Suatu hari pada abad ke-15, seorang Pangeran dari Demak bernama Ki Ageng Pandanaran datang  menyebarkan  agama Islam di daerah Pragota yang dulu merupakan wilayah Kerajaan Mataram Kuno. Seiring berjalannya waktu, Pragota (yang sekarang lebih dikenal sebagai Bukit Bergota) berubah menjadi daerah yang subur, ditandai dengan banyaknya pepohonan dan rerumputan yang tumbuh lebat. Di sela-sela pepohonan dan rerumputan yang lebat itu, tumbuhlah pohon Asam yang jaraknya saling berjauhan (jarang). Oleh Ki Ageng Pandanaran, daerah tersebut diberi nama Semarang yang berasal dari kata Asem (pohon asam) dan Arang (jarang).

Itulah sedikit cerita mengenai asal usul Kota Semarang yang kini menjadi Ibukota Provinsi Jawa Tengah. Kota yang berjuluk Kota Lunpia ini telah menjadi saksi bisu perubahan zaman, mulai dari zaman kerajaan Hindu-Buddha, zaman Kerajaan Islam, zaman kolonial Belanda, hingga zaman penjajahan Jepang. Tak hanya itu, Semarang juga menjadi saksi bisu betapa besarnya nyali pemuda Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan yang kita kenal sebagai ‘Peristiwa Pertempuran Lima Hari’. Keberanian para pemuda Semarang tersebut diabadikan menjadi sebuah tugu bernama Tugu Muda. 

Semarang : Tumbuh Namun Tak Lupa Diri

Kota Semarang kini tumbuh menjadi salah satu kota metropolitan Indonesia. Bahkan, seperti yang dilansir dari portal berita detik.com, Kota Semarang merupakan penyangga utama ekonomi Jawa Tengah. Dalam keterangan tertulis dari Pemerintah Kota Semarang, pada 2015 tercatat Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) Jawa Tengah sebesar 5,4 dan berada jauh di bawah Kota Semarang dengan LPE 5,79. Sedangkan pada 2016 LPE Jawa Tengah turun menjadi 5,28, sedangkan Kota Semarang naik menjadi 5,8. Predikat ini tak lantas menjadikan Kota Semarang lupa akan jati dirinya sebagai kota yang multikultur

Pencakar langit Kota Semarang
Pencakar langit Kota Semarang (wikipedia)

Lunpia, Kuliner yang Jadi Identitas Semarang

Sebuah kota tidak dapat dilepaskan dari kuliner khasnya. Kuliner juga menjadi salah satu unsur penyusun sebuah kebudayaan kota. Konon, Lunpia Semarang adalah hasil akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Seorang pemuda Tionghoa yang berjualan lunpia berisi daging babi, jatuh hati pada wanita Jawa penjual lunpia berisi udang dan rebung. Mereka lalu menikah dan terciptalah sebuah kuliner baru dengan rasa lintas budaya. Isi lunpia kemudian diganti dengan udang, rebung, ayam, dan telur. Lunpia inilah yang kemudian kita kenal sebagai makanan khas Semarang sehingga kota ini dijuluki sebagai 'Kota Lunpia'. 

Warak Ngendog, Wujud Akulturasi 3 Budaya.

Kota Semarang memang cukup unik karena masyarakat kota ini tersusun atas tiga etnis utama, yakni Etnis Jawa, Etnis Arab (Timur Tengah), dan Etnis Tionghoa. Ketiga etnis ini hidup rukun berdampingan hingga sekarang dan menciptakan akulturasi yang menjadi ciri khas Semarang. Salah satu hasil akulturasi ini adalah adanya mahluk rekaan yang menggambarkan tiga etnis tersebut. Masyarakat Semarang menyebut mahluk ini sebagai Warak Ngendog. Warak Ngendog digambarkan sebagai mahluk yang memiliki kepala menyerupai naga, memiliki empat kaki seperti kambing, dan badan yang menyerupai unta. Kepala yang menyerupai naga melambangkan Etnis Tionghoa, kaki yang menyerupai kambing melambangkan Etnis Jawa, dan tubuhnya yang  menyerupai unta melambangkan Etnis Arab. Warak Ngendog banyak memberikan sebuah gambaran akan peleburan berbagai etnis yang dahulunya merupakan pendatang yang melebur menjadi Semarang.

Patung Warak Ngendog di Taman Pandanaran
Patung Warak Ngendog di Taman Pandanaran © Akhmad Sadewa

Raden Pandanaran memperkenalkan Warak Ngendog pertama kali kepada warga Semarang kuno kala itu. Dan sejak saat itu, Warak Ngendog terus dijadikan salah satu maskot Kota Semarang.Warak Ngendog biasanya diarak dalam festival Dugderan, yakni festival untuk menyambut bulan Ramadan. Bahkan untuk mengukuhkan Warak Ngendog sebagai simbol toleransi antaretnis dan agama, Pemerintah Kota Semarang membangun sebuah taman dengan patung Warak Ngendog di tengah-tengahnya. Taman ini diberi nama Taman Pandanaran karena letaknya berada di tepi salah satu jalan protokol Semarang, yakni Jalan Pandanaran. Figur Warak Ngendog juga dapat kita temukan di logo branding pariwisata Semarang.

