Bersama Rasendriya, Rizal Abdulhadi Mengarungi Puluhan Negara di Berbagai Benua

Bersama Rasendriya, Rizal Abdulhadi Mengarungi Puluhan Negara di Berbagai Benua

Dalam waktu dekat, lima negara Asia sudah menunggu penampilan Rizal dengan Rasendriyanya. Foto/ilustrasi © rizalabdulhadi.com

Rasendriya, mungkin terdengar sangat asing bagi orang awam yang tidak mengerti soal alat musik. Rupanya Rasendriya merupakan alat musik yang terbuat dari bambu dengan mengambungkan alat musik petik, tiup, dan pukul.

Dari instrumen unik yang di ciptakan oleh Rizal Abdulhadi itu, ia bisa melahirkan album. Rizal merupakan satu-satunya wakil Indonesia di Kongres Bambu Dunia, dia juga berhasil menyebarkan pesan lingkungan keseluruh dunia.

Dalam waktu dekat, lima negara Asia sudah menunggu penampilan Rizal dengan Rasendriyanya. Dimulai dari Malaysia, lanjut ke India, lalu Thailand, Singapura, dan Filipina.

Rizal tak hanya tampil di festival saja, namun juga dijadwalkan mengadakan workshop. ”Membagi ilmu soal bambu,” katanya.

Jika dikalkulasi, dalam lima tahun terakhir, berkat musik rakyat itu dia sudah mengunjungi puluhan negara di berbagai benua.

Tak terkecuali di dalam negeri sendiri. Pemuda berusia 19 tahun itu telah singgah di semua pulau-pulau besar, kecua Papua. Kegiatannya bermacam-macam, mulai dari berkolaborasi dengan musisi setempat, atau membagi ilmu soal bambu.

Penampilan Rizal dan Rasendriya
Penampilan Rizal dan Rasendriya

Dari bahan bambu, Rizal berhasil menciptakan Rasendriya lima tahun silam. Itulah alat musik yang menggabungkan tiga instrumen: gitar, didgeridoo atau celempung, dan perkusi mini. ”Ketiganya mewakili alat musik petik, tiup, dan pukul,” tutur Riza.

Penciptaan Rasendriya tidak lah mudah. Juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar.Bermula dari Majalengka, Jawa Barat, tanah kelahiran Rizal, yang memperkenalkannya dengan musik kontemporer. Rizal menambah pengetahuan musiknya dari komunitas musik Konser Kampung Jatitujuh yang bermarkas di Desa Jatitujuh.

Dari sanalah Rizal mengetahui bahwa instrumen musik kontemporer bisa dipadukan dengan alat musik lain. Sehingga melahirkan karya luar biasa.

Rizal yang ketika itu masih berusia 19 tahun membuka konser kecil dari rumah ke rumah. Dari komunitas ke komunitas. perjuangan itu dilakukan bukan karena ingin namanya dikenal, tapi juga membantu sesama. Semampu yang dia bisa. Sampai menginjakkan kaki di tanah Lombok dan bertemu Ari Julian, dia konsisten melakoni aksi sosial tersebut.

”Bermusik untuk menyampaikan pesan,” ucap Rizal. Keteguhan tersebut dia pertahankan sampai sekarang. Bisa dilihat di album bertajuk Hope yang dia buat dengan memanfaatkan rasendriya. Dalam album berisi 15 lagu yang dirilis tahun lalu tersebut, dia mengisahkan harapan. Tentang orang-orang yang tidak pernah berhenti berharap. Orang-orang yang dia maksud, antara lain, Ir Soekarno, RA Kartini, Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Bob Marley, dan Nelson Mandela. Semuanya tokoh besar yang juga punya pengaruh besar.

Semenjak Rasendriya di kenal dunia luar, Rizal aktif mengedukasi masyarakat soal bambu. ”Buka workshop di ubud dan Australia,” ujar Rizal. Hal serupa dia lakukan di setiap tempat yang didatanginya. Dengan rasendriya, Rizal berusaha menunjukkan bahwa bambu bisa menjadi bahan untuk berkarya.

Rizal tidak membuat Rasendriya dalam jumlah banyak. Dia juga tidak menjualnya. Tapi, setiap ada yang datang untuk belajar, pasti dengan senang hati dia bersedia mendampingi. Dia membagikan ilmu untuk memanfaatkan bambu. Mengubahnya menjadi berbagai alat bantu. Baginya bambu tidak hanya bermanfaat untuk pembuatan Rasendriya. Dia juga menciptakan bingkai kacamata yang bahan dasarnya bambu. Lalu, pengeras suara yang dia pakai pun terbuat dari bahan serupa. Bambu juga dia pakai untuk membuat beragam pajangan dan perkakas di tempat tinggalnya. Bambu pula yang membuat dia diundang ke Kongres Bambu Dunia di Meksiko pada 2015 dan menjadi satu-satunya wakil Indonesia di ajang tersebut.

Rizal juga menjelaskan bahwa gitar berkualitas bisa terbuat dari bambu. Bambu bisa tumbuh cepat, maka dalam pembuatan gitar tidak perlu menunggu lama seperti saat menggunakan pohon. Terlebih bagi Indonesia yang kaya sumber daya bambu.

Rizal berencana menggaet lagi musisi dari luar Indonesia untuk berkolaborasi dengan dirinya. Bukan hanya dalam bermain musik, melainkan juga dalam social project. Termasuk dalam pemanfaatan bambu.

sumber: jpnn.com

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Kriuknya "Kripik Ikan Dero" Khas Tanah Pesisir, Sambiroto, Tayu, Jawa Tengah Sebelummnya

Kriuknya "Kripik Ikan Dero" Khas Tanah Pesisir, Sambiroto, Tayu, Jawa Tengah

Ekonomi Digital RI Tumbuh Paling Pesat di Asia Tenggara Selanjutnya

Ekonomi Digital RI Tumbuh Paling Pesat di Asia Tenggara

Maria Umma Dewi
@mariaumma

Maria Umma Dewi

Ich bin Studentin an der Staatlichen Universitaet Surabaya. Meine Mama ist eine Eingebung. Das Zwielicht ist Schoenheit, liebe ich das. Banyuwangi ist ein wundershoen Indonesien, und komme ich aus Banyuwangi.

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.