Perekonomian digital terus menerus menjadi perhatian bagi pemerintah Indonesia. Sebagai negara dengan penduduk terbesar di Asia Tenggara potensi ekonomi digital Indonesia diprediksi akan terus tumbuh. Saat ini ekonomi digital Indonesia berada pada angka 13 juta dolar AS, namun lima tahun mendatang ekonomi digital Merah Putih akan mencapai angka yang menakjubkan, 130 juta dolar. 

Sebagaimana dikutip dari Republika (12/9), Head of Marketing and International Channel Indigo Telkom Indonesia, Bayu Hartoko menjelaskan bahwa angka tersebut sangatlah besar sehingga ia menekankan bahwa jangan sampai potensi tersebut diambil pihak lain. Melihat potensi tersebut membuat Indigo.id sebagai inkubator puluhan perusahaan digital di Indonesia bergerak untuk terus membina start-up digital lokal. 

Tidak hanya dari dalam negeri saja yang melihat peluang besar ekonomi digital di Indonesia. Negara lain pun tidak ketinggalan untuk ingin meraup keuntungan. Bayu menjelaskan bahwa pihaknya kerap kali dihubungi inkubator di negara lain untuk melakukan sinergi dalam bentuk co-venture, co-partner untuk pertukaran (exchange) start-up. Namun dirinya menjelaskan bahwa Telkom harus tetap memilah, mana yang mampu memberikan kerjasama strategis atau tidak.  

"Kalau asal terima exchange itu belum tentu kita untung, wong jumlah market kita 255 juta, dan Laos 6,9 juta, ya masa kita hanya dapatkan market segitu sementara mereka bisa dapatkan pasar Indonesia," ujar Bayu. 

Ia juga menjelaskan bahwa kreativitas dan inovasi perusahaan-perusahaan digital harus mampu untuk menyelesaikan masalah-masalah lokal. Oleh karena itu harus mengakomodir kearifan lokal sehingga peluang start-up digital lokal bisa terbuka lebar. 

Bayu mengungkapkan, ada lima kunci sukses bisnis digital untuk menjemput peluang ekonomi digital yang begitu besar, yakni orkestrasi digital, mengoptimalkan peluang sinergi, eksekusi program dengan istimewa, dan tidak berhenti mengembangkan ekosistem. Lima hal ini menurutnya merupakan hal yang perlu dilakukan setiap pemain di industri digital.

Menurutnya, para pemain industri digital juga harus memiliki perubahan paradigma dalam menciptakan karya. Jika pola pikir lama mendorong untuk belajar di sekolah sampai lulus kemudian bekerja. Namun kini proses bekerja dan belajar harus dilakukan secara bergiliran tanpa berhenti. 

"Saat ini, pekerjaan sesulit apapun akan terasa mudah jika tidak dikerjakan. Artinya, pekerjaan yang mudah-mudah itu sudah tidak ada, maka stop komplain dan terus belajar dengan cerdas dan keras," pesannya.

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu