Merah Putih Memanggil Dedikasi TNI

Merah Putih Memanggil Dedikasi TNI
info gambar utama

Ketangkasan prajurit RI tak perlu ditanyakan, berbagai aksi militer berkali-kali menjadi sorotan menarik bagi masyarakat. Pengabdian mereka patut untuk selalu dikenang dan mendapat apresiasi. Indonesia kini punya satu film yang menjadi etalase yang menyuguhkan cerita tentang patriotisme dan dedikasi Tentara Nasional Indonesia dalam menjalankan tugasnya, Merah Putih Memanggil. Dalam film yang diproduksi oleh Puspen TNI, TeBe Silalahi Pictures dan EC Entertainment ini, sejumlah prajurit dan peralatan asli milik TNI turut dilibatkan.

Dari catatan produksi film yang disutradarai oleh Mirwan Santoso, film yang sudah tayang serentak di seluruh jaringan bioskop Tanah Air sejak 5 Oktober 2017 ini, melibatkan sejumlah armada tempur TNI dalam pembuatan Merah Putih Memanggil. Beberapa di antaranya adalah Sukhoi SU-30, KRI Diponegoro, Kapal Selam Nagapasa, dan lainnya. Film yang diresmikan langsung oleh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dibintangi oleh sejumlah aktor dan aktris Tanah Air, seperti Prisia Nasution, Maruli Tampubolon, Verdy Bhawanta, dan Mentari de Marelle.

Peresmian Film Merah Putih Memanggil (© merdeka.com)
info gambar
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bersama pemain Merah Putih Memanggil (© jawapos.com)
info gambar

Kapten Norman (Maruli Tampubolon) membuka gawainya selepas berlatih. Ia melihat sebuah video berita tentang pembajakan kapal pesiar berbendera Indonesia oleh kelompok teroris internasional. Adegan yang merupakan awal kisah film Merah Putih Memanggil. Bertindak sebagai pimpinan teroris adalah artis peran Ariyo Wahab yang memerankan Diego, si bengis. Ia dibantu oleh kaki tangannya yang bernama Lopez (Restu Sinaga). Mereka adalah kelompok teroris yang menduduki negara fiktif Tongo, tetangga Indonesia.

Kelompok mereka berhasil menyandera beberapa awak kapal pesiar yang terdiri dari orang Indonesia dan warga Perancis. Misi mereka adalah meminta uang tebusan kepada negara yang warganya disandera. Jika tak dituruti, mereka tak segan membunuh sandera. Sayangnya aparat Pemerintah Tongo tak berdaya menangani agresifnya kelompok teroris tersebut. Mereka lalu memberikan akses kepada TNI untuk menyelamatkan para sandera.

Selama operasi penyelamatan, bentrokan senjata antara pasukan TNI dengan teroris tak bisa dihindari. Korban jiwa dari kedua belah pihak terus bertumbangan. Norman yang merupakan komandan anti teror Kopassus ditugaskan untuk menyelamatkan sandera. Timnya dibantu oleh pasukan gabungan dari unsur TNI AD, TNI AL, dan TNI AU. Mereka hanya memiliki waktu 48 jam untuk menyelamatkan sandera. Berhasilkah mereka?

Pemain film Merah Putih Memanggil (© 2.bp.blogspot.com)
info gambar

Sutradara Mirwan Suwarso cukup ciamik memadukan para aktor dengan prajurit TNI yang dilibatkan dalam film tersebut. Perbedaan hanya dari segi kemampuan masing-masing. Jika para pemain film fasih berdialog, tentunya berbeda dengan para prajurit TNI sering kali gagap dalam berdialog. Namun, aksi laga prajurit TNI tak usah diragukan. Berkali-kali aksi mereka dapat mengundang decak kagum penonton. Tak jarang, dialog ringan mereka malah begitu jenaka. Film ini digagas dengan tujuan untuk menunjukkan kepada masyarakat dan pihak luar bahwa TNI akan selalu siap melindungi seluruh warga negara Indonesia.


Sumber: dikutip dari berbagai sumber

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini