Suka dan Duka di Tana Toraja

Suka dan Duka di Tana Toraja
info gambar utama

Apa yang pertama kali muncul dibenak Anda ketika Anda mendengar Toraja? Jika Anda berkata upacara pemakaman, Anda tidak salah. Tetapi, seperti banyak sekali daerah di Indonesia, Tana Toraja tidak hanya memiliki satu daya tarik dan tidak hanya upacara kematian yang menjadi warna kebudayaan suku Toraja.

Suku Toraja adalah salah satu dari empat suku terbesar di Sulawesi, diantaranya suku Toraja, Bugis, Mandar, dan Makassar. Tana Toraja adalah sebuah wilayah di provinsi Sulawesi Selatan sekitar 8 jam berkendara dari kota Makassar. Mereka memiliki banyak perayaan dan ritual sesuai dengan kepercayaan leluhur, yang disebut dengan Aluk Todolo.

Salah satunya adalah ritual untuk merayakan suka cita, atau Rambu Tuka yang pada esensinya dilakukan untuk menunjukkan rasa syukur. Perayaan ini mencakup acara untuk pernikahan, datangnya masa panen, dan juga perayaan setelah merenovasi rumah.

Upacara untuk pernikahan ada yang masih dilakukan di rumah adat Toraja seperti yang dilakukan sejak dahulu, tapi juga ada yang sudah modern dan dilakukan di hotel. Walaupun sudah adanya adaptasi upacara pernikahan, kemeriahannya tetap dirasakan.

“Tunggu ya, kami rapih-rapih dulu”, tutur sekelompok pagar ayu sambil tersenyum saat kami meminta izin untuk mengambil foto.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)

Pagar ayu di pernikahan Toraja memakai busana Kandore, yang unik dengan kain yang bernuansa putih, riasan warna-warni seperti kalung, dan ikat kepala dengan motif khas Toraja. Warna-warna yang paling sering dikaitkan dengan motif khas Toraja adalah putih, merah dan kuning.

Perayaan dalam tema kegembiraan dan suka cita memang sudah biasa dilakukan di daerah manapun, tetapi yang paling terkenal dari perayaan di Toraja adalah upacara untuk duka cita, atau Rambu Solo, seperti upacara pemakaman anggota keluarga Suku Toraja. Selain Toraja, pemakaman yang diiringi sebuah acara besar juga terdapat di provinsi Bali. Walaupun begitu, suku Toraja memiliki ritual yang khas jika dibandingkan dengan daerah lain. Hal tersebut menjadi daya tarik turis dalam negeri maupun mancanegara untuk datang ke Tana Toraja.

Pada esensinya, ketika seseorang dari suku Toraja ada yang meninggal, mayat tidak akan langsung dikuburkan, seperti yang dilakukan kebanyakan masyarakat di Indonesia. Sebelum ritual pemakaman atau Rambu Solo dilakukan, orang yang meninggal dianggap masih sakit oleh anggota keluarga dan akan tetap tinggal di rumah, diawetkan, diberi makan, diberi rokok, dan diganti pakaiannya. Ada bermacam-macam upacara pemakaman di Tana Toraja yang biasanya dibedakan berdasarkan posisi atau jabatan dalam masyarakat. Pemakaman seorang bangsawan di Tana Toraja akan berbeda dengan yang bukan.

Walau dengan perbedaan besarnya acara, acara yang meriah akan tetap diadakan dimana keluarga mengundang kerabat dan keluarga untuk hadir. Adanya pengorbanan kerbau atau babi di Rambu Solo dipercayai akan mengantar arwah ke peristirahatannya.

Ramu Solo (© Annisa Indrasari Pulungan)

Penguburan yang biasanya dilakukan secara umum tidak akan terjadi, melainkan mayat akan dimakamkan di tebing yang sudah dipahat, di goa, di batang pohon yang besar dan rindang, atau di sebuah bangunan yang sudah dibangun khusus untuk pemakaman keluarga tersebut.

Kuburan khas Toraja (© Annisa Indrasari Pulungan)
info gambar

Tana Toraja adalah contoh sebuah suku yang masih memegang erat adat istiadat leluhurnya. Banyak suku Toraja yang sudah merantau dan mengalami banyak hal yang berbeda dan sebagian besar masyarakat di Toraja menganut sebuah agama, seperti agama Kristen, tetapi masih banyak juga yang melaksanakan tradisi-tradisi dari kepercayaan Aluk Todolo yang sudah dilaksanakan sejak dahulu. Masyarakat disanapun sangat terbuka untuk menjelaskan dan memperlihatkan tradisi mereka kepada pendatang dan turis yang mengunjungi Tana Toraja untuk sekedar berlibur. Turis yang sudah meminta izin juga diterima oleh anggota keluarga dengan baik jika ingin hadir dalam sebuah upacara.

Pada saat ini, beragam suku dan agama sudah menetap di Tana Toraja dengan adanya pendatang dan majunya industri wisata disana. Berbagai macam orang yang memiliki perbedaan bisa hidup bersama dan saling menghargai dalam satu daerah yang memiliki adat istiadat yang terbilang masih sangat kental. Hal tersebut tidak hanya Tana Toraja, tetapi bisa menjelaskan seluruh Indonesia. Keberagaman latar belakang, adat istiadat, dan kepercayaan ditambah dengan keramahan yang tidak terbatas adalah yang membuat warna negara Indonesia yang tiada harganya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini