Cerita Dibalik Daun Kesum, Yang Wajib Pada Menu Bubur Pedas

Cerita Dibalik Daun Kesum, Yang Wajib Pada Menu Bubur Pedas

Daun Kesum © satujam.com

Suku Melayu Sambas di Kalimantan Barat, punya unggulan kuliner yang harus dicicipi para wisatawan. Inilah Bubur Pedas Sambas, dahulu bubur pedas ini disajikan di kerajaan, dan merupakan cerminan budaya yang kental di kerajaan Melayu Deli. Kata 'pedas' tersebut bukan berarti rasa pedas, melainkan sebutan terhadap campuran bahan sayuran atau tanaman yang digunakan untuk membuat bubur ini. Negeri Sambas kaya akan peninggalan budaya yang diwariskan oleh leluhurnya, mulai dari adat istiadat, bangunan sejarah, rumah lanting, pakaian adat, hingga peninggalan kuliner khasnya yang masih bisa ditemukan hingga sekarang. Salah satu kuliner Sambas yang terkenal adalah Bubur Pedas, sekaligus menjadi makanan khas Kalimantan Barat. Bubur pedas ini ternyata tidak hanya ada di Sambas namun juga Singkawang, Bengkayang, Mempawah, dan Pontianak, dan menjadi salah satu menu andalan bagi masyarakat Melayu.

Bubur pedas terbuat dari beras yang ditumbuk halus dioseng dan kaya akan rempah serta sayuran, tidak heran jika bubur ini dinilai penuh gizi. Sayuran seperti kangkung, pakis, daun kesum menjadi campuran yang menyehatkan. Belum lagi paduan gorengan kacang tanah plus ikan teri yang digoreng kering menambah citarasa.

Bubur Pedas (© 3.bp.blogspot.com)
Bubur Pedas (© 3.bp.blogspot.com)

Salah satu bahan dasar dalam pembuatan Bubur Pedas Sambas adalah Daun Kesum. Daun Kesum (daun laksa) adalah sejenis tumbuhan yang banyak terdapat di ASEAN. Nama saintifiknya Persicaria odorata. Terdapat bagian pokok Daun Kesum yang boleh diambil untuk dijadikan makanan. Daun Kesum sering diambil dan dijadikan bahan masakan yang sungguh menyelerakan. Masyarakat Singapura dan Malaysia biasanya menggunakan daun ini sebagai salah satu bumbu wajib masakan laksa. Aroma harum dan cita rasa pedas daun kesum sangat khas dan dapat mengurangi aroma amis pada olahan ikan, ayam atau daging. Tak terkecuali oleh masyarakat Melayu Sambas.

Daun kesum merupakan bahan wajib untuk membuat Bubur Pedas yang membuat bubur ini menjadi sangat lezat dan berbeda dengan masakan lainnya. Penggunaan daun kesum untuk bubur pedas diiris tipis bersamaan dengan daun kunyit sehingga masakan bertambah harum dan sedap. Namun taukah anda bahwa ada cerita dibalik makanan khas satu ini.

Cerita yang di kutip dari situs Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat (mabmonline.org) yang di tulis oleh Sabhan Rasyid, yang didapat melalui wawancara dengan seorang informan yang berdomisili di Desa Tumuk Manggis Kecamatan Sambas, adalah Pak Muin Ikram selaku tokoh Melayu yang juga pengurus MABM Kabupaten Sambas yang aktif di bagian penelitian dan pelestarian kebudayaan.

Alkisah pada zaman dahulu hiduplah seorang raja yang sangat kaya memimpin sebuah kerajaan di Negeri Sambas. Sang Raja memiliki banyak pengawal dan pembantu di istana kerajaannya. Suatu hari, Sang Raja jatuh sakit dan harus terbaring di kamarnya. Nafsu makan Sang Raja dengan seketika menurun bahkan menghilang. Semua penduduk istana sangat mengkhawatirkan kesehatan Sang Raja karena tidak memiliki nafsu makan.

Suatu hari, Sang Raja memerintahkan seorang pembantu yang bertugas sebagai juru masak kerajaan untuk membuat makanan untuk dirinya. Pembantu tersebut meracik beras dan sayur-mayur untuk dijadikan makanan dan obat untuk raja. Selesai mengolah semua bahan makanan, pembantu tersebut dengan segera menyerahkan hasil masakannya kepada raja. Tak disangka, raja dengan lahap menyantap racikan makanan dari sang pembantu.

Selesai menghabiskan makanan, Sang Raja menyuruh pengawalnya untuk memanggil pembatu yang telah berhasil membuatkan makanan yang sangat enak untuk raja. Pembantu tersebut kemudian menghadap raja. “Ada apa gerangan raja memanggil saya?” tanya pembantu tersebut. Raja kemudian menanyakan kepada pembantu tersebut tentang sebuah daun yang dirasakan raja sangat khas dan enak saat menyantap masakannya. “Daun apakah yang kau gunakan dalam masakan itu sehingga masakan tersebut bisa mengembalikan nafsu makanku?” tanya raja. Hamba menemukan tanaman tersebut di pekarangan istana ini, tetapi hamba tidak mengetahui apa nama tanaman tersebut,” jawab pembantu.

Kemudian, raja menanyakan nama pembantunya tersebut. “Siapa namamu wahai pembantu?” tanya raja. Nama hamba Kasum, biasa orang-orang memanggil hamba dengan Mak Kasum,” jelas pembantu. Mendengar jawaban tersebut, sang raja kemudian memberi nama daun khas tersebut dengan daun kasum sesuai dengan nama “Mak Kasum” seorang pembantu raja yang telah menggunakan daun ini sebagai bahan makanan untuknya.

Cerita ini mengisahkan tentang suatu kejadian di bumi Sambas tentang hubungan Mak Kassum dengan Bubur Pedas. Pada dasarnya ini merupakan cerita rakyat yang bersifat anoni (pengarangnya tidak dikenal), yang diceritakan secara turun temurun melalui lisan, tujuannya adalah mempertahankan budaya lisan masyarakat Sambas yang berkembang dalam masyarakat pada masa lampau yang menjadi ciri khas setiap etnis yang memiliki kultur budaya beraneka ragam.


Sumber: mabmonline.org | begalinformasi.com

Pilih BanggaBangga36%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang29%
Pilih Tak PeduliTak Peduli7%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi21%
Pilih TerpukauTerpukau7%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tari Saman : Keberagaman Warna-Warni Budaya Indonesia dalam Keseragaman Sebelummnya

Tari Saman : Keberagaman Warna-Warni Budaya Indonesia dalam Keseragaman

Perairan di Indonesia dengan Kemunculan Lumba-Lumba (Bagian I) Selanjutnya

Perairan di Indonesia dengan Kemunculan Lumba-Lumba (Bagian I)

Rizkia Yulianti
@rizkyuliant

Rizkia Yulianti

banyak peran dibalik layar

1 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.