Tsunami di tahun 2004, namun Paul sangat menyukai dengan keindahan alam bawah laut Aceh dan juga tentang nuansa religius dan keramahatamahan penduduknya yang ditawarkan yang belum pernah ia temukan di manapun.

Sedikit cerita menarik yang dibagikan oleh salah satu panitia acara A Saturdate with cooltura_ID: #TheGreatBritish mengenai Paul adalah kesenangan beliau dengan jajanan kaki lima di Indonesia. "Waktu itu kami sudah menyediakan makanan untuk pembicara, kami sengaja memilih makanan dengan western menu, takutnya Mister Paul agak kurang suka dengan makanan Indonesia. Eh, taunya dia malah minta dibeliin gado-gado plus teh manis yang lagi mangkal di depan gang dekat lokasi acara, total harganya nggak sampe 15 ribu, terus dia maunya makan di tempat jualannya sambil ngobrol sama supir ojek yang lagi mangkal, hahahaha..."

Paul pun beropini bahwa Indonesia mungkin sedikit tertinggal dari beberapa hal dari negara lain, "but Indonesian food is always be number one, at least in my heart." Hal ini pun sangat disetujui oleh penulis. Mungkin warga Indonesia perlu waktu sedikit lama untuk beradaptasi dengan teknologi terkini, tapi sudah saatnya untuk warga dunia beradaptasi dengan makanan Indonesia. Dimulai dari berita rendang dan nasi goreng menjadi salah satu makanan terbaik di dunia versi CNN dan juga pada tanggal 13 Desember 2009, seorang jurnalis, penulis naskah, dan kritikus film terkenal asal Amerika Serikat, Roger Ebert, pernah menyarankan satu paket Indomie sebagai hadiah Natal favoritnya yang paling murah.

Dalam sesi workhsop, peserta belajar bagaimana cara melakuakn one-minute-pitching usaha start up mereka. Hanya dengan pertanyaan jenis usaha apa yang akan mereka lakukan jika mereka mendapatkan 50,000 poundseterling, banyak sekali ide kreatif bermunculan.

"Saya akan membuat start up alumunium siap pakai. Alumunium itu saat ini hanya bisa dibeli dalam jumlah yang besar atau sudah jadi menjadi furniture. Saya ingin meng-scale up alumunium, menjadi suatu yang lebih mudah dipakai." Jelas Bunga salah satu peserta acara, di depan Kang Yodha dan Mr. Paul yang berperan sebagai investor.

Di akhir acara, para peserta melakukan IELTS mock-up test dibimbing oleh tim English Corner Bogor atau lebih dikenal dengan sebutan E-Corner Bogor. "IELTS bisa dikatakan adalah 'passport' ke Inggris," jelas Mas Sunanto, pendiri dari E-Corner Bogor, sebuah lembaga kursus bahasa Inggris di Bogor dengan waktu yang fleksibel dan harga yang terjangkau.

Tepat pukul 16.30 acara selesai dengan kegiatan foto bersama dan pembagian goodie bag kepada seluruh peserta. "Acara kaya gini tuh penting banget diadain di sini. Bogor itu seperti 'kota terlupakan', kalau ada acara-acara seru pasti selalu di Jakarta, dengan asumsi Bogor - Jakarta itu dekat, padahal setidaknya kami membutuhkan waktu sampai 2-3 jam dan biaya transportasi yang tidaklah murah untuk sampai tempat tujuan, padahal demand acara kaya gini tuh tinggi banget buat warga Bogor, sebagai salah satu kota dengan jumlah sekolah dan perguruan tinggi yang cukup banyak di Indonesia." Ujar Egar, salah satu peserta lulusan jurusan musik yang ingin melanjutkan program magisternya di bidang pendidikan di Inggris, kepada penulis.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini