Museum di Tengah Kebun, Ada di Balik Padatnya Kota Jakarta

Museum di Tengah Kebun, Ada di Balik Padatnya Kota Jakarta
info gambar utama
Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Di balik padatnya kota Jakarta dengan kemacetan yang melanda di hampir semua ruas jalan, ternyata Jakarta memiliki museum yang suasanya sangat sejuk. Mungkin juga tak banyak yang tahu keberadaanya, padahal letaknya berada di pusat gaya hidup di Jakarta, yaitu Kemang, tepatnya di Jalan Kemang Timur No 66.

Museum yang berada di Tengah Kebun itu bisa ditemukan dengan adanya nama penanda museum yang tertempel di tembok kanan, dan kiri. Museum itu memiliki pintu gerbang kayu yang besar, yang menutupi bentuk bangunan di dalamnya.

Pengunjung tidak dikenakan biaya apa pun untuk masuk ke Museum. Tapi, untuk dapat melihat-lihat museum pengunjung harus memiliki rombongan paling sedikit tujuh orang dan paling banyak 12 orang. Untuk mengunjungi museum harus melakukan perundingan jauh-jauh hari dengan pengelola museum..

Memasuki Museum

Bangunan Utama museum
info gambar

Memasuki Pintu Gerbang terdapat halaman yang sangat luas. Bagunan utama museum terlihat menyerupai rumah. Sebelum mencapai bangunan utama, pengunjung harus melewati kebun sepanjang 60 meter dengan lebar 7 meter.

Menurut pengelola museum, Mirza Djalil, pengunjung sering menyebut tempat ini sebagai lorong waktu. Kerena di bagian kanan dan kiri terdapat tanaman-tanaman hijau yang tertata apik dan terlihat subur.

Sebelum memasuki bangunan utama banyak benda-benda antik yang diletakkan di luar ruangan. Mulai dari topeng, patung, sampai fosil pohon yang berasal dari Masa Triassic di Pulau Jawa, 248 juta tahun sebelum masehi. Ada juga fosil kerang dari Maroko, yang berasal dari Masa Jurasic, 230 juta tahun sebelum masehi. Belum lagi fosil lebah raksasa yang ditemukan di Sangiran, Jawa Tengah, dan belum diketahui umurnya.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Sebenarnya, Museum di Tengah Kebun ini merupakan rumah tinggal Sjahrial Djalil paman Mirza, tapi pada tahun 2009 ia mengesahkannya sebagai museum di tangan notaris.

Koleksi Berharga

Museum di Tengah Kebun memiliki 2.841 koleksi. Semua koleksi itu tersebar di 17 ruangan di bangunan utama seluas 700 meter persegi, yang merupakan rumah Sjahrial Djalil, mulai dari pintu masuk, kamar tidur, sampai kamar mandi. Selain itu, barang-barang juga tersebar di halaman dan kebun seluas 3.500 meter persegi. Bahkan masih ada barang-barang koleksi yang belum dipajang yang jumlahnya bisa mencapai dua kali lipat dari barang yang dipajang.

barang-barang antik
info gambar

Semua barang-barang bernilai sejarah itu dikumpulkan Sjahrial Djalil selama 42 tahun terakhir. Ia melakukan perjalanan keliling dunia sebanyak 26 kali. Selama perjalanan itu, ia banyak mengunjungi museum-museum di luar negeri dan merasa kecintaannya terhadap barang-barang sejarah semakin besar. Sebanyak 90 persen barang-barang sejarah ia dapatkan di Balai Lelang di berbagai kota di Eropa, Amerika, Hong Kong, dan Australia. Semua koleksi yang dimiliki Sjahrial pun berasal dari 63 negara dan 21 provinsi di Indonesia.

“Misinya Pak Sjahrial Djalil mengembalikan barang-barang heritageIndonesia yang ada di luar negeri,” ujar Mirza.

Barang-barang sejarah Indonesia memang banyak yang tersebar di luar negeri. Hal ini sudah terjadi sejak zaman penjajahan Belanda dulu. Bahkan bangsa Indonesia sendiri pun tidak tahu akan kenyataan ini. Kekayaan bangsa Indonesia diambil begitu saja, dan dijual dengan harga yang mahal di balai lelang.

Untuk itulah, Sjahrial Djalil mencoba membawa barang-barang itu kembali pulang ke Tanah Air walaupun tidak semuanya berhasil dibawa. “Belum semua karena barang-barang kita itu super mahal,” ucap Mirza.

Ada lukisan, patung, arca, wayang, keramik, topeng, kursi, meja, hiasan dinding, peti kayu, lemari, payung, dan tongkat. Ada juga tempat perhiasa, tempat manisan, peralatan makan, vas bunga, lampu, perhiasan, dan masih banyak lagi. Semuanya tertata dengan apik di setiap sudut rumah, dilengkapi dengan penamaan dan tahun barang itu dibuat.

Selain berbagai koleksi yang bernilai sejarah tinggi, beberapa material bangunan museum, yang sebenarnya masih menjadi rumah tinggal Sjahrial Djalil ini, juga berasal dari material-material bersejarah, seperti batu bata dan engsel pintu. Batu bata didapatkan dari pembongkaran gedung-gedung tua di Pasar Ikan yang ternyata merupakan bangunan VOC yang berusia 400 tahun. Sementara engsel pintu berasal dari abad ke 18, bekas dari penjara wanita di Bukit Duri.

Asal barang-barang yang beragam dan tahun pembuatannya yang berbeda-beda juga memberikan pelajaran tersendiri bagi setiap pengunjung museum. “Museum di Tengah Kebun ini untuk belajar dan mengetahui peradaban manusia,” kata Mirza.


Sumber: travel.kompas,com

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini