Orang Timor Punya Cara Memberi Salam yang Tidak Biasa

Orang Timor Punya Cara Memberi Salam yang Tidak Biasa
info gambar utama

Greetings from Timor

-
-
-

Orang Indonesia pada umumnya, terbiasa menyambut orang lain ketika bertemu dengan mengucapkan salam dibarengi jabat tangan. Di kesempatan apapun lho! Kalau bertemu di acara resmi misalnya, lazimnya orang Indonesia akan menyapa dengan menjabat tangan orang yang ia temui sambil mengucap salam. Salamnya juga bisa bermacam-macam. Dengan salam secara agama "assalamu'alaikum" atau "om swastiastu" misalnya, atau dengan salam nasional "selamat pagi" yang dilanjutkan dengan menanyakan kabar. Jika berhalangan untuk bersalaman, orang Indonesia cenderung akan mengganti kontak fisik itu dengan menelungkupkan tangan atau membungkukkan badan sedikit sebagai bentuk hormat dan sapaan kepada orang lain.

Memang sejak kecil sebagian besar dari kita sudah diajarkan untuk bersalaman dengan orang ketika kita bertemu dan ketika kita akan pamit pergi. Ada tambahan 'cium tangan' juga kalau bersalaman dengan orang yang lebih tua kan. Coba ingat-ingat, setiap kita diajak bertamu ke rumah teman bapak-ibu kita, pasti kita didorong untuk bersalaman dengan beliau, baik ketika bertemu maupun ketika akan berpisah. Pun ketika di sekolah, di lingkungan keluarga, di acara resmi, atau bahkan yang kebetulan kita temui. Itulah cara orang Indonesia menyapa dan memberi hormat pada orang lain. Budaya jabat tangan atau bersalaman ketika bertemu dan berpisah ini tak akan lepas, kita bawa sejak kecil hingga dewasa dan menua di Indonesia.

Itu sih kalau di Indonesia. Ya, lain pagar lain ilalang, lain tempat lain pula budayanya. Berbeda dengan orang Indonesia dengan budaya jabat tangannya, orang Jepang justru terbiasa membungkukkan badan ketika bertemu dengan orang lain. Ada juga masyarakat Thailand yang menelungkupkan tangan kepada orang yang mereka temui. Terbilang aneh lagi orang Zimbabwe yang bertepuk tangan jika akan bertemu atau berpisah. Tuh, beda banget ya? Bahkan di Indonesia saja ada lho, yang cara menyapanya bukan dengan berjabat tangan, menelungkupkan tangan, atau membungkuk. Yap! Mereka adalah orang Timor.

Tidak seperti orang Indonesia pada umumnya yang cenderung mengucapkan salam sambil berjabat tangan jika bertemu atau berpisah dengan orang lain, masyarakat Timor justru memiliki tradisi salam hidung! Yaitu saling menyentuhkan dan menggesekkan hidung, antara kita dengan orang lain yang kita temui. Kepada siapapun; baik laki-laki kepada perempuan maupun sebaliknya, anak-anak pada orang tua maupun sebaliknya, warga lokal kepada tamu maupun sebaliknya.

Salam hidung bagi orang Timor merupakan wujud kehangatan dan keakraban serta ekspresi kasih sayang antara satu orang dengan orang lainnya. Dengan salam hidung, itu berarti kita menghormati dia sebagai saudara sesama. Jadi bagi orang Timor, menggesekkan hidung mereka satu sama lain sama sekali bukan tabu. Bahkan, terkadang saking semangatnya mereka bertemu dengan kawan, hidung mereka bukan hanya saling bersentuhan, tapi juga saling berbenturan agak keras. Duh. Sampai tak sengaja bersentuhan bibir juga pernah. Barangkali sebagian akan menganggap salam hidung -apalagi antara pria dan wanita tampak tabu dan tak sesuai norma yang diusung budaya Timur, tapi itulah cara orang Timor menunjukkan kasih antar sesama mereka, sehingga tidak ada keraguan atau keengganan sedikitpun bagi mereka untuk melakukan tradisi salam hidung jika bersua.

Terus kok bisa orang Timor punya tradisi salam hidung ketika sebagian besar masyarakat Indonesia akan berjabat tangan jika bertemu? Awalnya saya pikir salam hidung di Timor adalah pengaruh budaya dari bangsa Portugis yang pernah lama menduduki Timor. Tapi rupanya tidak ada literatur yang menyebutkan nose kiss sebagai budaya greeting bangsa Portugis. Bukan juga Belanda atau Jepang atau Inggris. Budaya salam hidung ini justru ditemukan di masyarakat Eskimo, New Zealand, Hawai, Mongol, dan sebagian masyarakat Asia Tenggara seperti Vietnam, Kamboja, Laos, Thailand, pun dengan Timor dan sebagian besar masyarakat NTT (https://en.wikipedia.org/wiki/Eskimo_kissing). Makanya, orang Timor menyebut tradisi salam hidung sebagai tradisi lokal, bukan bawaan dari penjajah manapun.

Yang unik, bukan hanya tidak biasa berjabat tangan ketika bertemu ata berpisah dengan orang lain, orang Timor bahkan menganggap jabat tangan sebagai ungkapan good bye, bukan see you later. Sehingga jabat tangan ketika berpisah tidak lazim dilakukan, bahkan dilarang. Karena menurut mereka itu menunjukkan orang yang mengajak berjabat tangan tak akan dan tak ingin lagi bertemu dengan kita suatu saat nanti. Hal ini tentu berkebalikan dengan sebagian besar orang Indonesia yang justru menganggap berjabat tangan sebagai bentuk kesopanan ketika bertemu maupun berpisah. Maka satu satunya yang dilakukan orang Timor ketika hendak berpisah hanyalah mengucap salam yang disertai dengan membungkuk atau melambaikan tangan.

Perlu diketahui juga, orang Indonesia pada umumnya memang memberi salam dengan ucapan "Selamat Pagi/Siang/Sore/Malam", tapi di daerah masing-masing tentu ucapan salam itu akan berbeda. Orang Jawa misalnya yang punya "Sugeng Ndalu" untuk ucapan Selamat Malam. Atau orang Batak yang suka bilang "Horas" untuk memberi salam. Umat Muslim juga punya sapaan "Assalamu'alaikum" dan umat Hindu misalnya dengan "Om Swastiastu". Greetings atau ucapan salam memang menjadi ciri khas suatu masyarakat tertentu. Begitupun masyarakat Timor. Alih-alih mengucapkan "Selamat siang" ketika bertemu atau berpisah, mereka lebih sering menyapa satu sama lain dengan mengucap "Shalom!". Shalom sendiri memiliki arti ucapan salam dan perpisahan yang biasa digunakan orang Yahudi (https://www.merriam-webster.com/dictionary/shalom).

Tenang, ini bukan masalah konspirasi Yahudi atau semacamnya, hanya saja menarik untuk kita tau bahwa pengaruh salam Shalom ini sampai juga di masyarakat Timor. Bukan hanya untuk diketahui tapi juga sudah menjadi tradisi. Dan masyarakat Timor bukan hanya mengucapkan Shalom ketika bertemu dan berpisah, tapi juga ketika mengakhiri suatu pertemuan. Jika sebuah pertemuan sudah usai, biasanya akan ada aba-aba dari satu orang, "1..2..3..", lalu semua peserta pertemuan akan berdiri dan berteriak "SHALOM!".

Indonesia itu kaya!

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini