Ketika pertama kali tiba di kota Surabaya, saya terpukau dengan luasnya kota ini. Di minggu kedua saya di kota ini, saya belum banyak menjelajah ke berbagai tempat. Tapi yang pasti, rencana mau ke destinasi mana pun, saya sudah tahu harus mengandalkan aplikasi peta dan aplikasi ojek online.

Saya bertanya-tanya, bagaimana kota Surabaya di 28 tahun mendatang? Sejak merdeka 72 tahun, maka 28 tahun lagi Indonesia akan merayakan hari jadinya yang ke-100. Dan bukan hanya kota Surabaya saja, kota-kota lainnya dengan destinasi menarik pun pasti sudah memiliki system yang dapat membawa para turis local maupun manca negara mengelilingi tempat pariwisata di kota tersebut.

Saya melihat potensi yang ada di kota-kota besar Indonesia. Zaman sekarang, tepatnya 4 tahun terakhir ini, kita sudah mengenal berbagai system transportasi berbasis online. Kini, akses transportasi dipermudah dan warga menjadi lebih nyaman dan praktis dalam melakukan aktivitas keluar . Ojek motor online, taxi online, sewa mobil online, sewa penginapan online, belanja online, semua berbasis online. Maka di 28 tahun mendatang, bisa jadi, kota Surabaya akan lebih mudah di eksplore.

Namun seringkali yang membuat kendala adalah jalur transportasi. Indonesia sendiri saat ini sedang mengembangkan transportasi yang serba cepat dengan teknologi terkini. Dan terbersit dibenak saya, mengapa tidak dengan membangun penyewaan sepeda?

Baiklah, mari kita intip sejenak negara maju seperti Kanada, Cina, Amerika, Barcelona, Meksiko dan London. Kota-kota ini menyediakan akses transportasi yang mudah di kota utama yang memiliki destinasi menarik disekitar kota. Bagaimana bila system ini juga diterapkan di Indonesia?

Mengingat banyak sekali tempat bagus untuk di kunjungi di Indonesia, menyewa sepeda adalah pilihan transportasi ringan dan bebas polusi. Kegiatan bersepeda pun sebenarnya banyak peminatnya. Dan bila benar berhasil diterapkan, ini menjadi gaya hidup baru bagi masyarakat yang tinggal di kota.

Pada 2016 lalu, Walikota Bandung, Ridwan Kamil pernah mengusung wacana tentang penyewaan sepeda. Seperti yang dilansir di tempo.co, Ridwan Kamil berencana membuat program layanan transportasi bike sharing. Tujuannya, supaya wisatawan di Kota Bandung bisa berkeliling kota dengan sepeda yang disewa di outlet-outlet yang sudah ada sekarang. "Untuk bike sharing, tahun ini saya minta lelang 1.000 sepeda di kawasan turis," kata Ridwan Kamil di Bandung, Rabu, 17 Februari 2016.

Program bike sharing sebenarnya sudah sempat berjalan. Namun, karena pengelolaannya diserahkan kepada komunitas, program ini terbengkalai, sebab ternyata sepi peminat. Dalam konsep bike sharing yang baru, pengelolaannya akan dilelangkan ke swasta dengan sistem bagi keuntungan. "Komunitas itu bukan perusahaan. Akibatnya, mengelola sesukarelanya. Pada saat sukarela, ada naik-turunnya. Nah, makanya sekarang kita lelang profesional. Nanti pengelolanya dilelangkan," ujar Ridwan Kamil.

Dan pada Juli 2017 lalu, program penyewaan sepeda ini berhasil diwujudkan dan beroperasi di 30 stasiun atau docking sepeda di Kota Bandung.

penampakan stasiun bike sharing di Bandung | foto dari kompas.com
penampakan stasiun bike sharing di Bandung | foto dari kompas.com

Bike sharing, menurut Ridwan Kamil, mengadopsi beberapa negara maju di benua Eropa dan Amerika. Bahkan Cina juga telah menerapkan sistem penyewaan sepeda untuk turis.

Menyinggung soal bike sharing, program penyewaan sepeda di Eropa sudah bukan lagi bisnis baru. Justru semakin tahun program ini semakin berkembang dengan meningkatkan teknologi canggih lainnya.

capital bike share di London
capital bike share di London
mesin atau corner tempat register data diri dan menyewa sepeda | foto dari Mobility Lab
mesin atau corner tempat register data diri dan menyewa sepeda | foto dari Mobility Lab

Bagaimana system ini bekerja di luar negeri?

Perusahaan swasta di luar negeri akan menyediakan yang namanya bike spot atau docking bicycle yang berarti stasiun tempat penyewaan sepeda di banyak tempat yang berbeda. Kemudian, di bike spot terdapat sebuah mesin seperti mesin ATM yang membantu warga atau wisatawan memilih waktu penyewaan. Untuk pembayaran dan pendaftaran anggota, dapat dilakukan dengan kartu ATM.

Sepeda yang disewakan pun bukan sepeda biasa, namun diproduksi dengan teknologi sehingga sepeda ini dapat menghitung berapa lama penyewaan. Di Jerman, untuk mengetahui ketepatan pengembalian dapat dilihat dari tempat penguncian sepedanya.

Jangan khawatir mengenai spot pengembalian sepeda, karena perusahaan telah membekali program penyewaan ini dalam bentuk aplikasi dismartphone untuk memudahkan warga mulai dari cara penyewaan, peraturan sewa (bisa harian, bulanan hingga tahunan), harga sewa, lokasi stasiun dan denda jika telat mengembalikan sepeda.

Di Amerika, spot penyewaan sepeda diisi oleh tenaga surya, sehingga ada panel surya disetiap stasiun sepedanya.

peta dalam aplikasi yang membantu penggunanya menemukan lokasi stasiun pengembalian sepeda
peta dalam aplikasi yang membantu penggunanya menemukan lokasi stasiun pengembalian sepeda

Dari penjelasan system di atas, saya membayangkan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogja, Bali dan kota lain jika menerapkan penyewaan sepeda. Tentu akan sangat memudahkan bagi warga dan wisatawan untuk berjalan-jalan dan menelusuri sudut kota.

Maka kesimpulannya, sepeda menjadi pilihan transportasi masa depan yang menjanjikan bagi Indonesia. Semoga cepat terwujud dan salam Indonesia Masa Depan.


Sumber:  voaindonesia | tempo.co | kompas.com | youtube 

Bagaimana menurutmu kawan?

Berikan komentarmu