Opini : Bangsa yang seperti apakah Indonesia sekarang ?

Opini : Bangsa yang seperti apakah Indonesia sekarang ?
info gambar utama

Indonesia, sebuah Negara dengan beragam keunikan dan polemik politik yang tidak ada habisnya. Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 230 juta orang, tidak peduli suku, agama dan pekerjaannya.

Prediksi Indonesia berada pada urutan ke-13 dengan potensi World's 20 Largest Economies in 2030 versi US Department of Agriculture
info gambar

Sejak merdeka, bangsa Indonesia selalu berusaha semaksimal mungkin untuk bergerak maju, untuk tetap bersaing di kancah dunia. Bangsa ini adalah bangsa yang pantang menyerah dan penuh potensi, sesungguhnya. Meski seringkali, tantangannya adalah bangsa ini sendiri. Mengapa demikian ?

Kearifan local, adat-istiadat yang kental, nilai kebersamaan dan gotong royong; adalah sederet gambaran atau sifat dari masyarakat Indonesia. Anda dan saya berada di tengah-tengah kelompok masyarakat yang kaya akan “keberagamannya”. Dan meskipun beragam, kita ini tetap dalam sebuah “harmoni kesatuan”. Hal ini unik dan ajaib.

Negeri ini memiliki peraturan yang sangat dipegang teguh oleh seluruh lapisan warga Indonesia, yakni di dalam UUD 1945 pasal 28E ayat (3) yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”. Kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan sebagian dari hak asasi manusia. Dan karenanya, negeri ini juga mengalami krisis yang saya beri nama self-nation communication crisis. Mari kita singkat menjadi ‘sncc’ dalam opini ini.

Sncc, disebabkan oleh banyak factor dan berpengaruh besar dalam menggiring opini sebagian besar masyarakat Indonesia. Sebut saja beberapa kejadian 4 tahun belakang yang telah dilalui Indonesia, mulai dari pemilihan calon presiden, pembunuhan dan mutilasi sadis di beberapa pulau, hukuman mati pengedar narkoba, pemilihan gubernur Jakarta, pencemaran nama baik tokoh public, pedofilia, hingga kasus korupsi terbesar E-KTP dan sederet kasus lain; tidak pernah lepas dari yang namanya aksi demonstrasi.

Aksi demonstrasi tidak melulu buruk. Tergantung tujuan dan pelaksanaanya saat di lapangan. Namun perlu diketahui, ini adalah hasil dari kebebasan berpendapat di atas. Dan dampaknya yang mampu menggiring opini sebagian besar bangsa ini. Karena setelah aksi demo dilakukan, tekanan kepentingan akan sampai di kalangan politisi dan pembuat kebijakan pemerintah. Kemudian, setelah aksi dan reaksi dari masyarakat ini sendiri, timbullah sederet kebijakan baru yang akan sangat berpengaruh pada kehidupan negri ini di masa depan.

Selain krisis, jika dipandang dari sudut lain, ini menjadi kekuatan juga. Tergantung tujuan dan pelaksanaannya saat di lapangan.

Inilah tantangan yang dimaksud tadi, yang harus mampu kita jadikan batu loncatan bagi diri sendiri. Bagi negara sendiri. Karena ketika bicara masa depan, kita harus mengusahakan di masa sekarang. Meski sebagian kelompok masyarakat ini mampu melihat peluang untuk mendorong Indonesia menjadi lebih baik, masih ada sebagian kelompok lainnya, yang harus mendorong dirinya sendiri untuk mampu melihat peluang.

Self-nation communication crisis adalah istilah yang saya pakai untuk mengingatkan kita, bahwa krisis komunikasi tidak akan berhenti jika kita tetap sibuk dengan diri sendiri. Jika kita tidak berhenti untuk mengkritik, bukannya membangun. Sebab bangsa ini tidak bisa dengan sendirinya berubah, kita terkoneksi satu sama lain, dalam harmoni kesatuan Bhineka Tunggal Ika.

Pertumbuhan ekonomi, sistem pengelolaan sumber daya, pendidikan, politik dan bidang lain harus terus mengalami peningkatan. Demi terwujudnya Indonesia Masa Depan, Indonesia yang mampu memberi kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakatnya.

Indonesia, sebuah Negara dengan beragam keunikan dan polemik politik yang tidak ada habisnya. Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 230 juta orang, tidak peduli suku, agama dan pekerjaannya. Dan akan selalu menjadi rumah, bagi semua orang-orang berprestasi dan mereka yang mau membangun negeri ini, demi Indonesia Masa Depan.



Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini