Mengeksiskan Budaya Arakan Pengantin Melayu

Mengeksiskan Budaya Arakan Pengantin Melayu
info gambar utama

Festival Arakan Pengantin 2017 sukses digelar. Setiap even ini dilaksanakan, selalu mendapat perhatian masyarakat serta wisatawan. Ribuan warga memadati lokasi kegiatan.

Ruas Jalan Ahmad Yani yang menjadi kawasan Car Free Day sontak meriah dengan iring-iringan pengantin yang diarak oleh masing-masing rombongan. Pasangan pengantin itu bukanlah pengantin sungguhan, melainkan peserta Festival Arakan Pengantin Melayu yang digelar menyambut HUT Kota Pontianak ke-246.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Festival ini, kali pertama digelar tahun 2011 dalam rakaian Hari Jadi Kota Pontianak yang diperingati setiap 23 Oktober. Tahun ini, delapan kelompok peserta arak-arakan pengantin dilepas langsung Wali Kota Pontianak, Sutarmidji dan Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono dari halaman Museum Negeri Provinsi Kalbar pada 15 Oktober lalu.

Dalam satu rombongan terdapat 30 hingga 40 orang partisipan. Mereka terdiri dari tujuh hingga sembilan pemusik tanjidor, kombinasi musik tabuh dan tiup, serta dilengkapi serombongan pemain musik tar dengan rebananya. Rombongan lain berupa anggota keluarga, handai taulan, yang membawakan berbagai hantaran seperti mas kawin, perabot rumah tangga, pakaian, serta perlengkapan salat dan mandi.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Keindahan busana, barang antaran dan musik yang mengiringi menjadi tontonan menarik. Tak hanya dibikin beragam bentuk, beberapa barang antaran sudah jarang ditemui pada arakan pengantin sesungguhnya. Seperti rumah jebah, dan pokok pacar. Bahkan dalam lomba ini, ada peserta yang menjadikan kue kancing sebagai hiasan rumah jebah. Kue kancing sempat populer di era 90-an.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar

Salah seorang juri, Slamet Joesoef Alkadrie menyatakan, yang sangat penting dalam penilaian arakan pengantin ada tiga unsur, yakni tempat sirih, bokor uang asap dan mahar berupa perhiasan atau cincin kawin.

Bank Kalbar berhasil menjadi juara pertama, disusul Kecamatan Pontianak Utara juara kedua, dan Pontianak Timur juara ketiga. Sedangkan Pengantin Favorit diraih Kecamatan Pontianak Selatan dan Hantaran Favorit Pontianak Barat.

Festival arak-arakan pengantin ini bukan hanya mementingkan lombanya semata, tetapi lebih kepada melestarikan kreasi pengantin Melayu Pontianak. Menumbuhkembangkan apresiasi masyarakat, terutama generasi muda, sehingga budaya ini eksis kembali dan terus berinovasi agar selaras dengan perkembangan zaman.

Keterangan Gambar (© Pemilik Gambar)
info gambar


Sumber: antarakalbar.com | pontianakpost.co.id

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini