Ada Tiga Nama Asal Indonesia Dalam Nominasi Asia-Pasific Screen Awards 2017

Ada Tiga Nama Asal Indonesia Dalam Nominasi Asia-Pasific Screen Awards 2017

Adegan film "Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak" ©APSA 2017

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Apresiasi dunia internasional terhadap karya film, kualitas akting hingga kerja keras sineas tanah air semakin meningkat. Sepanjang tahun 2017 ini, cukup banyak film Indonesia yang tayang di berbagai festival film internasional dan mendapat pujian dari para penonton dunia, media internasional dan sineas handal dari berbagai negara. Kali ini, decak kagum itu makin menjadi lewat ajang Asia – Pasific Screen Awards (APSA) 2017. Tidak tanggung – tanggung, ada tiga nama asal Indonesia dalam nominasi yakni Best Performance by an Actress (Aktris terbaik), Best Youth Feature Film (Film Remaja terbaik) dan Achievement in Directing (Penghargaan Sutradara terbaik). Tiga nominasi tersebut masing – masing diisi dengan nama yang berbeda.

Nominasi aktris terbaik menempatkan nama Cut Mini lewat peran apiknya dalam film Athirah. Menjadi tooh utama dalam film tersebut, Cut Mini sukses membawakan peran sosok Athirah dalam film yang diangkat dari kisah hidup ibunda Wakil Presiden Jusuf Kalla ini. Masuk dalam nominasi aktris terbaik sebuah ajang penghargaan internasional bukanlah yang pertama kali bagi Cut Mini. Sebelumnya, Cut Mini pernah meraih penghargaan sebagai aktris terbaik dalam ajang the 36th Brussel's International Independent Film Festival lewat perannya dalam film Laskar Pelangi. Kali ini, dalam APSA 2017, Cut Mini bersanding dengan aktris – aktris kawakan lainnya seperti Ecem Uzun (Turki), Na Moon-He (Korea), Nata Murvanidze (Georgia) dan Zhou Xun (China).

Cut Mini (kiri) dalam film "Athirah" (APSA 2017)
Cut Mini (kiri) dalam film "Athirah" (APSA 2017)

Sementara itu, nominasi kedua yakni Film Remaja Terbaik menempatkan film The Seen and Unseen karya Kamila Andini bersanding dengan empat film lainnya yang berasal dari yakni The Skier (Iran), Jasper Jones (Australia), Big Big World (Turki), dan The Summer is Gone (China). Masuknya Kamila Andini dan filmnya ini merupakan yang kedua kalinya dalam ajang APSA, setelah pada 2012 yang lalu ia berhasil memenangkan kategori Film Anak – Anak Terbaik lewat karyanya yang berjudul The Mirror Never Dies. Kali ini, The Seen and Unseen yang juga telah melanglang buana ke berbagai festival film internasional dan pulang dengan sejumlah penghargaan akan berusaha untuk melengkapi deretan penghargaannya dengan masuk dalam nominasi APSA 2017.

"Sekala Niskala" adalah judul film ini dalam Bahasa Indonesia (APSA 2017)
"Sekala, Niskala" adalah judul film The Seen and Unseen dalam Bahasa Indonesia (APSA 2017)

Menyusul sang aktris dan film, deretan nominasi untuk penghargaan sutradara terbaik juga menempatkan nama sineas hebat Indonesia dalam deretan. Dialah Mouly Surya, sutradara perempuan yang bertengger di nominasi ini lewat film “Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak.” Nama Mouly bersanding dengan sutradara – sutradara besar seperti Hirokazu Kore-eda (The Third Murder), Ana Urushadze (Scary Mother), Andrey Zvyagintsev (Loveless) dan Sanal Kumar Sasidharan (Sexy Durga). Memang tidak mengherankan, sebab film garapannya yang menceritakan tentang seorang perempuan di tanah Sumba yang berupaya melakukan balas dendam atas kejahatan yang menimpanya ini telah meraih pujian dari publik luar negeri dimana – mana bahkan melenggang mulus ke Cannes Film Festival beberapa waktu lalu.

Mouly Surya, Sutradara Film "Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak" (ytimg.com)
Mouly Surya, Sutradara Film "Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak" (ytimg.com)

Sebagai ajang penghargaan tertinggi dunia perfilman di regional Asia – Pasifik, masuknya para sineas dan karya mereka dalam nominasi APSA merupakan sebuah bentuk apresiasi yang perlu diacungi jempol. Hal ini membuktikan bahwa karya – karya anak negeri telah mampu memukau mata dunia, dan mampu bersanding sebagai salah satu yang terbaik di regional ini. Bukan tidak mungkin, kita berharap kedepannya perfilman Indonesia bisa menjadi kiblat perfilman Asia – Pasifik, bahkan dunia.

Puncak penghargaan APSA 2017 akan diselenggarakan pada 23 November 2017, bertempat di Brisbane Convention and Exhibition Centre (BECC), Australia. Mari kita mendukung para perwakilan Indonesia agar meraih penghargaan yang terbaik dalam ajang tersebut.


*GNFI

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga71%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang10%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi5%
Pilih TerpukauTerpukau14%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Banyuwangi Terpilih Jadi Tuan Rumah Acara Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2017 Sebelummnya

Banyuwangi Terpilih Jadi Tuan Rumah Acara Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2017

Mitologi Mak Lampir, Si Jelita yang Menjadi Buruk Rupa Karena Memburu Cinta Selanjutnya

Mitologi Mak Lampir, Si Jelita yang Menjadi Buruk Rupa Karena Memburu Cinta

Thomas Benmetan
@thomasbenmetan

Thomas Benmetan

http://benmetan.blogspot.com

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.