Lupa Sandi?

Pagelaran 10.001 Tari Saman Memecahkan Rekor Muri

Andri Kurniawan Sutanto
Andri Kurniawan Sutanto
0 Komentar
Pagelaran 10.001 Tari Saman Memecahkan Rekor Muri

Sebuah acara yang bertajuk " Pagelaran 10.001 Penari Saman" diadakan pada 13 Agustus 2017 dengan membawa bersama-sama 12.262 penari di Stadion Stadion Seribu Bukit di kota Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh.

Kepala Dinas Pariwisata Aceh Reza Pahlevi mengatakan bahwa tarian tradisional tersebut sebelumnya telah mendapatkan rekor MURI untuk kategori yang sama di tahun 2014 dengan 5.057 orang. Rekor tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi setelah UNESCO menetapkan Tari Saman sebagai Karya Tak Benda pada tahun 2011.

"Acara ini merupakan kolaborasi antara pemerintah Aceh dan Gayo Lues. Setelah dianugerahi sebagai warisan dunia oleh UNESCO, Tari Saman tidak hanya dimiliki masyarakat Gayo Lues, tapi juga bagi dunia; Mari kita melestarikannya bersama - sama, "kata Reza.

Bupati Gayo Lues Ibnu Hasyim berharap acara ini juga bisa menjadi pengingat Syekh Samman.

" Pagelaran 10.001 Penari Saman ini akan mengingatkan masyarakat terutama pada Syekh Samman, yang membuat negara ini bangga dengan karyanya," kata Ibnu.

Tari Saman adalah tarian tradisional dari Tanah Rencong. Ini adalah salah satu tarian yang diajarkan di sekolah.  Tari Saman merupakan sebuah tarian asal Suku Gayo, Aceh yang mulai dikembangkan pada abad ke 14 oleh seorang ulama besar bernama Syekh Saman. Pada awalnya, tarian ini hanyalah sebuah permainan rakyat bernama Pok Ane. Masuknya Kebudayaan Islam ke daerah Gayo pada masa itu, mengalami akulturasi dengan permainan Pok Ane, sehingga nyanyian pengiring permainan Pok Ane yang awalnya hanya bersifat pelengkap, berubah menjadi nyanyian penuh makna dan pujian pada Tuhan YME. Kebudayaan Islam juga mengubah beberapa gerakan pada tari Saman mulai dari tepukan dan perubahan tempat duduk. Gerakan-gerakan dalam tari saman secara umum terbagi menjadi beberapa unsur, yaitu gerakan tepuk tangan dan gerak tepuk dada, gerak guncang, gerak kirep, gerak lingang, dan gerak surang-saring. Nama-nama semua gerakan dalam tari saman ini berasal dari bahasa Gayo.

Pertunjukan tarian ini membutuhkan konsentrasi penuh, yang dimulai dengan gerakan bergoyang lambat pada awalnya dan kemudian berjalan lebih cepat dan lebih cepat menjelang akhir.

"Tari Saman memiliki tingkat kesulitan yang tinggi; Penguasaan itu membutuhkan daya tahan fisik yang tinggi, gerakan tubuh yang cepat dan disinkronkan antara penari dan pemahaman lagu, "kata Ibnu.

"Bukan hanya seberapa cepat gerakannya, tapi juga bagaimana penari ini tetap bisa sinkron saat tampil dengan kecepatan tinggi, karena itulah latihan dan disiplin diperlukan untuk melakukan Tari Saman yang menarik," tambah Ibnu.

Pada masa Kesultanan Aceh, Tari Saman hanya ditampilkan pada acara perayaan Maulid Nabi Muhammad di surau-surau atau masjid di daerah Gayo. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, tarian ini juga kemudian ditampilkan pada acara-acara umum seperti acara pesta ulang tahun, pernikahan, khitan, dan acara lainnya hingga sekarang.

Biasanya, tari Saman akan dipimpin oleh 2 orang syekh untuk mengatur kekompakan gerakan antar penari. Sebagai seorang pemimpin, syekh bertanggung jawab untuk mengatur irama gerakan sekaligus memandu nyanyian atau syair-syair yang mengiringi tarian ini. Di antara berbagai tarian dari seluruh Indonesia, tarian Saman termasuk dalam kategori seni tari yang sangat menarik. Keunikan tarian Saman terletak pada harmonisasi gerakan dalam tarian ini yang mengalun cepat bersama syair-syair dan yang mengiringinya. Para penari Saman bergerak serempak tanpa iringan alat musik apapun, melainkan dari suara penari itu sendiri. Banyak orang luar negeri bahkan lebih mengenal Tari Saman daripada Tari Kecak atau Tari Pendet yang berasal dari Bali.

Menteri Pariwisata Arief Yahya pun memberikan apresiasinya pada Gelaran 10.001 Tari Saman yang diselenggarakan Disbudpar Aceh. Pria asal Banyuwangi itu sering berucap, dengan semakin meningkatnya pelestarian budaya daerah, maka kesejahteraan masyarakat di sekitarnya semakin bertambah.


“Sudah saatnya pariwisata Aceh melalui atraksinya tari Saman bangkit dan dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk mengunjungi Aceh. Salam sukses untuk Aceh, Salam Pesona Indonesia, Wonderful Indonesia,” ucap Arief.

Terlepas dari beragam keunikannya, Tari Saman sangat berarti dan mempunyai makna yang sangat dalam bagi masyarakat Aceh. Tarian ini melambangkan tingginya sopan santun, pendidikan, kebersamaan, kekompakan dan kepahlawanan masyarakat Aceh yang religius. Pesan dakwah yang terkandung dalam setiap syairnya serta nasehat-nasehat dengan makna begitu dalam tersirat kental juga memiliki nilai tersendiri.

Nah, itulah informasi tentang keunikan tari saman asal Aceh yang melegenda. Semoga dengan artikel kali ini, kita menjadi semakin sadar bahwa kita memiliki kewajiban untuk terus melestarikan dan memperkenalkan warisan budaya nenek moyang kita pada generasi-generasi selanjutnya agar ia tidak hilang ditelan oleh sang waktu.

 

Pilih BanggaBangga80%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang4%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi16%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG ANDRI KURNIAWAN SUTANTO

Seorang mahasiswa S2 di Chongqing University, Tiongkok yang hobby travelling, membaca, menulis, dan mempelajari bahasa asing. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas