Indonesia Punya Potensi ZISWAF Tak Terbatas untuk Kesejahteraan Masyarakat

Indonesia Punya Potensi ZISWAF Tak Terbatas untuk Kesejahteraan Masyarakat
info gambar utama

Sebagai bagian dari elemen perekonomian islam, zakat mempunyai peranan yang penting dalam perekonomian Indonesia. Peranan institusi zakat dalam aktivitas ekonomi Indonesia tidak kalah pentingnya dengan fungsi institusi keuangan islam yang lain. Eksistensi institusi zakat yang ada diharapkan dapat mendorong perekonomian suatu Negara. Tujuan institusi zakat dalam perekonomian di Indonesia diharapkan dapat menjadi faktor stimulus kemakmuran ekonomi Indonesia dalam membantu mengurangi tingkat kemiskinan, menciptakan keadilan ekononmi, menciptakan distribusi pendapatan yang merata, dan menjadi jaminan sosial dengan pelayanan yang efektif.

Kemiskinan di Indonesia menurut BPS per maret 2015 adalah 11,2 persen atau 25.590.000 jiwa, menggunakan tolok ukur pengeluaran USD 1,2/hari/per kapita, maka angka kemiskinan akan melonjak menjadi 40 persen. Hal ini dimulai sejak era reformasi dimana kesenjangan sosial terus memburuk. Ini dibuktikan dengan angka rasio gini yaitu rasio kesenjangan masyarakat yang sudah mencapai ambang batas yang menurut konsesus ekonom dianggap tidak lagi wajar yaitu 0,4 pada 2010. Artinya, pada tahun tersebut satu persen golongan terkaya menguasi 40 persen aset nasional. Dasar data tersebut menjadi sebuah pemahaman baru bahwa kondisi makroekonomi sejatinya terdapat celah lubang yang jika dibiarkan atau kurang intervensi pemerintah akan menjadi lobang kesenjangan yang semakin menganga.

Disinilah, zakat menjadi salah satu potensi sumberdaya ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk menambal lobang kesenjangan. Secara kelembagaan diketahui bahwa zakat dianggap sebagai sebuah kekuatan yang diperuntukan khusus untuk membangun ekonomi rakyat melalui distribusinya kepada 8 golongan (8 asnaf). Delapan golongan tersebut digeneralisasikan pengkhususanya pada golongan masyarakat dengan ekonomi kurang mampu baik miskin atau fakir. Optimisme potensi zakat ini tidak terlepas dari data capaian yang dihimpun oleh Badan Zakat Nasional (BAZNAS) dimana pada tahun 2016 total dana ZIS yang dapat adalah sebesar Rp. 459,17 miliar dan meningkat 33,49 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut telah menjadi tren seiring kesadaran masyarakat untuk berfilantropi meningkat. Nyatanya pada tahun 2014 data yang dihimpun adalah sebesar Rp. 137,71 miliar yang naik signifikan dari tahun 2013 yang mencapai gap kenaikan 285,87 persen. Dari sekian miliar tersebut didapatkan fakta bahwa zakat perseorangan lebih mendominasi angka zakat dibandingkan korporasi. Artinya, gamblang bahwa masyarakat Indonesia ini memang terbukti pemurah dan ramah. Pepatah orang asing yang mengatakan penduduk Indonesia ramah adalah benar. Masyarakat masih sangat memegang teguh jati diri asli sebagai manusia yang saling mengasihi.

Berbicara mengenai zakat dan Indonesia, diketahui pula bahwa banyak dana donasi yang bersifat filantropi ini sangat bermanfaat untuk kemanusiaan. Berapa banyak bantuan yang disalurkan lewat lembaga-lembaga sosial dan kemanusiaan untuk penduduk di belahan dunia lain yang sedang mengalami derita, baik karena bencana alam ataupun karena konflik yang berkepanjangan. Kita masih ingat benar, bantuan sejumlah 2 Miliar dikirimkan ke Palestina selama bulan Ramdhan tahun ini. Melalui dompet Dhuafa pula, pada bulan april 2017 dikirimkan bantuan kemanusiaan untuk 1400 pengungsi Somalia yang sumberdananya adalah dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf).

Dengan nominal yang tidak terbatas tersebut, maka sangat mungkin jika potensi dana filantropi masyarakat Indonesia ini digunakan untuk kesejahteraan masyarakat. Bentuk donasi tersebut dapat terserap dengan baik pada kantong-kantong humanitas seperti bantuan untuk orang miskin yang makin hari makin meningkat, bantuan untuk infrastruktur pendidikan, pembangunan infrastruktur kesehatan yang tentu akan membawa manfaat multiplier yang tinggi sehingga menjadi dana filantropi yang produktif, dan masih banyak lagi kemungkinan pemanfaatannya. Yang jelas, Indonesia masih memiliki kekayaan lain selain sumberdaya alam yang terkenal itu. Sumberdaya yang tidak akan mudah diambil dan di eksploitasi oleh Negara lain. Sumberdaya yang memiliki nilai sosial dan kemanusiaan tinggi, serta memiliki manfaat ekonomi yang baik pula. Nama sumberdaya itu adalah kerendahan hati dan sikap dermawan umat melalui Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf.

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini