Kisah Mereka yang Beratapkan Perahu : Selembar Kisah Orang – Orang Sawang

Kisah Mereka yang Beratapkan Perahu : Selembar Kisah Orang – Orang Sawang

Catatan Tetua Suku Sawang tentang Muang Jong © teyatiana

“Kita telah lama bersekutu dengan orang-orang Sawang. Mereka adalah pelaut ulung yang hidup di perahu. Suku itu berkelana dari pulau ke pulau. Di Teluk Balok leluhur kita menukar pelanduk, rotan, buah pinang, dan damar dengan garam buatan wanita-wanita Sawang.” – Andrea Hirata.

Beberapa tahun silam, sulit bagi saya mengatakan darimana saya berasal. Tak banyak orang yang mengetahui provinsi Bangka Belitung, terlebih lagi Desa Gantung. Saat saya masih disekolah dasar, hanya guru ilmu sosial yang mengenal nama itu. “Pulau penghasil timah!” begitu katanya. Ketika Laskar Pelangi mencuat ke permukaan, tak ayal saya selalu menjawab dengan girang “Belitung” saat seseorang bertanya kota asal saya.

Belitung adalah suatu pulau yang begitu plural, seorang teman pernah berkata jika Belitung adalah pulau tak berpenghuni. Melayu beramai-ramai datang dari Riau dan Johor, disusul oleh masyarakat Minang, lalu datanglah Belanda yang membawa orang-orang Tiongkok untuk mencari timah –tak luput Suku Sawang yang memang sering menambatkan perahu dipulau ini, mereka direkrut Belanda untuk menjadi kuli panggul, penjahit karung timah dan pekerjaan apa saja yang butuh tenaga besar. Konon mereka memiliki tubuh sangat besar dan kuat. Konon kubur mereka sepanjang dua meter, celoteh Ayah disuatu sore.

Masih segar dalam ingatan saat Ayah mengajak bertemu salah satu tetua suku sawang didesa kami, saya teringat saat beliau membawa sebuah kantong kresek hitam dari belakang rumah panggungnya. Lalu membuka pelan-pelan kresek tersebut. Terdapat potongan-potongan kertas kotak rokok, terdapat tulisan dan tanggal disetiap potongannya.

“Saya suka menulis” begitu kata beliau.

Rupanya beliau adalah salah seorang suku sawang pertama yang bisa baca tulis, walaupun usianya telah senja, beliau tetap dengan tekun menulis diatas lembar-lembar kertas rokok diwaktu senggang. Beliau tidak ingin lupa cara menulis, walau beliau hanya menulis hal yang itu-itu saja; Kisah perayaan Muang Jong.

Catatan tetua suku sawang tentang Muang Jong

Kala itu, sambil ditemani secangkir kopi -beliau menuturkan asal-usul Suku Sawang sampai ke Desa Gantung.

“Kami berasal dari Johor, lalu menyebar ke banyak pulau. Tidak pernah menetap terlalu lama didarat. Saya dulu dilahirkan dilaut, begitu lahir langsung dicelupkan ke laut agar kenal dengan yang memberi kehidupan. Suku sawang, hidup dan mati diberikan oleh laut.” Mata beliau menerawang jauh, pelan-pelan beliau melanjutkan kisahnya. “Sekarang sudah banyak orang sawang yang didarat, ada yang jadi tentara, pedagang, -sudah tidak ada yang berlama-lama dilaut.”

Sawang dalam bahasa aslinya memiliki arti luas, atau suasana yang mencekam. Saat orang laut melihat samudera yang luas dan bergemuruh, keadaan itu yang mereka sebut ‘Sawang’. Orang-orang Sawang adalah mereka yang menghadapi samudera mencekam dilautan luas.

Suku Melayu menjuluki orang-orang Sawang sebagai orang laut, atau terkadang orang sekak. Sekak adalah bunyi saat membuka kimak atau kerang. Kegiatan membuka kerang disebut “menyekak” sehingga orang sekak adalah julukan yang merujuk pada orang-orang yang membuka kerang.

Setiap tahun Suku Sawang melakukan selamatan laut, perayaan ini diadakan sekali setahun untuk setiap “Kampung Laut”. Suku Sawang menetap di Tanjung Pandan dan Gantung, sehingga acara ini diadakan dua kali setiap tahunnya. Satu kali di Tanjung Pandan dan satu kali di Desa Gantung. Muang Jong, terdiri dari kata Muang yang berarti buang, dan Jong yaitu perahu.

Merujuk pada arah mata angin, Muang Jong akan dilakukan di Tanjung Pandan saat angin bertiup keselatan dibulan Agustus, dan dilakukan dibulan Februari saat angin bertiup kebarat di Desa Gantung. Semua itu diperhitungkan agar replika perahu yang berisi persembahan dapat mengarungi lautan.

“Tidak ada tanggal pasti.. tapi (dukun laut) menghindari hari-hari raya besar dan memperhitungkan hari yang baik.”

Prosesi Muang Jong bukan hanya soal “membuang perahu” namun terdapat rangkaian tarian dan drama yang mengiringinya. Perayaan ini adalah salah satu perayaan yang paling ditunggu-tunggu tidak hanya bagi orang Sawang, namun juga seluruh masyarakat Belitung. Suku sawang adalah sebuah antropologi hidup yang begitu nyata. Sayangnya saat ini tidak banyak Suku Sawang yang mengenal asal-usul asli mereka. Bahkan telah jarang yang memakai bahasa Sawang, banyak dari mereka telah berakulturasi dengan kebudayaan melayu. Di kampung laut Desa Gantung, mungkin kurang dari 10 orang yang masih berbicara Bahasa Sawang.

Percakapan kami berakhir dengan seloroh Ayah,

Penyakit yang paling ditakuti orang laut adalah sakit perut.

.

Usut punya usut, memang makanan laut rentan jika tidak dimasak berlama-lama.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang60%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi40%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Indonesia Pelangi Sebelummnya

Indonesia Pelangi

Perairan di Indonesia dengan Kemunculan Lumba-Lumba (Bagian I) Selanjutnya

Perairan di Indonesia dengan Kemunculan Lumba-Lumba (Bagian I)

Teya Tiana
@teyatiana

Teya Tiana

Seorang Melayu yang tumbuh dipulau Dewata, menempuh pendidikan dinegeri Laskar Pelangi dan mengejar mimpi dinegeri Ngayogyakarta. Bercita-cita menerbitkan artikel setiap minggu untuk mengurangi pesimisme akan diversitas Indonesia -singkatnya ingin menjadi salah satu staff GNFI kalau-kalau ada kesempatan. . Salam kenal :).

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.