Gema mobil-mobil listrik makin bergaung di mana-mana, dan sepertinya mulai menggores garis sejarah masa depan dunia. Kendaraan-kendaraan listrik ini adalah alternatif yang lebih baik, dan lebih ramah lingkungan dari mobil-mobil berbahan bakar minyak (BBM). Apapun sumber bahan bakarnya, tenaga surya, angin, air, biofuel, bahkan nuklir pun, mobil-mobil ini mengasilkan NOL karbon saat dioperasikan.

Untungnya, di saat yang sama, pasar untuk kendaraan listrik juga terus tumbuh dan berkembang. Pabrikan-pabrikan besar seperti Tesla, BMW, Nissan, Renault, dan yang lain, juga telah menginvestasikan milyaran dollar untuk mengakselerasi riset dan pengembangan kendaraan listrik. Di saat yang sama, makin banyak masyarakat yang sadar dan ingin berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan, termasuk memperlambat pemanasan global, salah satunya adalah dengan beralih ke kendaraan ramah lingkungan ini.

Renault Zoe, mobil listrik laris di Prancis | parkers.com
Renault Zoe, mobil listrik laris di Prancis | parkers.com

IMF mengatakan bahwa transisi dari kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) kepada ke mobil dan motor yang menggunakan tenaga listrik sepenuhnya akan berlangsung selama 10 hingga 25 tahun ke depan. Perhitungan tersebut berdasarkan pergeseran paralel yang terjadi ketika terjadi peralihan dari kendaraan yang ditarik oleh kuda kepada kendaraan bermesin pada awal abad ke-20.

Dalam IMF Working Papers berjudul "Riding the Energy Transition: Oil Beyond 2040" , dijelaskan bahwa pola tingkat adopsi dari mesin BBM ke listrik yang terjadi saat ini hampir sama dengan ketika manusia beralih dari kuda ke motor.

Nissa Leaf sedang dicharge | insideevs.com
Nissa Leaf sedang dicharge | insideevs.com

IMF juga memperkirakan bahwa pada tahun 2040 kendaraan berbasis BBM akan nyaris hilang dari peredaran di negara-negara maju, sementara hanya tersisa sekitar sepertiga di negara berkembang.

Dan para produsen kendaraan seluruh dunia juga seolah bergerak bersama, berburu waktu mempersiapkan diri mengantisipasi revolusi ini. Mobil listrik yang awalnya hadir dengan harga relatif mahal, seiring perkembangan teknologi dan produksi yang semakin massal, mulai hadir dengan harga lebih terjangkau.

Dashboard Tesla Model 3 | electreck.com
Dashboard Tesla Model 3 | electreck.com

Beberapa minggu lalu, Tesla meluncurkan Tesla Model 3. Pabrikan mobil listrik terpopuler di dunia ini membanderol Tesla Model 3 dengan harga USD 35,000 'saja'. Sangat terjangkau untuk publik di negara-negara maju. Chevrolet, Volkswagen, Nissan, BMW, dan pabrikan dunia lain pun kini tengah sibuk mengembangkan kendaraan berbahan bakar listrik dengan spesifikasi yang sangat baik, yakni mampu berjalan jauh dalam sekali charging baterai (Tesla Model 3 mampu berjalan hingga 354 km dalam sekali charge), aman, autopilot, dan yang paling penting adalah harganya terjangkau.

Negara-negara di dunia pun, terutama negara maju, mulai membuka jalan untuk tumbuh dan berkembangnya mobil listrik. Di Norwegia, sudah ada jalur khusus bis listrik ramah lingkungan. Negara ini juga menyediakan stasiun-stasiun pengisian baterai mobil listrik dalam jumlah banyak, dalam satu stasiun bisa mengisi 28 mobil sekaligus, dalam waktu singkat, sekitar 30 menit!

Mobil-mobil listrik dicharge di Belanda | inhabitat.com
Mobil-mobil listrik dicharge di Belanda | inhabitat.com

Tahun lalu, Belanda, negara dengan populasi 17 juta dan gemar bersepeda, terjual sebabnyk 113 ribu unit mobil listrik. Mulai 2025, negara ini sudah melarang penjualan mobil berBBM.

Inggris memberikan insentif besar bagi pembelian mobil listrik. Di AS, mobil listrik pelan-pelan mulai menjadi mainstream sejak kemunculan Tesla tahun 2008. Mobil-mobil listrik seperti Tesla, Chevrolet Bolt, juga Nissan Leaf makin banyak terlihat di jalanan negeri paman Sam.

Stasiun pengisian baterai mobil listrik pun makin banyak ditemukan di seluruh negeri. Bahkan para ahli di AS sedang meneliti kemungkinan menerapkan teknologi 'inductive charging', dimana proses charging bisa dilakukan secara wireless, saat mobil sedang berjalan.

Inductive wireless charging | paultan.org
Inductive wireless charging | paultan.org

Prancis bahkan mulai berani menerapkan kebijakan pemberian insentif untuk pembelian mobil-mobil ramah lingkungan, dan 'denda' untuk pembelian mobil-mobil tak ramah lingkungan.

Mobil-mobil seperti Renault Zoe, Nissan Leaf, dan Bolloré Bluecar makin banyak terlihat. Jerman, Jepang, dan China tak ketinggalan. Ketiganya adalah negara-negara produsen mobil yang mulai mengalihkan perhatian pada mobil-mobil ramah lingkungan. Jerman bahkan sedang meneliti untuk pembuatan baterai dengan kapasitas tinggi, yang mampu dicharge dengan cepat.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia harus bersiap diri. Ini kesempatan besar bagi Indonesia untuk berperan dalam revolusi dunia otomotif ini. Selain para ahli pun sudah banyak, pemerintah juga membuka pintu lebar untuk tumbuh dan berkembangnya mobil listrik di Indonesia. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir optimistis Indonesia akan mulai memproduksi sendiri mobil bertenaga listrik mulai 2020, berdasarkan road map yang telah disusun Kemenristekdikti.

Mobil Selo karya Ricky Elson | mobil123.com
Mobil Selo karya Ricky Elson | mobil123.com

Kemenristekdikti telah bekerja sama dengan empat perguruan, yaitu Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), untuk mengembangkan mobil listrik.

Kehadiran mobil listrik mempunyai tiga keuntungan. Pertama mengurangi emisi gas buang, kedua membuat udara lebih bersih, dan yang ketiga masyarakat mempunyai pilihan apakah tetap menggunakan mobil berbahan hydrocarbon atau menggunakan listrik. 

Sekali lagi, Indonesia harus bersiap.

Tak hanya mengembangkan mobil listrik ramah lingkungan yang mumpuni dan dapat diandalkan, namun juga infrastuktur lain seperti stasiun pengecasan, bengkel-bengkel dan toko spare parts, juga terus melahirkan para ahli, dengan mengintegrasikan 'hal baru' ini di kampus-kampus dan sekolah.

Sumber daya manusia yang dimiliki bangsa Indonesia saat ini sangat siap untuk mendukung pengembangan mobil listrik, begitupula jika mobil listrik dirakit di Indonesia. Cassisnya, onderdilnya, interiornya, sistem kemudinya semuanya sama, yang berbeda hanya menghilangkan mesinnya diganti dengan baterai. 

"Kalau di-assembling (dirakit) di sini, Indonesia sangat siap sekali karena onderdilnya sama, casis-nya sama, interiornya sama, sistem kemudinya juga sama. Yang beda itu mesinnya enggak ada, diganti baterai yang menyalurkan listrik ke penggerak roda. Perusahaan-perusahaan otomotif besar seperti Mercedes Benz, Toyota, Nissan merubah seperti ini untuk mobil angkutan penumpang," kata Menteri ESDM Ignasius Jonan dalam keterangan tertulisnya yang dilansir Detik.com.

Mobil listrik adalah proses modernisasi sehingga perkembangannya tidak bisa dihindari.

Revolusi besar ini sedang dalam tahap awal terjadi, dan Indonesia tak boleh ketinggalan lagi.

Referensi :

India Times | Inhabitat | Beritagar | South Morning China Post | Detikcom

Ada 1 komentar

Ayo ikutan juga