Sepercik Keharmonisan di Semarang

Bicara tentang keberagaman tentu tidak lepas dari peran agama. Tidak hanya beragam dari segi etnis, Kota Semarang juga beragam dari segi agama yang dianut masyarakatnya. Jika menilik ke belakang,  keberagaman agama di Semarang tak lepas dari peran bangsa asing yang masuk ke Semarang. Semarang juga dipenuhi oleh bangunan keagamaan yang mengandung nilai historis tinggi. Mulai dari masjid hingga klenteng, Semarang menawarkan paket wisata religi yang tidak biasa.

Semarang memiliki Masjid Layur di Kawasan Kota Lama, yang merupakan saksi bisu penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh pedagang Melayu yang singgah di Semarang. Keunikan bentuk bangunan dan nilai historis yang tinggi membuat masjid ini beberapa kali dijadikan lokasi syuting film, sebut saja Gie (2005) dan Tanda Tanya (2011). Kemudian ada Gereja Blenduk yang merupakan gereja protestan tertua di Jawa Tengah yang masih kokoh berdiri hingga sekarang. Gereja bergaya baroque ini menjadi ikon utama Kota Lama Semarang. Ada pula Gereja Katedral Semarang yang menjadi pusat penyebaran agama Katolik di Semarang.

Vihara Buddhagaya Watugong
Vihara Buddhagaya Watugong © Akhmad Sadewa

Etnis Tionghioa merupakan etnis penyusun utama demografi di Semarang, maka tak heran di kota ini banyak ditemui vihara dan kelenteng dengan langgam Tionghoa. Bukan sekadar kelenteng biasa, kelenteng-kelenteng di Semarang memiliki cerita tersendiri. Sebut saja Kelenteng Sam Po Kong di Simongan yang merupakan petilasan dari Laksamana Muslim Tiongkok bernama Cheng Ho. Meskipun beragama Muslim, Laksamana Cheng Ho dianggap sebagai orang yang dihormati oleh kaum Tionghoa Semarang. Bahkan, di dalam kelenteng ini terdapat arca Cheng Ho berlapis emas yang digunakan sebagai media sembahyang untuk memohon keselamatan dan rezeki.  Ada pula Kelenteng Tay Kak Sie yang berada di Kawasan Pecinan Semarang. Kelenteng ini merupakan kelenteng terbesar di Semarang dalam hal pemujaan terhadap dewa dan dewi. Begeser dari kawasan Pecinan, kita akan menemukan vihara bergaya Tionghoa bernama Vihara Buddhagaya Watugong di Kecamatan Banyumanik. Di dalam vihara ini, berdiri gagah sebuah Pagoda Avalokitesvara setinggi 45 meter yang dipersembahkan untuk Dewi Kwan Im Po Sat (Dewi Welas Asih). Luar biasanya, pagoda ini dinobatkan sebagai pagoda tertinggi di Indonesia sampai saat ini. 

Kota dengan Beragam Festival Budaya dan Agama

Pawai Ogoh-Ogoh (sumber : https://siary.files.wordpress.com)
Pawai Ogoh-Ogoh (sumber : https://siary.files.wordpress.com)

Tak hanya lewat bangunan kegamaan, keharmonisan ragam budaya Semarang juga ditunjukkan dengan beragamnya festival dan karmaval yang diselenggarakan di kota ini. Selain Dugderan yang jadi agenda wajib, di Semarang juga digelar Karnaval Paskah guna menyambut hari raya umat nasrani, yakni Paskah. Karnaval ini sudah empat kali diselenggarakan sejak tahun 2013. Ada pula Pasar Imlek Semawis yang digelar di Pecinan Semarang setiap tahunnya. Event ini merupakan agenda tahunan yang digelar guna menyambut Tahun Baru Imlek. Tak ketinggalan, ada pula festival Arak-arakan Sam Po yang dipusatkan di Kelenteng Agung Sam Po Kong. Acara ini bertujuan untuk memperingati kedatangan Laksamana Cheng Ho ke Semarang. Acara sakral ini dipusatkan di dua kelenteng besar, yakni Kelenteng Tay Kak Sie dan Sam Po Kong. Tak hanya budaya Tionghoa, acara ini juga menampilkan kebudayaan khas Jawa. Acara bernapaskan agama Siwa juga tak luput terselenggara di Kota Semarang. Setiap tahunnya, digelar Pawai Ogoh-ogoh untuk menyambut Hari Raya Nyepi. Banyaknya festival dan karnaval lintas budaya di Semarang menunjukkan bahwa Semarang adalah kota multietnis milik semua golongan.

Semarang, menjadi saksi bisu bagaimana perbedaan dapat melebur menjadi sebuah persatuan yang harmonis. Perputaran roda zaman tak lantas mengubah wajah Semarang menjadi sebuah kota yang lupa akan jati dirinya. Ibarat taman bunga, Semarang adalah taman bunga yang indah karena diisi oleh bermacam bunga yang berwarna-warni. Penulis merasa bersyukur bisa mengenyam pendidikan di kota yang  harmonis ini. Dan Semarang hanyalah satu contoh nyata bagaimana Bhinneka menjaga keutuhan bangsa dari dulu, kini, dan selamanya.


Sumber :

Merdeka.com

Website Resmi Pemkot Semarang

Detik.com 

Ada 1 komentar

Ayo ikutan juga