Perjalanan Panjang Kuliner Kotagede Warisan Kerajaan Mataram

Perjalanan Panjang Kuliner Kotagede Warisan Kerajaan Mataram

Basiran Basis Hargito (72) menunjukan Roti Kembang Waru buatannya, di rumahnya di jalan Bumen, Purbayan, Kotagede (14/09). ©Herlambang Jati Kusumo.

Kotagede tidak hanya terkenal sebagai daerah pengrajin perak, namun ditempat ini pula jejak sejarah Yogyakarta ditinggalkan. Kerajaan Mataram yang pernah berdiri di daerah Kotagede menjadikan tempat ini objek wisata yang kerap dikunjungi baik wisatawan dari dalam negeri maupun luar negeri. Tidak hanya bagunan-bangunan khas yang hanya bisa kita temui di Kotagede, namun kulinernyapun sangat menarik. Salah satu kuliner yang telah ada sejak kerajaan Mataram yaitu roti Kembang Waru.

Nama Kembang Waru sendiri diungkapkan oleh salah satu pembuatnya yaitu Basiran Basis Hargito (72) yang telah membuat roti Kembang Waru dari tahun 1983 itu, nama Kembang Waru telah ada sejak Kerajaan Mataram. “Dulu karena disekitaran Kotagede banyak pohon Waru namun tidak berbuah, lalu para sahabat Keraton memiliki ide membuat kue dan diberi nama tersebut, kembang waru juga menjadi sajian jamuan di Keraton,” ungkap Hargito ketika ditemui dirumahnya di jalan Bumen, Purbayan, Kotagede (14/09).

Kini roti Kembang Waru tidak hanya sebagai konsumsi kerabat Keraton, namun telah dijual secara umum. Bentunyapun tidak banyak yang berubah dari kembang waru hanya saja bahan pembuatanya terkadang diganti seperti yang awalnya teluar ayam kampung diganti telur ayam biasa, tepung terigu menggantikan tepung ketan. Namun untuk proses pembuatannya sendiri Hargito masih menggunakan alat tradisional hingga sekarang. Usaha roti Kembang Waru miliknya pun tidak berjalan lancar-lancar saja diawal perintisannya sangat berat menurutnya.

“Dulu orang-orang disini pekerjaannya membuat bahan perabotan rumah dari bahan blek, hingga membentuk Koperasi untuk usaha blek itu, namun seiring berjalannya waktu adanya tragedi 1965 pada masa itu dan beberapa anggota ditangkap karena diduga ikut gerakan PKI, Koperasi itupun gulung tikar,” ungkapnya. Setelah usahanya dengan rekan-rekannya itu gulung tikar akhirnya dia memiliki ide bersama rekannya yang lain yang tidak tersandung kasus tersebut, untuk membuat roti Kembang Waru, namun pada akhirnya pula banyak yang keluar karena tidak kuat.

Baginya membuat roti Kembang Waru tidak sekedar mencari pendapatan untuk mencukupi hidupnya dan keluarganya. Lebih dari itu, usaha yang ditekuninya hingga sekarangpun menurutnya merupakan wujud pelestarian budaya. Peran pemerintah pun turut mendukungnya, dengan diadakan pelatihan olehnya yang didukung pemerintah, namun dsayangkan respon dari masyarakatpun tidak begitu banyak yang minat.

Proses yang menurutnya panjang dalam membuat kue itu dan telah muncul kue-kue bau membuat minat masyarakat kurang untuk membuat roti Kembang Waru. Dirinya hanya berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayan terbaik bagi yang ingin belajar maupun para konsumen. Hal itu terbukti untuk konsumen dari roti Kembang Waru buatannya pun masih cukup banyak, setiap hari dirinya memeperoleh pesanan. Wijilestari (50) yang telah menjadi pelanggan Kembang Waru milik Hargito membenarkan hal itu, selain rasanya yang enak juga pelayanan yang baik diberikan, dengan harga Rp. 1.700,00 menurutnya sangat terjangkau.

Hargito yang juga sebagai penggiat seni budaya mengungkapkan empat hal yang harus dijaga dalam penjualan roti kembang waru yaitu kwalitet terjaga, kedua harga terjangkau, pelayanan baik, tepat waktu. Dirinya juga berharap Kembang Waru juga terus ada yang juga lasan awal dirinya membuat Roti Kembang Waru “Disamping memepertahankan ciri khas Kotagede juga menghidupi keluarga sederhana saya, rumah stabil dan dapat menyekolahkan anak saya, lebih dari itu merupakan anugerah Tuhan,” ungkapnya.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi0%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indeks Kebahagiaan Masyarakat Kota Bandung Naik di Tahun 2017 ini Sebelummnya

Indeks Kebahagiaan Masyarakat Kota Bandung Naik di Tahun 2017 ini

Sepak Terjang Perjalanan Cukur Rambut Asgar Selanjutnya

Sepak Terjang Perjalanan Cukur Rambut Asgar

Herlambang Jati Kusumo
@herlambangjati

Herlambang Jati Kusumo

jatiherlambang.wordpress.com

Lulusan S1 Ilmu Komunikasi (Jurnalistik) UPN "V" Yogyakarta, suka dunia jurnalistik dan fotografi. Lahir di Klaten anak ke dua dari pasangan Topo Wibowo dan Surya Ciptaning Nur Wulandari. Kakak, Haryo Seno.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.