Pesona Batik Pesisir Bakaran Khas Juwana, Pati, Jawa Tengah

Pesona Batik Pesisir Bakaran Khas Juwana, Pati, Jawa Tengah
info gambar utama


Sumber: Riset Lapangan Antropologi Budaya ( Hasil wawancara di pembuatan batik Bakaran"sekar arum" milik bu Hartatik, Juwana, Pati, Jawa Tengah pada 18 Januari 2014 pukul 09.00 WIB bersama Bapak Dosen Ali Romdhoni, MA).

Batik berasal dari rangkaian bahasa Jawa dengan kata amba yang berarti menulis dan tik yang berarti titik, jelasnya adalah menulis dengan bentuk titik. Batik menjadi warisan Nusantara yang kaya akan makna filosofi, nilai etika dan estetika. Kini kehadiran batik kembali bersemi semenjak ditetapkan oleh UNESCO pada Jumat, 2 Oktober 2009 juga atas dukungan rakyat Nusantara yang semakin sadar akan pentingnya pelestarian kebudayaan lokal khas Nusantara khususnya batik. Hal ini didukung juga oleh minat dan permintaan pasar global yang mulai melirik keunikan batik itu sendiri. Pada saat ini permintaan batik sudah tidak lagi menjadi kebutuhan orang tua saja, akan tetapi ikut digandrungi kaum muda kekinian. Peran dari pengrajin batik juga ikut mendongkrak peningkatan kualitas atau mutu dari adanya batik serta didorong oleh peningkatan inovasi dari berbagai sumber yang ikut memberikan sumbangsih dalam memajukan kebudayaan batik untuk dapat lebih mendunia. Untuk meningkatkan kualitas dan rasa cinta terhadap batik maka kini dibuat dan dimodifikasi sesuai dengan permintaan konsumen serta pasar dengan ragam ornamen di dalamnya. Dari mulai batik cetak, batik tulis dan kombinasi antara keduanya. Adapun Jenis batik memiliki ragam corak warna mulai dari batik Yogyakarta, batik Sidomukti Magetan, batik mega mendung Cirebon, batik Pekalongan, batik Solo dan kini saya akan mengenalkan pada teman-teman tentang batik tulis khas Bakaran, Juwana, Jawa Tengah.

Riwayat Batik Bakaran

Awal adanya batik Bakaran dimulai dari peran Nyi Bonoewati yang memiliki keterampilan membatik terutama pada batik tulis. Hal ini didukung juga oleh pekerjaan Nyi Bonoewati sebagai pembuat seragam perajurit kerajaan Majapahit di akhir abad ke 14 M. Pada saat itu, kerajaan Majapahit tengah diambang keruntuhan sehingga perangpun terjadi. Maka dari tu, Nyi Bonoewati bersama ketiga saudaranya yaitu, Ki Dukut, Ki Truno dan Ki Dalang Becak melarikan diri pergi menyusuri pantai utara Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk menyelamatkan diri. Di perbatasan itu pula Nyi Bonoewati berpisah dengan saudaranya Ki Dalang dan kemudian melanjutkan perjalanan menyusuri kawasan rawa yang penuh pohon draju (sejenis semak berduri) yang kini dikenal dengan sebutan Drajuwana atau Juwana. Bersama Ki Dukut, Nyi Bonoewati membuka lahan di kawasan rawa tersebut sebagai tempat persembunyian. Seiring waktu berjalan, di tempat itu juga Nyi Bonoewati mengajarkan warga membatik. Motif batiknya adalah motif batik Majapahit yaitu sekarjagad, padas gempal, magel ati dan limaran. Motif Khusus yang diciptakan oleh Nyi Bonoewati adalah motif gandrung. Motif ini terinspirasi oleh pertemuannya dengan Joko Pakuwon. Singkat sejarah, ketika Nyi Bonoewati sedang sibuk membatik, Joko Pakuwon datang, karena begitu gembiranya bertemu Joko Pakuwon, secara tidak sengaja Nyi Bonoewati mencoret kain batik dengan canting yang berisi malam sehingga tercipta motif garis silang yang kini dikenal dengan batik Bakaran.

Karakteristik Batik Bakaran

Motif batik Bakaran jika dilihat dari segi warna memiliki ciri tersendiri yaitu hitam, putih dan cokelat. Warna yang dihasilkan menggunakan bahan alami seperti kulit pohon tingi yang menghasilkan warna cokelat, kayu tegoran yang menghasilkan warna kuning dan akar kudu yang menghasilkan warna sawo matang. Perbedaan dari batik Bakaran dengan batik lainnya dilihat dari segi ornamennya, motif dan warnanya. Selain itu juga, batik Bakaran memiliki ciri khas sebagai batik tulis pesisir. Hal ini dikarenakan letak geografis wilayah Juwana yang dekat dengan letak pesisir pantai sehingga terbentuk aneka motif batik tulis khas pesisir seperti blebak urang, loek chan serta motif bandeng. Di samping itu, remekan atau retakan juga menjadi ciri khas batik pesisir Bakaran. Dari masing-masing ciri tersebut syarat akan makna filosofis. Khususnya pada remekan atau retakannya bisa diartikan sebagai simbol agar dapat menjalin hubungan antar sesama manusia agar tetap rukun dan tidak bercerai berai. Bagi pasangan suami istri, ini menggambarkan kelanggengan hubungan pernikahan agar tetap bahagia selamanya.

Proses Pembuatan dan Pendistribusian Batik Bakaran

Ada beberapa proses dan teknik pembuatan batik Bakaran, yaitu mulai dari ngirah, nyimplong, ngering, nerusi, nembok, medel, nyolet, mbironi, nyogo dan nglorod. Proses ini bertahap mulai dari tahap pertama hingga akhir. Bila sudah selesai maka corak batik sudah bisa dilihat dengan sempurna. Semuanya dilakukan secara manual oleh tenaga manusia untuk menjaga kualitas batik Bakaran itu sendiri. Pendistribusian batik Bakaran di pulau Jawa meliputi daerah Rembang, Kudus dan Surabaya.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini