Peluang Besar Memanfaatkan Kurangnya Suplai Tenaga Ahli Bidang IT di Indonesia

Peluang Besar Memanfaatkan Kurangnya Suplai Tenaga Ahli Bidang IT di Indonesia
info gambar utama
Indonesia yang digadang-gadang akan menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi digital terbesar di dunia rupanya masih membutuhkan banyak tenaga ahli di bidang komputer, teknologi informasi dan bidang-bidang digital lainnya. Setidaknya Indonesia membutuhkan lebih dari 7.000 ahli teknologi informatika (IT).
Sebagaimana diberitakan ANTARA pada tahun 2015, pemerintah Republik Indonesia terus berusaha untuk menggalakkan sertifikasi profesi ahli IT. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengungkapkan bahwa pihaknya akan terus mendorong pendidikan dibidang ini. "Enggak usah programmer lah, coding yang logic itu loh, itu saja kita kurang. Oleh karena itu kita harus cari," jelas Darmin.
Kebutuhan terhadap tenaga ahli bidang IT di Indonesia sejatinya cukup terbantu dengan komposisi populasi masyarakat Indonesia yang didominasi oleh generasi muda. Bahkan generasi muda tersebut merupakan generasi yang melek teknologi. Karena interaksinya yang dekat dengan dunia digital itulah kemudian, generasi muda Indonesia akan mudah dikenalkan dengan bidang IT.
Kekurangan tenaga ahli IT di Indonesia rasanya sudah sangat mendesak. Sebab beberapa perusahaan digital di Indonesia terus menerus bermunculan dan tumbuh sangat pesat. Akibat pesatnya pertumbuhan tersebut perusahaan semakin banyak memerlukan tenaga ahli.
Sebut saja perusahaan Unicorn pertama di Indonesia, GO-JEK yang harus membentuk tim litbang di negara India. Langkah ini diklaim berkaitan dengan negara asal investor Sequia Capital yang juga berasal dari India. Namun telah jamak diketahui bahwa tenaga ahli bidang IT negara India dalam beberapa tahun terakhir dipercaya merupakan tenaga ahli yang berkualitas. Walaupun Direktur Bandung & Jogja Digital Valley, Dibya Pradana berdalih sumber daya IT di Indonesia banyak. "Buktinya Apple dan Grab mau membangun pusat litbang di sini (Indonesia)," kata Dibya pada Tirto.
Data platform rekrutmen tenaga kerja Hired Today Mei lalu menjelaskan bahwa setiap bulannya dicari 1.000 tenaga ahli IT untuk perusahaan-perusahaan di Indonesia. Tren ini bisa jadi terus meningkat mengingat digitalisasi di Indonesia semakin tumbuh pesat. Alhasil, tren ini mulai menempatkan profesi terkait IT menjadi profesi yang paling menjanjikan di tahun 2017.
Berdasarkan data yang dilansir LinkedIn awal tahun 2017, setidaknya terdapat 5 profesi terkait IT dari 20 profesi yang dianggap menjanjikan. Profesi tersebut adalah Site Reliability Engineer, Technical Program Manager, Data Engineer, Scrum Master dan Software Engineer.
Dengan kebutuhan ahli IT yang terbilang cukup sedikit, beberapa perusahaan baik plat merah maupun swasta akhirnya berusaha untuk menciptakan ekosistem belajar dengan caranya masing-masing. Ajang kompetisi seperti hackathon, kelas koding, komunitas koding, ataupun forum-forum belajar pemrograman bermunculan di Indonesia.
Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan kemampuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Referensi dan video-video tutorial bersebaran untuk memberikan panduan belajar dan latihan. Sehingga seharusnya kualitas ahli IT di Indonesia mampu untuk terus meningkat dan bersaing dengan ahli IT dari negara lain. Maka tidak mustahil bila Indonesia akan mampu untuk memanfaatkan potensi ekonomi digital yang diprediksi mencapai 130 milyar dolar beberapa tahun mendatang.
Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kawan melihat kurangnya tenaga ahli bidang IT di Indonesia sebagai permasalahan atau malah menjadi peluang?


Sumber:

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini